ARTIKEL

Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini di Desa-desa di Indonesia: Landasan Kokoh, Hari Esok Cerah

03 September 2013



PESAN UTAMA
  • Pada tahun 2008, Pemerintah Indonesia, Bank Dunia dan Pemerintah Belanda bekerjasama menjalankan program untuk memperluas layanan anak usia dini di 3.000 desa.
  • Sebuah kajian Bank Dunia mengevaluasi dampak program tersebut menggunakan sampel 6.000 anak di 310 desa yang terlibat.
  • Kajian menunjukkan bahwa layanan pendidikan dan pengembangan anak usia dini membawa manfaat bagi mereka yang paling memerlukan – sebuah bukti yang kuat.

Jakarta, INDONESIA - Bagaimana anak-anak yang tinggal di pedesaan bisa memperoleh manfaat dari layanan anak usia dini? Sebuah studi Bank Dunia menjelaskan bagaimana strategi berbasis masyarakat yang invoatif membawa hasil yang mejanjikan bagi anak-anak.

Studi mengenai pendidikan dan pengembangan anak usia dini (PPAUD) ini menganalisa dampak program pemerintah Indonesia untuk meningkatkan layanan anak usia dini di 3.000 desa di 50 kabupaten. Program ini dimulai pemerintah pada tahun 2008, dan didasari karena tiap anak memiliki potensi yang sangat besar, namun kemiskinan dan ketidaksetaraan layanan terus menghambat pertumbuhan anak.

Untuk studi ini Bank Dunia mengumpulkan berbagai informasi mengenai karakteristik lebih dari 6.000 anak dan keluarganya di 310 desa miskin. Data mengenai anak dan keluarga mereka, termasuk dampak layanan anak usia dini melalui sebuah sampel acak dari beberapa desa memberikan masukan bagi siapapun yang tertarik dengan perkembangan anak usia dini.

Temuan studi

Pencapaian dan hambatan bagi anak-anak sebelum layanan anak usia dini dijalankan:

  • Penilaian saat baseline (sebelum program layanan PAUD dijalankan) menunjukkan bahwa anak-anak memiliki sikap mandiri, kerjasama dan perilaku sosial seperti membantu atau peka terhadap orang lain.
  • Penilaian pada saat baseline juga menunjukkan bahwa anak-anak dalam sampel ini mampu berbicara dengan jelas serta mengekspresikan keinginan dan kebutuhan mereka kepada orang lain, bermain penuh daya khayal, bercerita dan menunjukkan pemahaman tentang kehidupan sehari-hari di sekitar mereka.
  • Meskipun sebagain besar anak-anak belum bisa menggambar orang dan rumah dengan rinci pada usia 4 tahun, yang mengisyaratkan terbatasnya perkembangan konseptual dibandingkan anak-anak di banyak negara lain, keterampilan mereka meningkat pesat satu tahun kemudian.
  • Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari temuan baseline: yang paling perlu diperhatikan adalah hampir 25 persen anak usia 5 tahun bertubuh pendek atau memiliki berat badan kurang untuk usia mereka – yang membawa risiko terhadap perkembangan kecerdasan dan fisik di kemudian hari. Pola yang mirip juga terjadi pada anak-anak usia di bawahnya.
  • Para ibu dalam sampel ini tidak menyusui anaknya selama yang disarankan, dan hanya 30 persen ibu yang memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan. Para ibu juga mengatakan bahwa mereka lebih sering memberikan makanan ringan dibandingkan sayuran atau susu.
  • Anak-anak memerlukan keterampilan dasar dalam membaca dan berhitung, namun terlihat jelas bahwa anak-anak dari keluarga miskin dalam sampel masih kurang terampil.
  • Selain terbatasnya program untuk anak usia dini, pengalaman di rumah juga berpengaruh terhadap minimnya keterampilan mereka: Sekitar 17 persen anak usia 4 tahun belum pernah menggambar atau membuat coretan di rumah, dan sekitar 60 persen dari anak keluarga termiskin tumbuh di rumah tanpa buku anak-anak. Bahkan pada kelompok seperlima teratas, hampir 30 persen tidak punya buku.

Intervensi untuk membuat perbedaan

  • Data-data yang terkumpul menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk menyediakan layanan agar perkembangan dan pendidikan anak pada usia dini bisa meningkat. Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Bank Dunia menggunakan sebuah proses partisipatoris untuk memberikan layanan PPAUD di desa-desa miskin di pedesaan yang menjangkau sekitar 500.000 anak.
  • Dibentuknya sebuah sistem pelatihan untuk para widyaswara dan guru, dikombinasi dengan komitmen daerah, standar nasional, dan beberapa instrumen untuk menjaga mutu bertujuan untuk memastikan keberlanjutan dan perluasan program PPAUD untuk jangka panjang.

Dampak

Sebuah evaluasi dampak dengan sistem acak dilakukan, membandingan antara desa-desa yang menerima dan tidak menerima layanan PPAUD, dan menunjukkan hasil yang menggembirakan, bahkan sebelum masa berakhirnya program ini.

Adanya layanan PPAUD di desa-desa sangat membantu meningkatkan jumlah anak yang mendaftar, yang merupakan langkah pertama untuk meningkatkan capaian anak-anak.

Semakin miskin seorang anak, semakin besar manfaat yang ia terima dari layanan PPAUD di desa. Kelompok anak paling miskin menunjukkan kemajuan tertinggi dalam hal bahasa dan kemampuan berpikir, dua hal yang paling lemah saat penilaian baseline dan penting agar anak siap bersekolah.

Dampak positif terlihat lebih besar pada anak perempuan, yang menjadi kelompok dengan risiko tinggi di masyarakat miskin.

Secara keseluruhan, bahkan dalam jangka pendek, layanan PPAUD memberi manfaat terbesar bagi mereka yang memerlukan dan ini merupakan bukti yang kuat.

Pelajaran untuk Kebijakan dan Praktek:

Meskipun ada hasil-hasil yang menjanjikan, untuk beberapa aspek capaian yang dihasilan dinilai masih kurang, karena terbatasnya layanan yang juga tidak optimalnya implementasi program. Beberapa pelajaran untuk masa depan:

  • Intervensi yang berpusat pada keluarga, seperti pendidikan oleh orangtua, atau program kunjungan ke rumah, diperlukan untuk meningkatkan capaian anak, namun layanan seperti ini belum dijalankan dengan baik dalam program PPAUD yang sekarang ada.
  • Layanan PPAUD menyeluruh, yang mencakup layanan kesehatan, pendidikan dan perlindungan sosial diperlukan oleh anak usia 0-6 tahun. Saat ini belum ada sinergi yang kuat antara layanan yang berfokus pada pendidikan, orangtua, kesehatan, dan gizi. Pemerintah Indonesia perlu bergerak ke arah model pendidikan anak usia dini yang holistik dan terintegrasi menggunakan pelajaran dari program ini.
  • Keberlanjutan layanan dan hasil yang telah dicapai akan memerlukan dukungan dalam bentuk kebijakan, sistem, dan sumberdaya. Kemajuan telah dicapai melalui program ini, dan kini upaya dan inovasi lainnya sedang dalam proses baik di tingkat daerah maupun nasional.



Api
Api