col-xs-12
col-sm-12
col-md-1
col-lg-1
col-xs-12
col-sm-12
col-md-10
col-lg-10
col-xs-12
col-sm-12
col-md-1
col-lg-1
col-xs-12
col-sm-12
col-md-12
col-lg-12
Komposisi yang mengagumkan - Salah satu destinasi utama di Kepulauan Raja Ampat adalah Pulau Piaynemo. Foto oleh Donny Fernando/National Geographic Indonesia.
col-xs-12
col-sm-12
col-md-3
col-lg-3
col-xs-12
col-sm-12
col-md-7
col-lg-7
  • lp-body-content
  • first-letter

Kampung Mutus adalah kampung nelayan di kepulauan Raja Ampat di bagian Timur Indonesia. Lokasi ini terkenal dengan budi daya ikan lautnya. Seorang keturunan Tionghoa bernama Ateng memulainya pada 1989 untuk mencari tongseng atau kerapu merah.

“Saya punya kakak bertemu dengan Ateng, dia ajak ke Kampung Mutus. Kebetulan tongseng di sini banyak. Akhirnya kampung ini disebut kampung nelayan. Karena bisa rawat ikan-ikan yang ditangkap di keramba-keramba penampung,” kata Markus Dimara, Kepala Adat Kampung Mutus.

“Nelayan sekarang, keluar pagi dengan dua puluh liter bensin paling banyak dapat sepuluh ekor, bahkan ada yang dua ekor. Karena hasil laut semakin waktu semakin berkurang. Karena cara penangkapan yang tidak teratur di masa lalu,” ucapnya.

Sektor perikanan memiliki peran penting dalam perekonomian Raja Ampat dan juga Indonesia. [tweetquote:[tweetText=Pada 2019, sektor perikanan memberikan kontribusi sebesar 27 miliar dolar AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menyediakan 7 juta lapangan pekerjaan, dan menyediakan lebih dari 50% kebutuhan protein hewani di Indonesia. ,tweetData=BankDunia,tweetHash=]]

[tweetquote:[tweetText=Mangrove melindungi kawasan pesisisr Indonesia dari banjir dan tsunami. Perlindungan yang diberikan oleh mangrove ini bernilai setidaknya 639 juta dolar AS per tahun.,tweetData=BankDunia,tweetHash=]]

Tantangan masih berdatangan, yang mempengaruhi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada laut. Penangkapan ikan secara berlebihan telah mengurangi pasokan ikan, sepertiga terumbu karangnya berada dalam keadaan terdegradasi, sampah laut meningkat, dan separuh area mangrovenya tidak sehat.

Namun, dalam segara biru di Timur Indonesia, peluang bumi masih ada dan warga masih bisa sejahtera.


Melindungi ekosistem laut dan pesisir adalah kunci bagi kesejahteraan Indonesia

Awaludin Noer Ahmad, atau akrab disapa Wawan Mangile, koordinator program untuk wilayah Kepala Burung Papua di Yayasan Konservasi Nusantara menyatakan bahwa ketika pandemi muncul, ada banyak celah untuk bertahan di Raja Ampat.

“Masyarakat tahu ada pandemi, tapi tidak takut lapar. Itu salah satu indikasi bahwa memang mereka percaya bahwa konservasi adalah jalan nyata. Jika sektor wisata mati total, pasti kita sengsara. Tapi masyarakat kampung di Raja Ampat bilang kami masih punya ikan, sagu, dan kasbi. Yang kami tidak punya hanya uang,” ujarnya.

Menurut Wawan, kearifan di Raja Ampat telah lama mengandung nilai konservasi. Salah satu contohnya adalah sasi, yang bertujuan untuk mengatur kelestarian sumber daya alam. Khususnya di laut, biota tidak boleh ditangkap pada kurun waktu tertentu, sebelum dipanen secara bersamaan. Tradisi ini menjaga agar biota bisa berkembang biak dan tidak punah.

“Misalnya saat sasi mereka ambil teripang ada ukuran yang dibatasi, tidak diambil semua. Kemudian mereka butuh waktu 5-6 tahun untuk buka lagi,” kata Wawan. “Ketika dibatasi, mereka bisa buka tiap tahun. Mereka juga tidak ambil lobster yang punya telur. Sehingga populasi teripang dan lobster terjaga.”

