ARTIKEL

Melindungi Ibukota lebih aman dari Banjir

08 Januari 2016


Jakarta sangat rawan terhadap banjir. Seiring dimulainya musim hujan, Pemda Jakarta berharap upaya mengeruk sungai dan rehabilitasi aliran air akan membuat Ibukota akan lebih aman terhadap banjir.

World Bank Group

Intisari Artikel
  • Selama bertahun-tahun, kumpulan sedimen dan infrastruktur masa lalu telah melemahkan kemampuan Jakarta untuk mengatasi banjir.
  • Bank Dunia membantu pemerintahan kota dalam upaya mengeruk sungai dan kanal, serta merehabilitasi pinggir kali dan infrastruktur lain untuk mengurangi banjir.
  • Masyarakat sudah bisa menikmati hasilnya, termasuk sungai yang lebih bersih dan air yang lebih cepat meresap sehabis hujan.

Jakarta, Indonesia, 8 Januari 2016 – Setiap tahun, penjaja makanan Suwadi selalu cemas saat memasuki musim hujan – apalagi banjir yang menyusul.

“Waktu banjir besar tahun 2015 lalu, saya tak bisa bekerja lebih dari satu minggu,” kata Suwadi, yang mendorong gerobak makanannya di sekitar Jakarta Utara. “Rumah saya banjir sampai selutut dan jalanan menuju pasar lebih parah lagi. Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Seperti Suwadi, banyak masyarakat di ibukota Jakarta mengalami rugi besar akibat banjir dari waktu ke waktu. Pada tahun 2013, kerugian ekonomi dan kerusakan yang timbul akibat banjir mencapai Rp7.5 Trilyun, dengan kerugian terbesar dialami para pedagang.

 

Ibukota Yang Rawan Terhadap Banjir

“Jakarta adalah kota yang rawan terhadap banjir,” kata Bambang Surya Putra dari Badan Penanggulangan Bencana Jakarta. “Ada tigabelas sungai besar mengalir melalui Jakarta menuju Laut Jawa,” ia menjelaskan.

Penurunan lahan, ketika ketinggian tanah turun secara bertahap atau tiba-tiba menurun, terus terjadi di ibukota dalam kecepatan yang mencemaskan. Hal ini sedikit banyak disebabkan oleh penyedotan air tanah yang berlebihan. Di sejumlah wilayah di Jakarta Utara, penurunan lahan terjadi di angka 15-25 sentimeter per tahun. Jika angka ini bertahan, wilayah-wilayah ini akan menurun hingga 4-5 meter di bawah permukaan laut pada 2025.

Di samping penurunan lahan ini, terdapat resiko kenaikan air laut akibat perubahan iklim dan meningkatnya frekuensi dan intensitas air hujan. Dalam beberapa dekade terakhir, banjir sebetulnya jarang terjadi; namun dikhawatirkan jumlahnya akan bertambah dan mengakibatkan dampak sosial-ekonomi yang parah.

 

 

Pengerukan dan Rehabilitasi Jalan Air

Untuk mengatasi banjir, pemerintahan kota mencoba mengarahkan air saat musim hujan: air dari wilayah yang tinggi diarahkan menuju timur dan barat Jakarta melalui dua kanal banjir yang berujung di Teluk Jakarta.

Selama bertahun-tahun, debit air telah meningkat, sementara kanal-kanal terhambat oleh sampah. Kanal-kanal dan jalan air ini tidak dirawat dengan baik, sehingga sedimen sungai pun menumpuk. Beberapa jalan air beroperasi hanya sepertiga dari kapasitasnya.

Bank Dunia membantu Pemerintah Jakarta untuk memitigasi resiko banjir dengan melakukan pengerukan di sejumlah jalan air utama dan danau penampung. Proyek yang disebut sebagai Jakarta Urgent Flood Management Project, atau JUFMP ini, juga membantu upaya untuk merehabilitasi pinggir kali dan menyediakan sarana mekanis yang menjadi bagian dari sistem manajemen banjir Jakarta.

