ARTIKEL

Kisah Urbanisasi Indonesia

14 Juni 2016


Bagi Budi yang tinggal di luar Jakarta, perjalanan 3 jam untuk mencapai tempat kerja hanya salah satu tantangan dari urbanisasi – yang membuat keluarga Budi rentan jatuh miskin.

World Bank Group

  • Indonesia tengah mengalami perubahan bersejarah dan menjadi ekonomi perkotaan. Kota-kota di Indonesia tumbuh rata-rata 4,1% per tahun - laju yang lebih cepat dari kota-kota negara Asia lainnya. Pada tahun 2025, atau kurang dari 10 tahun lagi, diperkirakan 68% penduduk Indonesia adalah warga kota.
  • Indonesia memiliki lahan perkotaan terbesar ketiga di Asia timur, setelah Tiongkok dan Jepang. Antara tahun 2000 hingga 2010, jumlah lahan perkotaan di Indonesia meningkat, dari sekitar 8.900 kilometer persegi menjadi 10.000 kilometer persegi, bertambah 1,1% per tahun - laju pertumbuhan lahan perkotaan tertinggi setelah Tiongkok.
  • Indonesia dapat menerima lebih banyak manfaat dari urbanisasi. Negara-negara lain menikmati pertumbuhan ekonomi lebih tinggi akibat perkembangan kota, berkat bertambahnya pekerjaan formal dan meningkatnya produktivitas. Tiap 1% 1% pertumbuhan urbanisasi berkorelasi dengan peningkatkan PDB per kapita 13% untuk India, 10% untuk Tiongkok, dan 7% untuk Thailand.
  • Indonesia memperoleh hanya 4% pertumbuhan PDB untuk setiap 1% pertumbuhan urbanisasi, karena maraknya kemacetan, polusi, dan risiko bencana akibat investasi infrastruktur yang kurang memadai.
  • Kota-kota di Indonesia tidak melakukan belanja yang cukup untuk infrastruktur dan belanja tidak dilakukan dengan baik. Antara pertengahan hingga akhir tahun 2000, ekonomi Indonesia berkembang rata-rata 5,8%, namun investasi infrastuktur hanya meningkat 3%. Sebaliknya, dalam dekade terakhir, Tiongkok berinvestasi 10% dari PDB untuk pembangunan infrastruktur.
  • Kurangnya investasi infrastruktur mempertajam kerentanan masyarakat terhadap kemiskinan. Saat ini hanya 48% rumahtangga di Indonesia memiliki akses air bersih, dibandingkan 50% pada dekade lalu. Fasilitas saluran air hanya tersedia di 11 dari 98 kota Indonesia. Hanya 2% penduduk kota memiliki akses kepada sistem sanitasi terpusat.
  • Kepadatan penduduk yang tinggi semakin membebani infrastuktur yang sudah ada. Antara tahun 2000 hingga 2010, kepadatan penduduk urban di Indonesia naik pesat, dari 7.400 orang per kilometer persegi menjadi 9.400 orang per kilometer persegi. Jumlah lahan perkotaan baru untuk tiap orang yang tinggal di kota kurang dari 40 meter persegi, ukuran terkecil dari semua negara di kawasan Asia Timur.
  • Tindakan yang dapat dilakukan guna memungkinkan lebih banyak manfaat dari urbanisasi termasuk: memprioritaskan urbanisasi dalam agenda pembangunan nasional dan mengatasi masalah melalui pendekatan komprehensif. Pembiayaan infrastruktur perkotaan bisa menggunakan pilihan domestik yang tersedia. Kemampuan mengelola pemerintah kota perlu ditingkatkan. Menjamin dan mempercepat reformasi kebijakan agar investor lebih mudah melakukan investasi pembangunan infrastruktur.
  • Indonesia Sustainable Urbanization Multi-Donor Trust Fund, atau IDSUN, mendukung upaya Indonesia memperoleh manfaat lebih banyak dari urbanisasi, melalui bantuan teknis dan pendanaan, dan berbagi pengalaman internasional terkait tantangan urbanisasi.

Api
Api