Pidato & Transkrip

Globalisasi yang Inklusif dan Berkesinambungan

10 Oktober 2007


Robert B. Zoellick, Presiden Kelompok Bank Dunia The National Press Club, Washington D.C.

Sesuai yang Dipersiapkan untuk Penyampaian

Setelah menjabat sebagai Presiden Kelompok Bank Dunia selama 100 hari, saya ingin membagikan kesan pertama dan gagasan saya untuk arah yang strategis.

Saya sangat menghargai dorongan dan dukungan yang saya terima dari banyak pihak.  Saya merasa bahwa masyarakat di seluruh dunia - di negara berkembang dan negara maju - mengetahui kebutuhan dan potensi dari institusi yang unik ini.  Kelompok Bank Dunia adalah salah satu institusi multilateral terbesar yang didirikan setelah Perang Dunia II.  Enam puluh tahun kemudian, institusi ini harus beradaptasi dengan keadaan yang jauh berbeda di era baru globalisasi.

Staf Kelompok Bank Dunia telah membantu saya mempelajari, dengan menunjukkan karya penting kita di lapangan, dan menawarkan gagasan baru bersamaan dengan kita menetapkan arah ke masa depan.  Dewan pun menawarkan bimbingan pengalaman bersamaan dengan usaha kita untuk mengubah niat baik dan analisis menjadi tindakan produktif.

Wajah Kelompok Bank Dunia

Namun wajah asli Kelompok Bank Dunia bukanlah yang biasanya terlihat di Washington, atau di ruang tamu ibu kota negara-negara pemegang saham utama kita.

Saat saya mengunjungi Provinsi Yen Bai di pegunungan utara Vietnam Agustus lalu, saya bertemu dengan seorang wanita yang saat ini mendapatkan layanan listrik untuk membantu mengolah nasi, memompa air, menjalankan kipas angin, dan menerangi kamar sehingga anak-anaknya dapat belajar di malam hari - karena Bank Dunia membiayai proyek kelistrikan di Vietnam.  Listrik saat ini mempermudah kegiatan harian di lebih dari 90 persen rumah tangga pedesaan di Vietnam.  Sama halnya dengan masyarakat lain, listrik di pedesaan terutama memberdayakan para wanita yang menanggung beban kerja harian.

Di Honduras, Bank Dunia membantu menyelamatkan Taman Nasional Pico Bonito melalui Bio Carbon Fund, yang mendukung para petani yang beralih dari menebang pohon Redondo menjadi menjual bibit dan menanam kembali tumbuhan mudanya.  Seorang petani mengatakan, “Kami bisa tetap memiliki pohon-pohon dan saya bisa mendapatkan uang, lebih banyak daripada sebelumnya.  Kami bahkan bisa memelihara bibitnya.”

Di Nigeria, International Finance Corporation, unit untuk sektor swasta kita, membantu seorang ibu di desa Ovoko untuk mendapatkan pinjaman mikro agar dapat menjadi operator telepon di desa tersebut.  Para penduduk desa tersebut biasanya harus melakukan perjalanan sehari penuh untuk dapat melakukan panggilan telepon.  Saat ini, ibu tersebut membantu para tetangganya untuk berhubungan dengan dunia yang lebih luas, sambil mendapatkan uang untuk membayar uang sekolah anak-anaknya dan perawatan untuk HIV/AIDS yang ia derita.

Jika diberi peluang, masyarakat di mana pun ingin membangun kehidupan yang lebih baik bagi mereka sendiri dan anak-anak mereka.  Dorongan tersebut, jika diberi kesempatan, dapat memberi kontribusi kepada masyarakat global yang sehat dan sejahtera.

Globalisasi yang Inklusif dan Berkesinambungan:  Kebutuhan Globalisasi

Kita hidup di era globalisasi.  Namun gambarannya masih belum jelas.  Sejak akhir Perang Dingin, jumlah pelaku pasar dunia telah meningkat dari satu miliar menjadi empat atau lima miliar - sangat jauh meningkatkan angkatan kerja produktif, membangun pusat-pusat produksi dan layanan baru di seluruh dunia berkembang, mendorong permintaan atas energi dan komoditas, serta menciptakan kemungkinan besar peningkatan konsumsi.  Kumpulan tabungan baru menambah arus modal global yang dialirkan ke peluang investasi yang ditawarkan oleh pasar yang sedang bertumbuh dan perekonomian maju yang sedang mengalami transformasi.  Transfer keterampilan, teknologi, informasi dan pengetahuan aplikasi praktis maju dengan cepat.

Arus perdagangan global meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1990. Perekonomian yang lebih terbuka menurunkan biaya barang dan jasa.  Saat ini semakin banyak negara yang bergantung pada pertumbuhan yang dipicu ekspor.  Walaupun pembelian dari negara maju tetap penting, pola perdagangan baru mencerminkan rantai pasokan regional dan global serta meningkatkan perdagangan “selatan-selatan”.  Hampir 300 juta orang telah keluar dari kelompok masyarakat sangat miskin.