Setelah pengerukan dan pengangkatan sedimen, beberapa kanal yang tadinya hanya punya kedalaman 1 meter kini menjadi 4 meter.

“Pengerukan dan penguatan pinggir kali sangat penting karena hal ini akan meningkatkan kapasitas air untuk mengalir. Ini akan mengurangi resiko air yang melampaui permukaan, yang akan merusak aset di sepanjang sungai,” kata Iwan Gunawan, Ahli Senior untuk Resiko Bencana Bank Dunia.

Upaya untuk merehabilitasi sistem manajemen banjir ibukota dikerjakan bersama-sama dengan Pemerintah Jakarta. Proyek Bank Dunia meliputi upaya pengerukan di 11 jalan air atau kanal, dengan total mencapai 67.5 kilometer dan empat danau penampung (retention basins) yang mencakup area sebesar 65 hektar. Sekitar 42 kilometer pinggir kali akan direhabilitasi atau dikonstruksi dengan penghubung dengan jalan air dan danau penampung ini..

Proyek ini, yang kini mencapai tahun ke-dua beroperasi, telah memberi dampak. Pada tahun 2007, ada lebih dari 200 wilayah terkena banjir. Pada 2015, jumlah itu telah berkurang signifikan ke angka 130, menurut Badan Penanggulangan Bencana Jakarta.

Masyarakat telah menikmati hasil dari upaya pengerukan dan rehabilitasi yang dilakukan sejak 2013 ini.

“Setelah pengerukan, air surut lebih cepat setelah hujan,” kata Eti, seorang ibu yang dua anaknya jatuh sakit ketika banjir besar tahun 2015. “Sungainya juga lebih bersih. Tidak banyak lagi sampah bertebaran, jadi tidak terlalu bau. Tetangga dan saya sering jalan-jalan di pinggir sungai sambil mengawasi anak-anak bermain.”

Ketika musim hujan berlanjut, banyak orang berharap upaya-upaya ini akan membuat Jakarta lebih aman, walau tidak bisa sepenuhnya bebas banjir. 


" Setelah pengerukan, air surut lebih cepat setelah hujan. Sungainya juga lebih bersih. Tidak banyak lagi sampah bertebaran, jadi tidak terlalu bau.  "

Eti

Warga Jakarta

“Banjir pasti masih ada, tapi tidak akan seburuk sebelumnya,” kata Suwadi.

Di lokasi-lokasi proyek Bank Dunia, semua upaya dilakukan untuk meminimalisir jumlah orang yang terkena dampak banjir. Rencana pengambilalihan lahan dan pemukiman kembali (Land acquisition and resettlement) telah disiapkan, tentunya dengan berkonsultasi dengan masyarakat.

Kerjasama erat Bank Dunia dan Badan Penanggulangan Bencana, dengan dukungan Global Facility for Disaster Reduction and Recovery, juga telah memperbaiki upaya mitigasi resiko bencana. Sistem koordinasi yang lebih baik telah ditempatkan demi memastikan sumberdaya yang diperlukan hadir pada waktunya. Sebagai contoh, selama musim hujan, pemerintah kota menyiapkan pekerja di semua kecamatan untuk bergerak cepat membantu area yang rawan banjir, seperti membersihkan saluran-saluran air.

Surya Putra dari Badan Penanggulangan Bencana mengatakan bahwa alokasi sumberdaya pekerja di lapangan telah melengkapi perbaikan-perbaikan yang sudah dilakukan pada infrastruktur fisik – hal ini menunjukkan bahwa proyek pengerukan sungai telah memberi hasil positif. Menurut Surya Putra tentang perubahan perilaku ini: “Dulu kami hanya merespon setelah bencana. Kini kami lebih pro-aktif.” 


Api
Api