Kearifan ini dapat diterapkan di wilayah lain di Nusantara. Laporan baru Bank Dunia yang berjudul Laut untuk Kesejahteraan juga menyebutkan bahwa Pemerintah dapat memberikan hak panen kepada masyarakat tertentu di pesisir, atau kepada perusahaan, dalam jumlah dan batas tangkapan tertentu. Prinsip berbasis hak ini dapat mendorong pengelolaan yang lebih baik dan meningkatkan produktivitas perikanan.


Mendorong pariwisata berkelanjutan dan mengurangi sampah plastik

https://delivery-p136806-e1377785.adobeaemcloud.com/adobe/assets/urn:aaid:aem:357e86e1-4256-402e-9b22-5ac3c6f1d31e/as/Indonesia-ocean-story--2-.jpeg
Upaya konservasi – Warga Yensawai Barat, Raja Ampat, menyiapkan bibit mangrove untuk ditanam.  Mangrove melindungi pesisir dari gelombang tinggi dan abrasi. Perlu kegiatan konservasi yang lebih kuat agar deforestasi mangrove dapat dihentikan, misalnya perluasan moratorium alih fungsi hutan primer hingga meliputi seluruh ekosistem mangrove. Foto: Donny Fernando/National Geographic Indonesia.

Pemandangan laut Raja Ampat dan kehidupan bawah laut yang mempesona menjadikan pariwisata sebagai salah satu kontributor utama ekonomi lokal. Ini juga berarti pandemi COVID-19 sangat berdampak pada pariwisata di Raja Ampat, khususnya bagi pemilik dive center atau homestay kecil. Sekalipun ada wisatawan, mereka lebih memilih resort — penginapan berfasilitas mewah. Arborek Dive Shop milik Githa Anasthasia dan Marsel Mambrasar saja selama pandemi baru kedatangan 15 tamu.

“Orang lebih suka menginap di resort yang proper ketimbang tinggal dengan masyarakat lokal, walaupun tidak seratus persen,” ucap Githa.

Meski jumlah kedatangan turis turun drastis, pandemi memberi banyak pelajaran bagi Marsel dan Githa, terkait makna pariwisata yang berkelanjutan. Mereka bisa bertahan dengan mata pencaharian lain, seperti berkebun atau mengolah ikan laut menjadi produk ikan asin.

“Itu yang harus kita pelajari dari pariwisata berkelanjutan, sekalipun tanpa wisatawan,” pungkas Githa.

Meski jumlah wisatawan menurun di Raja Ampat, pencemaran sampah plastik masih terus terjadi. Menurut Marsel, sumbernya tak lepas dari Sorong, kota terbesar di Papua Barat, dan Waisai, kota kecil di bagian selatan Pulau Waigeo di Kepulauan Raja Ampat.

Situasi ini dibenarkan juga oleh Wawan. “Biak sudah menetapkan aturan tidak boleh pake kantong kresek, jadi kembali ke noken,” mengacu pada tas anyaman tradisional yang terbuat dari serat kayu atau daun.

[tweetquote:[tweetText=Pengurangan sampah perlu dilakukan mulai dari hulu hingga hilir. Sebagai contoh, di Raja Ampat, selain pembersihan sampah pesisir, perlu juga penanganan sampah di Sorong dan investasi pada fasilitas pengelolaan sampah.,tweetData=BankDunia,tweetHash=]]

Laporan Laut untuk Kesejahteraan menyebutkan bahwa selain inisiatif seperti pembersihan pantai, diperlukan insentif untuk inovasi dan daur ulang plastik, serta strategi untuk mengurangi penggunaan plastik. Selain itu, kegiatan restorasi dan peningkatan infrastruktur desa dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan ketahanan pesisir.