Namun banyak yang kelompok yang tersisa dan ada beberapa kelompok yang semakin jauh tertinggal.  Mereka dapat dianggap sebagai negara, sebagai wilayah dan kelompok dalam negara, atau sebagai perorangan.  Ketertinggalan mereka disebabkan banyak hal - konflik, tata pemerintahan yang buruk dan korupsi, diskriminasi, kurangnya kebutuhan dasar manusia, penyakit, tidak adanya infrastruktur, pengelolaan dan insentif ekonomi yang lemah, kurangnya hak kepemilikan dan penegakan hukum, serta letak geografis dan cuaca.

Kita juga dapat melihat tantangan lingkungan dari ledakan pertumbuhan yang luar biasa ini, di mana sungai-sungai menjadi hitam, langit yang menutupi matahari serta ancaman terhadap kesehatan dan iklim.

Globalisasi menawarkan peluang besar.  Namun, kesenjangan, kemiskinan dan kerusakan lingkungan menciptakan bahaya.  Pihak yang paling menderita adalah pihak yang paling tertinggal - masyarakat asli, para wanita di negara-negara berkembang, masyarakat miskin pedesaan, masyarakat Afrika, dan anak-anak mereka.

Visi Kelompok Bank Dunia adalah memberi kontribusi terhadap globalisasi yang inklusif dan berkesinambungan - mengentaskan kemiskinan, meningkatkan pertumbuhan sambil memperhatikan lingkungan serta menciptakan peluang dan harapan bagi perorangan.

Di tahun 2000, negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan delapan Tujuan Pembangunan Milenium - target yang ambisius untuk mengurangi separuh penduduk miskin, memerangi kelaparan dan penyakit, serta memberikan layanan dasar bagi masyarakat miskin di tahun 2015.  Semua tujuan ini, yang merupakan tujuan kita bersama, dituliskan di pintu gerbang utama kantor pusat kita, yang setiap harinya mengingatkan kita atas apa yang harus kita capai.

Tujuan mencapai pembangunan sosial yang sehat harus digabungkan dengan kebutuhan atas pertumbuhan berkesinambungan, yang didorong oleh sektor swasta, dalam kerangka kerja kebijakan publik yang mendukung.

Pertimbangkan beberapa kebutuhan berikut ini.

Setiap tahun, malaria menyerang sekitar 500 juta penduduk dunia.  Namun kita bisa berusaha mengatasi pembunuh utama anak-anak Afrika ini.  Investasi senilai $3 miliar per tahun dibutuhkan dalam beberapa tahun mendatang untuk menyediakan kelambu, obat-obatan, dan sejumlah insektisida bagi setiap rumah tangga yang rentan terhadap malaria.

International Energy Agency memperkirakan bahwa negara-negara berkembang akan membutuhkan investasi senilai $170 miliar di sektor listrik setiap tahunnya dalam dasawarsa mendatang untuk memenuhi kebutuhan listrik, dengan tambahan $30 miliar per tahun untuk transisi ke campuran energi rendah karbon.

Tambahan senilai $30 miliar per tahun dibutuhkan untuk mencapai Tujuan Milenium dalam menyediakan air minum bagi 1,5 miliar penduduk dan sanitasi bagi 2 miliar penduduk yang kekurangan kebutuhan dasar tersebut, serta dalam meningkatkan kesetaraan jender di negara-negara miskin.

Tambahan lain senilai $130 miliar per tahun dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur transportasi di negara-negara berkembang, termasuk sekitar $10 miliar per tahun bagi terminal kontainer maritim untuk mengakomodasi peluang perdagangan.

Serta untuk menyediakan pendidikan dasar bagi sekitar 80 juta anak putus sekolah, yang merupakan Tujuan Milenium lainnya, negara-negara berpendapatan rendah akan membutuhkan sekitar $7 miliar per tahun.

Bagaimana Kelompok Bank Dunia Dapat Membantu

Tentu saja pemenuhan kebutuhan ini bukan sekadar masalah uang.  Pembiayaan investasi ini pun bukan semata peran Kelompok Bank Dunia.

Tujuan Kelompok Bank Dunia adalah membantu negara-negara untuk membantu diri mereka sendiri dengan menjadi katalis bagi modal dan kebijakan melalui gabungan gagasan dan pengalaman, pembangunan peluang pasar swasta, dan dukungan terhadap tata pemerintahan yang baik serta antikorupsi - yang didorong oleh sumber daya keuangan kita.

Tujuan Kelompok Bank Dunia adalah memajukan gagasan mengenai proyek dan kesepakatan internasional mengenai perdagangan, keuangan, kesehatan, kemiskinan, pendidikan, dan perubahan iklim sehingga mereka dapat menikmati hal tersebut, terutama masyarakat miskin yang mencari peluang baru.

Kita harus mengembangkan batasan pemikiran mengenai kebijakan dan pasar, merintis peluang baru, bukan hanya mendaur ulang peluang yang telah terbukti yang memberi keuntungan finansial moderat.

Saya telah menekankan gagasan di mana Kelompok Bank Dunia harus memberi bukti.  Kita merupakan sebuah institusi tunggal, yang beroperasi melalui afiliasi khusus, seperti halnya lembaga keuangan besar lainnya.  Kita harus memperkuat interaksi dan keefektifan kita sebagai suatu Kelompok.

