ARTIKEL

Memutus Rantai Kemiskinan di Indonesia

20 Agustus 2015


Banyak keluarga miskin tidak mampu memberikan pendidikan dan kesehatan yang baik bagi anak-anak mereka, sehingga mengakibatkan berlanjutnya kemiskinan. Program Keluarga Harapan berupaya membantu keluarga termiskin di Indonesia melalui bantuan uang tunai bersyarat agar masa depan anak-anak mereka lebih cerah.

World Bank Group

PESAN UTAMA
  • Kemiskinan sering diturunkan kepada generasi penerus karena keluarga miskin tidak mampu membiayai pendidikan dan kesehatan yang baik bagi anak-anak mereka.
  • Sebuah program pemerintah berupaya memutus rantai kemiskinan dengan memberikan bantuan uang tunai bersyarat untuk mendukung kebutuhan anak-anak mereka.
  • Program tersebut telah membantu 3 juta keluarga dan meningkatkan kesehatan dan pendidikan anak.

Cirebon, Indonesia, 21 Agustus 2015 – Bagi keluarga sangat miskin, memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan yang layak menjadi sebuah tantangan besar. Tingginya biaya transportasi, peralatan sekolah, dan layanan kesehatan sering terlalu tinggi untuk mereka jangkau.

Ketika anaknya sakit, Nani, ibu dua anak di Cirebon, Jawa Barat, tidak mampu berobat ke dokter.

“Saya hanya bisa membeli obat dari pedagang yang lewat,” kata Nani.

Berkurangnya kehadiran di sekolah karena sakit akan berdampak pada kinerja anak, dan memperkecil peluang untuk lulus, yang akhirnya membuat mereka terjebak dalam sebuah rantai kemiskinan.

Untungnya, kondisi mulai berubah bagi keluarga Nani.

“Dengan bantuan program pemerintah, saya bisa membawa anak saya ke klinik dan mendapat obat. Dua hari, anak saya sudah sembuh,” kata Nani bahagia.


" Dengan bantuan program pemerintah, saya bisa membawa anak saya ke klinik dan mendapat obat. Dua hari, anak saya sudah sembuh "

Nani

Ibu dua anak, Cirebon, Jawa Barat

Program Keluarga Harapan memutus rantai kemiskinan

Keluarga Nani adalah salah satu dari jutaan keluarga miskin di Indonesia yang mendapat manfaat dari Program Keluarga Harapan (PKH) milik pemerintah. Dengan dukungan Bank Dunia, program ini pertama kali diluncurkan oleh Kementerian Sosial pada tahun 2007. Cakupan program saat ini telah menjadi delapan kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2014, program ini membantu sekitar 3 juta keluarga miskin di 33 provinsi.

Keluarga yang bisa mendapat bantuan adalah mereka yang berada dalam kategori pendapatan 10% paling bawah, dan memiliki ibu yang sedang mengandung dan/atau anak yang berumur antara 0 hingga 18 tahun menurut Basis Data Terpadu.

Program tersebut memberikan bantuan uang tunai kepada tiap keluarga dengan nilai antara Rp 800.000 hingga Rp 2,8 juta per tahun yang bergantung pada komposisi keluarga. Rata-rata uang yang diterima adalah Rp 1,8 juta yang setara dengan 15% pengeluaran keluarga miskin tiap tahun. Uang diberikan dengan syarat keluarga menjaga anaknya agar tetap sekolah dan memberikan layanan kesehatan yang diperlukan.

“Saya menggunakan uangnya untuk membeli buku dan seragam sekolah. Dulu, anak saya tidak mau sekolah karena seragamnya sobek dan tidak punya buku. Sekarang saya bisa membelinya, anak saya semangat sekolah lagi,” kata Kurniasih yang anaknya sebentar lagi akan lulus SLTP.

Sekitar 11.000 fasilitator terlibat untuk membantu para keluarga memenuhi syarat yang ditentukan program tersebut.

Siti Fatimah, contohnya, bekerja sebagai fasilitator di tiga desa untuk memeriksa apakah anak-anak yang ia bina hadir di sekolah.

“Kalau mereka tidak sekolah, uang yang diberikan kepada keluarga akan berkurang,” kata Siti mengingatkan.

Tetapi sejauh ini keluarga yang ia bantu mengalami kemajuan.

“Saya melihat ada perubahan perilaku. Keluarga sekarang sadar kalau sekolah penting bagi masa depan anaknya, dan bukan hanya karena ada risiko berkurangnya bantuan.”

Para fasilitator sekarang juga melakukan sesi pengembangan keluarga bagi para ibu. Pertemuan biasanya memberikan modul pelatihan dalam bidang kesehatan dan gizi, pola mengasuh anak, perlindungan anak dan mengelola keuangan keluarga.

“Pelatihan ini membuat ibu-ibu di sini jadi saling menolong. Kami menjadi kelompok kecil yang saling mendukung,” kata Ros, ibu dua anak. “Kita sering mengingatkan untuk membawa anak ke puskesmas atau cara yang baik membantu anak belajar.”

 

Capaian program

Sebuah evaluasi menunjukkan bahwa PKH telah berhasil meningkatkan probabilitas:

  • murid sekolah dasar melanjutkan ke sekolah menengah hingga 8,8%
  • partisipasi di sekolah menengah sebesar 10%.

Selain itu, PKH telah:

  • meningkatkan kunjungan pemeriksaan ibu hamil sebesar 7,1%
  • meningkatkan kemungkinan anak mendapat imunisasi lengkap sebesar 7%
  • mengurangi stunting sebesar 3%.

PKH sekarang juga mengembangkan kelompok usaha bersama untuk membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Contohnya mengelola jahe di Cirebon. PKH memberikan bibit, pelatihan menanam jahe serta mengatur pembelian saat panen.

“Kami sudah mendapat pelatihan bagaimana menanam jahe, dan ternyata mudah. Harapannya, waktu dijual nanti akan menambah pemasukan keluarga,” kata Maimunah dari Kecamatan Dukupuntang.

Kegiatan usaha lain juga sudah dimulai, seperti ternak kambing dan usaha simpan-pinjam untuk membantu para ibu memulai usaha skala kecil.

Menurut Dadang Tresnayadi, Kepala Dinas Sosial Cirebon, semua kegiatan ini tidak bertujuan untuk menciptakan kekayaan bagi para keluarga.

“Setidaknya anak-anak dari keluarga miskin sekarang punya kesempatan lebih baik untuk keluar dari kemiskinan,” ujarnya.

Api
Api