Mendorong ekonomi laut berkelanjutan melalui kolaborasi

Bank Dunia mendukung upaya pemerintah untuk mewujudkan ekonomi laut berkelanjutan – atau strategi ekonomi biru. Strategi ini berfokus pada investasi untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat pesisir dan memulihkan ekosistem kritis, Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang – investasi selama 20 tahun bagi pengelolaan dan penelitian terumbu karang, serta Program Pembangunan Pariwisata Terintegrasi dan Berkelanjutan (P3TB ), yakni sebuah platform untuk perencanaan dan infrastruktur pariwisata yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Bank Dunia juga memberikan dukungan teknis melalui Indonesia Sustainable Oceans Program, melengkapi upaya peningkatan kapasitas dan basis pengetahuan terkait ekonomi biru.

Melalui berbagai upaya di atas dan berbagai kegiatan lainnya, Indonesia dapat mewujudkan ekonomi biru untuk generasi sekarang dan mendatang.

Artikel ini diadaptasi dari artikel majalah National Geographic Indonesia edisi khusus laut, Mei 2021, berjudul “Rencana Tuhan di Raja Ampat”, yang ditulis oleh Fikri Muhammad. Artikel ini ditulis dengan kemitraan antara Bank Dunia dan National Geographic Indonesia. Foto oleh Donny Fernando.

videoType
you-tube
videoUrl
bY5t7U_ktgQ
title
Oceans for Indonesia's Prosperity: Towards a Sustainable Ocean and Blue Economy Strategy
keyFrameImage
https://i.ytimg.com/vi/bY5t7U_ktgQ/sddefault.jpg
description
For Indonesia, oceans are vital for its economy and welfare. With more than 17,500 islands and three-quarters of its territory at sea, oceans are central to Indonesia's prosperity. Yet, Indonesia's marine and coastal ecosystems and their economic value are under threat due to overfishing, degradation of mangroves and coral reefs, and marine debris. A sustainable ocean economy strategy can address these challenges, achieving healthy oceans, resilient coastal livelihoods and a thriving economy. In this video, our partners at the @NatGeo Indonesia journeyed with us to the eastern ends of Indonesia to document the people of Raja Ampat, West Papua who have worked passionately to protect the oceans and empower its communities. More information: https://www.worldbank.org/oceansforprosperity -------------------- Laut sangat penting bagi perekonomian dan kesejahteraan Indonesia. Dengan lebih dari 17.500 pulau dan tiga perempat wilayahnya di laut, laut adalah pusat kemakmuran Indonesia. Namun, ekosistem laut dan pesisir Indonesia dan nilai ekonominya terancam karena penangkapan ikan yang berlebihan, degradasi hutan mangrove dan terumbu karang, serta sampah laut. Strategi ekonomi kelautan yang berkelanjutan dapat mengatasi tantangan ini untuk mencapai laut yang sehat, yang menjadi sumber mata pencaharian pesisir yang tangguh, dan mendukung ekonomi yang berkembang. Dalam video ini, mitra kami National Geographic Indonesia melakukan perjalanan bersama kami ke ujung Timur Indonesia untuk mendokumentasikan kegiatan masyarakat di Raja Ampat, Papua Barat yang telah bekerja dengan penuh semangat untuk melindungi laut dan memberdayakan komunitasnya. Selengkapnya http://ww.worldbank.org/oceansforprosperity -------------------- ABOUT THE WORLD BANK GROUP 🌐 The World Bank Group is one of the world’s largest sources of funding and knowledge for low-income countries. Its five institutions share a commitment to reducing poverty, increasing shared prosperity, and promoting sustainable development. http://www.worldbank.org FOLLOW US ► ► ► YouTube: http://wrld.bg/x4SB50x47Lu Facebook: http://www.facebook.com/worldbank Twitter: http://www.twitter.com/worldbank Instagram: http://www.instagram.com/worldbank LinkedIn: https://www.linkedin.com/company/the-world-bank/ Events: http://live.worldbank.org Immersive Stories: https://www.worldbank.org/en/who-we-are/news/biggerpicture Newsletter: https://www.worldbank.org/en/newsletter-subscription
showTimestampAndTranscript
no
duration
682
lastUploadedDate
2021-06-08T11:00:12Z

TERKAIT

lp-heading-top-medium
lp-heading-bottom-medium
col-xs-12
col-sm-12
col-md-2
col-lg-2
  • lp-body-content
  • first-letter