Kelompok kita memiliki empat bagian utama.  International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) merupakan unit keuangan publik kita, yang menyediakan pinjaman berdasarkan harga pasar, pengelolaan risiko, dan layanan keuangan lain, yang digabungkan dengan pengalaman pembangunan yang mendalam.  International Development Association (IDA) merupakan saluran bantuan yang menyediakan pinjaman tanpa bunga dan hibah ke 81 negara termiskin, serta menyediakan penghapusan utang yang sangat besar.  International Finance Corporation (IFC) merupakan unit sektor swasta kita, yang memberikan investasi modal, pinjaman, dan jaminan, sambil menawarkan saran bagi negara-negara berkembang.  Dan the Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA) yang menyediakan jaminan risiko politik.  Dengan beroperasi bersama, kita dapat memanfaatkan alat-alat ini untuk memastikan bahwa secara keseluruhan kita lebih berarti daripada berjalan sendiri-sendiri.

Semua komponen ini menyediakan pembelajaran dan pengalaman ahli yang mencakup sejumlah disiplin ilmu pembangunan.  Menyampaikan, memperluas, dan menguji pengetahuan ini - bersamaan atau terpisah dari pembiayaan - adalah bagian terpenting karya kita.

Langkah-Langkah Pertama

Dalam dua bulan terakhir, dengan bekerja erat bersama Dewan kita, manajemen Kelompok Bank Dunia telah mulai mengambiil tindakan untuk bergerak maju.  Dengan melakukan hal ini, kita juga memperkuat sinergi antar entitas-entitas ini.

Tahun ini, kita mengisi kembali dana IDA, alat pembiayaan utama Kelompok kita bagi negara-negara termiskin, dan terutama bagi Afrika.  Ini merupakan pengisian ulang ke-15 IDA; di mana setiap pendanaan ulang mencakup tiga tahun ke depan.

Kita telah berdiskusi dengan sekitar 40 negara donor, bersama dengan negara peminjam, mengenai cara menetapkan prioritas, memperkuat kebijakan, dan meningkatkan keefektifan kita dengan negara-negara IDA.  Kemurahan hati para donor ini penting bagi keberhasilan pengisian ulang ini, dan kita terdorong oleh dukungan mereka untuk mendapatkan hasil yang ambisius.

Saya ingin agar semua donor mengetahui - secara konkret - bahwa Kelompok Bank Dunia akan “membuktikan janjinya” sehubungan dengan meningkatkan IDA.

Oleh karena itu, dengan bangga saya umumkan bawa Dewan telah menyetujui bahwa Kelompok Bank Dunia harus membuka jalan dengan memberi kontribusi senilai $3.5 miliar dari dananya sendiri untuk IDA 15.  Ini lebih dari dua kali janji senilai $1.5 miliar yang kita berikan untuk IDA 14 di tahun 2005.  Dengan posisi yang lebih kuat ini, kita akan menantang negara-negara donor untuk memberikan komitmen atas peningkatan yang ambisius dalam jumlah dana untuk membantu negara-negara termiskin, terutama di Afrika serta Asia Selatan dan Timur.  Afrika Selatan telah menetapkan standar yang baik dengan menjanjikan 30 persen peningkatan dalam pendanaan IDA.  Saat ini kita memerlukan negara G-8 dan negara maju lain untuk menerjemahkan deklarasi pertemuan mereka ke dalam jumlah dana yang serius pula.

Tentu saja kontribusi IDA kita tergantung pada pendapatan tahunan IBRD dan IFC, seperti yang didistribusikan oleh Dewan mereka setiap tahun, tapi kita yakin bahwa tujuan yang menantang ini dapat tercapai.  Kami meminta pihak lain untuk meningkatkan komitmen mereka juga.

Kedua, kita berkomitmen terhadap strategi pertumbuhan yang lebih kuat bagi IFC.  IFC memiliki modal yang cukup dan sedang memperkuat investasi sektor swastanya di negara-negara IDA, negara berpendapatan rendah, serta wilayah dan sektor yang membutuhkan di negara berpendapatan menengah.

Ketiga, kita akan mempererat kerja sama antara IDA dan IFC untuk mendorong sektor swasta di negara-negara ini.  Tahun lalu, 37 persen investasi IFC berada di negara-negara IDA, dan kita akan meningkatkan jumlah tersebut.  IFC juga meluncurkan infrastruktur dan dana modal mikro baru bagi negara-negara IDA.  Terlebih lagi, IDA dan IFC dapat melakukan investasi bersama untuk mendukung kemitraan publik-swasta dalam proyek infrastruktur, terutama dalam sektor energi, transportasi, air, pertanian dan pembiayaan mikro.  Proyek-proyek ini dapat mendukung integrasi pasar regional, yang terutama penting bagi negara-negara kecil dan yang berbatasan dengan laut.

Keempat, walaupun IBRD memiliki modal yang cukup, usaha pinjaman kita telah mengecil.  Saat ini, sekitar 70 persen masyarakat miskin berada di India, China, dan negara berpendapatan meenngah yang dilayani oleh IBRD.  Negara-negara ini telah meminta kita untuk tetap terlibat dalam pencarian mereka atas cara terbaik untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka.  Sehingga IBRD harus berkembang, bukannya menyusut.  Tentu saja, seperti yang akan saya bahas, layanan kita kepada negara-negara berpendapatan menengah harus tetap berkembang jauh melebihi pemberian pinjaman.  Namun, struktur penetapan harga, yang mencerminkan penyesuaian yang dibuat tahun 1998, membingungkan klien kita.  Pinjaman IBRD - digabungkan dengan keahlian kebijakan inovatif yang disesuaikan - tetap berharga.  Bauran layanan pemberian pinjaman dan pengetahuan kita penting terutama untuk membantu negara-negara dalam pembangunan sosial mereka serta perluasan energi dan infrastruktur yang ramah lingkungan.

Oleh karena itu, agar dapat memenuhi kebutuhan terbesar negara berkembang dengan lebih baik, saya meminta Dewan untuk menyederhanakan dan memotong harga kita sehingga kita dapat memperluas pemberian pinjaman untuk mendukung pembangunan dan pertumbuhan.  Saya gembira bahwa Dewan telah setuju dalam memperjelas biaya kita dan mengurangi bunga pinjaman kembali ke tingkat sebelum krisis Asia.  Langkah ini dapat membantu kita dalam mempercepat perluasan layanan kita.  Namun kita memiliki banyak hal yang harus dilakukan.  Kita juga harus mengatasi biaya nonkeuangan dalam menjalankan usaha.  Kita berusaha untuk menjadi lebih cepat, lebih baik, dan lebih murah.

Langkah-langkah ini hanyalah sebuah awal.  Langkah-langkah ini menunjukkan jalan, melalui pencapaian konkret, menuju cakrawala yang lebih luas.

Globalisasi yang Inklusif dan Berkesinambungan:  Pendekatan Multilateral

Globalisasi tidak boleh meninggalkan “miliaran penduduk terbawah”.  Penegasan ini didasarkan lebih dari sekadar rasa hormat atas usaha rekan-rekan kita dan melebihi apresiasi di mana kita masing-masing dapat terlahir dalam keadaan yang sama.  Globalisasi yang inklusif juga merupakan masalah minat pribadi.  Kemiskinan menciptakan instabilitas, penyakit, serta kehancuran sumber daya dan lingkungan bersama.  Kemiskinan dapat menyebabkan masyarakat yang rusak yang dapat menjadi tempat lahirnya pihak-pihak yang cenderung merusak dan migrasi yang membahayakan kehidupan.

Globalisasi juga membawa kesenjangan manfaat bagi miliaran penduduk di negara-negara berpendapatan menengah yang mulai mendaki tangga pembangunan sejak akhir Perang Dingin.  Di banyak negara, ketegangan sosial telah melemahkan persatuan politik.  Negara berpendapatan menengah merupakan tempat bagi 60 persen hutan dunia dan 40 persen emisi CO2 global yang berasal dari bahan bakar fosil.  Bersama dengan engara maju yang menghasilkan sebagian besar emisi, negara-negara ini akan menjadi kunci untuk membuat pendekatan global terhadap perubahan iklim.  Negara berpendapatan menengahini harus terus bertumbuh, untuk memberikan pembangunan inklusif, dan mengadopsi kebijakan lingkungan demi kesejahteran yang berkesinambungan.

Pengaruh yang lebih besar dari negara-negara berkembang menciptakan pertanyaan lain:  Apa yang akan menjadi tempat mereka di sistem global yang berubah ini?  Ini bukan sekadar pertanyaan mengenai seberapa besar negara berkembang akan berinteraksi dengan negara maju, tapi juga dengan negara-negara termiskin dan kecil.  Tentu akan ironis jika Kelompok Bank Dunia menarik diri dari negara berpendapatan menengah di saat para pemerintah mulai mengakui perlunya mengintegrasikan negara-negara ini secara efektif dalam hubungan diplomasi dan institusi politik-keamanan:  Mengapa kita tidak mengintegrasikan mereka sebagai mitra dalam institusi ekonomi multilateral?

Dua tahun lalu, saya menyarankan agar China menggunakan keberhasilannya dengan menjadi “pemangku kepentingan yang bertanggung jawab” dalam sistem internasional.  Hal ini, tentu saja, merupakan tantangan bagi negara lain juga, jika kita ingin mencapai globalisasi yang inklusif dan berkesinambungan.  Dengan adanya tanggung jawab, harus ada suara dan perwakilan yang lebih besar pula.  Kita harus mengemukakan agenda untuk memperkuat partisipasi negara berkembang di seluruh karya dan angkatan kerja Kelompok Bank Dunia.

Negara maju juga menghadapi peluang dan tekanan globalisasi.  Masyarakat mengkhawatirkan irama perubahan ini, walaupun banyak generasi muda yang beradaptasi dengan mudah.

Akal sehat masyarakat di negara maju membuat mereka mengakui kenyataan bahwa kesendirian tidak akan menghasilkan keberhasilan.  Kerendahan hati - serta minat pribadi – mendorong mereka untuk mengakui kesalingtergantungan, walaupun mereka memperdebatkan cara terbaik untuk mendapatkannya.

Sebagai perbandingan terhadap skala tantangan global ini, Kelompok Bank Dunia hanyalah institusi yang sederhana.  Namun bersama dengan mitra multilateralnya - Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan khususnya, IMF, WTO, dan bank pembangunan regional – Kelompok Bank Dunia harus memainkan peran penting dalam memajukan globalisasi yang inklusif dan berkesinambungan.  Institusi-institusi multilateral ini telah mengalami banyak tantangan.  Mereka harus menggabungkan pertimbangan dengan hasil yang efektif.  Mereka harus mengatasi kelemahan internal dan mengembangkan kekuatan mereka.  Bersama, kita harus menunjukkan bahwa multilateralisme dapat bekerja dengan lebih efektif - bukan hanya di aula konferensi dan pernyataan resmi - tapi di desa-desa dan kota-kota yang padat, bagi mereka yang paling membutuhkan.

Globalisasi yang inklusif dan berkesinambungan harus dipelihara oleh institusi global.  Kelompok Bank Dunia memiliki sumber daya keuangan yang signifikan; staf yang berpengalaman, berpengetahuan, dan berdedikasi; kemampuan untuk mengumpulkan; staf di lebih dari 100 negara; dan 185 negara anggota.  Dalam kondisi terbaiknya, Kelompok Bank Dunia dapat memobilisasi sumber daya lain - publik dan swasta, keuangan dan manusia - untuk menghasilkan efek demonstrasi dan efek pengganda.  Jika berhasil, Kelompok Bank Dunia akan menjadi katalis bagi dinamika pasar yang mengambil peluang globalisasi, secara inklusif dan berkesinambungan.

Enam Tema Strategis

Apa arah strategis yang harus dikerja Kelompok Bank Dunia?

Hari ini, saya akan menyoroti secara singkat enam tema strategis dalam mendukung pencapaian globalisasi yang inklusif dan berkesinambungan.  Dalam satu minggu, kita akan mengadakan Pertemuan Tahunan Kelompok Bank Dunia dan IMF.  Pada saat itu, saya berharap untuk mendiskusikan enam tema ini secara lebih terperinci dengan para Gubernur Bank Dunia, serta dengan pihak-pihak yang berminat, termasuk organisasi masyarakat sipil, perusahaan dan yayasan.

Pertama, Kelompok Bank Dunia menghadapi tantangan dalam membantu mengatasi kemiskinan dan memicu pertumbuhan berkesinambungan di negara-negara termiskin, terutama di Afrika.  IDA merupakan instrumen pembiayaan utama kita untuk 81 negara termiskin.

Di negara-negara ini, kita harus berfokus secara intensif dengan para mitra kita dalam mencapai Tujuan Pembangunan Milenium.  Kebutuhan dasar ini akan membangun dasar untuk masa depan.

Namun pesan yang saya terima saat mengunjungi Afrika di bulan Juni dan Asia di bulan Agustus adalah bahwa tujuan pembangunan sosial memang diperlukan tapi tidak mencukupi.  Berita baiknya adalah 17 negara Afrika, tempat tinggal 36 persen populasi dunia, mencapai pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 5,5 persen dari tahun 1995 sampai 2005.  Negara-negara ini menginginkan bantuan untuk membangun infrastruktur untuk pertumbuhan yang lebih tinggi - terutama fasilitas energi dan fisik yang dapat mendukung integrasi regional.  Mereka juga ingin agar kita membantu mengembangkan pasar keuangan setempat, termasuk pembiayaan mikro, yang dapat memobilisasi tabungan Afrika demi pertumbuhan Afrika.

Para pemimpin Afrika melihat potensi besar dalam mengembangkan pertanian melalui pertumbuhan produktivitas.  Laporan Pembangunan Dunia terbitan Kelompok Bank Dunia yang segera diluncurkan akan menyoroti bahwa pertumbuhan PDB yang dihasilkan dari pertanian tersebut memberi manfaat bagi masyarakat termiskin sebesar empat kali lebih besar daripada pertumbuhan di sektor lain.  Kita membutuhkan Revolusi Hijau Abad ke21 yang dirancang untuk kebutuhan Afrika yang khusus dan beragam, yang dipicu oleh investasi yang lebih besar dalam riset dan diseminasi teknologi, pengelolaan lahan yang berkesinambungan, rantai pasokan pertanian, irigasi, pinjaman mikro pedesaan, dan kebijakan yang memperkuat peluang pasar sambil membantu mengatasi kerentanan dan ketidakamanan pedesaan.  Semakin banyak negara harus membuka pasar mereka bagi ekspor produk pertanian.

Delapan negara Afrika lain, tempat tinggal 29 persen populasi dunia, memiliki pertumbuhan rata-rata sebesar 7,4 persen dari tahun 1995 sampai 2005 karena sumber daya minyak mereka.  Bagi negara-negara ini dan beberapa negara IDA di wilayah lain, prioritas tantangan pembangunan adalah mendorong kebijakan tata pemerintahan dan antikorupsi yang baik, bersama dengan perluasan kapasitas sektor publik setempat, untuk memastikan bahwa pendapatan sumber daya digunakan untuk membangun masa depan yang berkesinambungan bagi semua warga.

Kedua, kita harus mengatasi masalah khusus negara-negara yang baru keluar dari konflik atau mencoba menghindari keruntuhan.

Saat para visioner di Bretton Woods mencetuskan IBRD lebih dari 60 tahun lalu, huruf “R” di sini merujuk pada rekonstruksi Eropa dan Jepang.  Saat ini, huruf “R” tersebut mengarahkan kita pada tantangan rekonstruksi di negara-negara yang mengalami konflik modern.

Paul Collier menulis dalam bukunya The Bottom Billion bahwa 73 persen dari miliaran penduduk tersebut tinggal di negara-negara yang mengalami perang saudara.  Sayangnya, konflik ini bukan hanya menciptakan penderitaan luar biasa bagi masyarakat yang terlibat, tapi efek penyebarannya juga mempengaruhi negara tetangga mereka.

Secara jujur, pemahaman kita mengenai cara mengatasi kasus yang menyedihkan ini hanya moderat.  Saya rasa kita harus memiliki pendekatan yang lebih terintegrasi yang melibatkan keamanan, kerangka kerja politik, pembangunan kembali kapasitas setempat dengan dukungan cepat, reintegrasi pengungsi, dan bantuan pembangunan yang lebih fleksibel.  Karya pembangunan Kelompok Bank Dunia di Bosnia, Rwanda, dan Mozambique menunjukkan hal yang dapat dilakukan.  Kemampuan beradaptasi dan pencairan cepat IDA telah terbukti penting di lingkungan pascakonflik, dan kita bekerja bersama donor untuk meningkatkan keefektifan kita.

Saat ini, kita beroperasi di Sudan Selatan, Liberia, Sierra Leone, DRC, Burundi, Pantai Gading, Angola, Timor Leste, Papua Nugini, negara pulau di Pasifik, Afghanistan, dan Haiti, antara lain, sering kali melalui dana perwalian yang disediakan oleh donor dan bersama dengan PBB.  Jika ada kesepakatan perdamaian yang efektif di Darfur, yang didukung oleh pasukan keamanan UN-AU yang kuat, Kelompok Bank Dunia pasti akan membantu.

Ketiga, Kelompok Bank Dunia membutuhkan lebih banyak model usaha yang terdiferensiasi untuk negara berpendapatan menengah.  Negara-negara ini terus menghadapi tantangan pembangunan besar.  Layanan dan infrastruktur sosial kritis tetap kurang terdanai.  Dalam banyak kasus, pertumbuhan ekonomi yang cepat gagal menyediakan peluang bagi masyarakat miskin.  Masalah lingkungan pun akut.  Dan tetap ada potensi berlanjutnya gejolak dalam arus modal ke negara-negara ini - seperti yang disaksikan di tahun 1980 dan 1990-an.

Dengan mengenali tantangan ini, negara anggota berpendapatan menengah kita menginginkan Kelompok Bank Dunia untuk tetap terlibat bersama mereka melalui menu “solusi pembangunan” yang kompetitif.  Namun keterlibatan ini harus mencerminkan peningkatan besar dalam posisi keuangan dan kapasitas institusional mereka dibandingkan dengan dasawarsa sebelumnya.  Mereka menginginkan IBRD, misalnya, untuk menyediakan layanan perbankan yang lebih fleksibel dan dengan harga yang lebih baik, dengan lebih sedikit birokrasi dan waktu penyelesaian yang lebih singkat.  Mereka berpaling ke IFC untuk membantu membangun solusi sektor swasta bagi pasar yang tertinggal dan juga kebutuhan sosial.  Dan mereka pun mengajukan standar kualitas, konsistensi, dan kehematan biaya yang semakin tinggi bagi layanan konsultasi kita.  Secara singkat, mereka menginginkan kinerja, dan itulah yang ingin kita berikan kepada mereka.

Bagi beberapa negara berpendapatan menengah, layanan kita akan semakin meningkat di area pengelolaan risiko dan penerapan pengetahuan global untuk kebutuhan setempat.  Kita dapat memberikan peningkatan kredit, perlindungan nilai, dan saran netral yang akan membantu membangun kapasitas untuk pengelolaan aset.  Kita dapat mendorong pasar modal setempat dengan membantu membangun dana dan indeks obligasi mata uang setempat.  Kita dapat memberikan pembiayaan dalam mata uang setempat untuk membantu menggabungkan pemberian pinjaman kita dengan pengelolaan risiko mata uang.  Untuk mendorong pertumbuhan inklusif dalam negara, kita dapat bekerja bersama pemerintah daerah.  Saat ini kita sedang mengembangkan instrumen keuangan darurat untuk membantu kebutuhan likuiditas darurat saat terjadi goncangan keuangan, serta fasilitas pasar asuransi untuk memperluas ketersediaan dan mengurangi biaya cakupan bagi bencana alam, seperti badai dan gempa bumi.  Sebagian kegiatan ini dapat membawa kita untuk mengeksplorasi cara terbaik untuk menyediakan layanan dan pengetahuan yang dapat dijual, menawarkan pilihan penyampaian dengan atau tanpa pembiayaan bagi negara klien kita.

Keempat, Kelompok Bank Dunia harus memainkan peran yang lebih aktif dalam menumbuhkan barang publik regional dan global yang melampaui batas nasional dan memberi manfaat bagi banyak negara dan masyarakat.  Memastikan agar agenda ini dihubungkan dengan tujuan pembangunan adalah panggilan kita.

Kelompok Bank Dunia telah menunjukkan potensinya dalam membantu mengatasi penyakit menular melalui karya kita mengatasi HIV/AIDS, malaria, flu burung dan pengembangan vaksin.  Kita sedang memeriksa kembali cara-cara untuk memperkuat penghubung antara bantuan dan perdagangan, termasuk melalui proyek keuangan perdagangan inovatif IFC, yang berfokus terutama pada Afrika, yang dalam dua tahun telah mendukung sekitar $2 miliar perdagangan.

Kita sedang bekerja bersama Dewan untuk meningkatkan bantuan kita secara signifikan atas usaha internasional dalam mengatasi perubahan iklim.  Di Pertamuan Tahunan mendatang kita dan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bali Desember nanti, saya berharap dapat merangkum portofolio cara di mana Kelompok Bank Dunia dapat membantu mengintegrasikan kebutuhan pembangunan dan pertumbuhan karbon yang rendah.  Kita harus berfokus terutama pada kepentingan negara berkembang, sehingga kita dapat memenuhi tantangan perubahan iklim tanpa memperlambat pertumbuhan yang akan membantu mengatasi kemiskinan.

Karya kita dalam barang publik regional dan global akan membutuhkan kerja sama erat dengan badan lain yang memiliki keahlian khusus seperti WHO, UNEP, UNODC, dan WTO.  Kita juga harus menentukan keunggulan komparatif Kelompok Bank Dunia untuk memfokuskan sumber daya kita melalui pendekatan terdiferensiasi yang selektif.  Berdasarkan spesialisasi kita dalam karya pembangunan di tingkat nasional, tantangan operasi terpenting kita adalah mendukung negara-negara dalam menentukan cara terbaik mengintegrasikan kebijakan barang publik - serta peluang regional dan global - ke dalam program nasional.  Peluang-peluang ini juga harus menarik wiraswasta dan energi sektor swasta.

Kelima, salah satu tantangan paling besar di masa kita adalah cara mendukung mereka yang mencoba memajukan pembangunan dan peluang di Dunia Arab.  Di masa lalu, daerah ini merupakan pusat perdagangan dan pembelajaran, yang menunjukkan potensi jika kita dapat mengatasi perseteruan dan hambatan terhadap pertumbuhan dan pembangunan sosial.  Tanpa pertumbuhan yang luas, negara-negara ini akan berjuang melawan ketegangan sosial dan sejumlah besar generasi muda yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan.  Laporan Arab Human Development PBB menawarkan penilaian yang berguna.

Saat saya bertugas sebagai Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat, saya bekerja sama dengan para pemimpin dari Maghreb sampai Teluk yang membuka pintu ekonomi dan masyarakat.  Beberapa negara memiliki banyak sumber daya energi dan modal tapi sedikit keanekaragaman ekonomi dan kemampuan untuk menciptakan pekerjaan.  Negara lain mencari cara meningkatkan sekolah, memperkuat adopsi teknologi, dan memperluas lapangan kerja melalui deregulasi usaha dan perdagangan.  Sejumlah negara memperdalam hubungan produktif dengan Asia, melalui lintas investasi, perdagangan, dan pertumbuhan pusat layanan.

Laporan “Doing Business 2008” kita yang baru diluncurkan menunjukkan adanya kemajuan.  Mesir menduduki peringkat pertama dalam peraturan reformasi perekonomian yang mempermudah untuk menjalankan usaha.  Arab Saudi menghapuskan lapisan birokrasi yang pernah membuatnya menjadi tempat tersulit untuk memulai usaha dan juga menghapuskan syarat modal minimum.

Ini merupakan perkembangan yang menggembirakan, tapi masih banyak yang dapat dilakukan.  Globalisasi yang inklusif harus memberikan manfaat bagi semua orang di negara-negara ini.  Bersamaan dengan pemerintah Arab mencoba menyediakan layanan sosial secara efektif bagi semua rakyatnya, kita dapat menawarkan pengalaman komparatif.  Kita dapat membantu dalam menciptakan lingkungan yang ramah bisnis - baik bisnis setempat maupun asing.  Bagi beberapa negara, kita dapat membiayai proyek pembangunan, mengoperasikan dana perwalian, atua memicu perluasan layanan sektor swasta melalui IFC.  Saat ini, kita membantu menyediakan layanan sosial dasar serta mendukung tata pemerintahan yang baik dan pertumbuhan sektor swasta di wilayah Palestina, yang dapat menyediakan fondasi ekonomi bagi harapan jika partai-partai memilih jalur damai.

Yang terakhir, walaupun Kelompok Bank Dunia memiliki beberapa atribut keuangan dan bisnis pembangunan, panggilannya jauh lebih luas.  Ini merupakan institusi pengetahuan dan pembelajaran yang unik dan khusus.  Institusi ini mengumpulkan dan memasok data berharga.  Namun, institusi ini bukanlah universitas - tapi “perwakilan pemikiran” dari pengalaman aplikasi yang akan membantu kita mengatasi lima tema strategis lain.

Kemampuan seperti ini membutuhkan pengakuan dan pemeliharaan khusus.  Namun kita juga harus tetap menantang diri kita sendiri dengan mengajukan pertanyaan:  apa yang dibutuhkan untuk mencapai pembangunan dan pertumbuhan yang inklusif dan berkesinambungan?

Tantangan ini membutuhkan kerendahan hati - dan kejujuran intelektual.  Banyak skema dan impian pembangunan yang gagal.  Ini bukanlah alasan untuk berhenti mencoba.  Ini merupakan alasan untuk berfokus secara terus menerus dan gigih pada hasil dan penilaian keefektifan.   Ini merupakan cara terbaik untuk mendapatkan rasa percaya dan dukungan dari para pemegang saham, pemangku kepentingan, serta klien dan mitra pembangunan kita.

Keenam tema strategis ini memberikan arahan - untuk didiskusikan, disempurnakan dan ditingkatkan.  Untuk mewujudkan gagasan ini, kita harus memahami kebutuhan khusus klien kita.  Kita menyambut nasihat dan bimbingan dari para pemagang saham kita.  Ada kebutuhan besar - dan peluang menarik - bagi Kelompok Bank Dunia saat ini.

Tantangan Internal: Good Governance & Anti-Korupsi
 
Agar sukses, Grup Bank Dunia juga harus menghadapi tantangan–tantangan internalnya. Kita harus menggunakan modal kita secara lebih efektif dan lebih fokus dalam melayani klien. Kita harus mempererat hubungan dengan para organisasi masyarakat sipil dan LSM agar kita dapat banyak belajar dari mereka. Untuk mencerminkan “arsitektur bantuan”, kita harus lebih efektif bekerja sama dengan program-program bantuan nasional, program-program yang fokus pada penyakit, yayasan, LSM dilapangan, dan perusahaan-perusahaan swasta yang ingin berkecimpung dalam pembangunan.
 
Kita harus membantu staf menjadi lebih profesional dan meningkatkan mobilitas internal. Kita membutuhkan kebijakan-kebijakan personalia yang lebih kuat guna  mendukung staff lapangan karena kita tengah mendorong peningkatan desentralisasi. Kita juga membutuhkan suara dan perwakilan pada Dewan dan keberagaman pada tenaga kerja kita.
 
Seperti yang dikemukakan sebuah laporan baru yang dibuat oleh panel pimpinan mantan Ketua Umum Dewan Federal Reserve Paul Volcker, kita juga harus memperbaiki pendekatan kita dalam menangani governance dan korupsi. Panel tersebut memberi sejumlah rekomendasi untuk menyokong pekerjaan para penyelidik internal  dan memastikan bahwa produk mereka digunakan secara tepat. Kita akan bertindaklanjut dengan cepat, menerima masukan, bertukar ide dengan Dewan, dan bergerak menuju perbaikan operasional.
 
Pengalaman saya menunjukan bahwa warga Grup Bank Dunia menyadari pentingnya agenda Governance dan Anti-Korupsi. Mereka bangga menjadi bagian dari misi pembangunan, dan ingin menegakkan integritas institusi, dan sadar bahwa yang paling dirugikan dari korupsi adalah rakyat miskin dan tak berdaya. Bersama-sama, kita akan bekerja lebih baik.
 
Grup Bank Dunia juga menawarkan kepemimpinan dengan mengintegrasikan good governance dan kebijakan-kebijakan rule of law dalam agenda pembangunan. Bulan lalu saja, kita bergabung dengan PBB untuk meluncurkan Prakarsa Penarikan Kembali Aset Curian (StAR) agar negara-negara berkembang dan maju dapat bekerja sama untuk memulihkan harta curian hasil korupsi.  Laporan “Doing Business” kita juga menunjukan peraturan dan kebijakan perizinan yang lemah tidak hanya melumpuhkan usahawan, tapi juga membuka peluang untuk berkorupsi.
 
 
Penutupan: Dua Suara
 
Hari ini, saya menawarkan sebuah arah baru bagi Grup Bank Dunia. Untuk lebih memahami esensi kita, saya akan menutup dengan suara dua perempuan.
 
Deramma adalah perempuan dari kelompok self-help pedesaan di negara bagian Andhra Pradesh, India. Dia adalah satu dari 8 juta perempuan yang, dengan bantuan Bank Dunia, berhasil mendirikan kelompok self-help guna menyatukan sumber daya. Bentuk mediasi dan jasa dukungan ini telah berhasil meningkatkan pendapatan hampir 90 persen rumah tangga pedalaman  -- atau sama dengan sekitar 40 juta orang.  Deramma mengatakan, “Hidup kita dulu sangat tergantung pada orang lain.Tapi sekarang kita lebih mandiri, dan bisa mendidik anak-anak kita. Kita sekarang lebih memiliki keyakinan untuk bisa keluar dari jerat kemiskinan.”
 
Dinalva Moura, seorang ibu dari tiga anak, adalah bagian dari program Bolsa Familia di Brasil yang memberi bantuan dana kepada orangtua dari 11 juta keluarga agar anak-anak mereka bisa terus bersekolah dan periksa kesehatan secara rutin. Grup Bank Dunia menawarkan bantuan keuangan dan teknis untuk mendukung prakarsa pemerintah Brasil ini.  Dinlava mengatakan, “Bolsa Familia membantu saya membeli makanan – bahkan terkadang buah-buahan bagi anak-anak saya.  Dan mereka tidak pernah bolos sekolah, karena mereka tahu bahwa keberlangsungan bantuan itu sangat tergantung pada kehadiran mereka di sekolah.
 
Ini adalah suara-suara yang dapat mengisahkan upaya sehari-hari kita untuk menawarkan peluang-peluang baru bagi rakyat miskin.  Dan suara-suara inilah yang mengingatkan Grup Bank Dunia untuk terus bekerja secara dinamis untuk menghubungkan mereka pada orang-orang, ide-ide dan peluang-peluang baru.  Inilah arti dari globalisasi inklusif, berkelanjutan.

 


Api
Api