Learn how the World Bank Group is helping countries with COVID-19 (coronavirus). Find Out

ARTIKEL

Indonesia: Komunitas IT ikuti Lomba untuk Tingkatkan Manajemen Bencana

08 Agustus 2014


Jakarta masih terus rawan terhadap bencana seperti banjir dan kebakaran. Global Facility for Disaster Reduction & Recovery Bank Dunia dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta mengadakan perlombaan untuk mengumpulan ide-ide bagaimana teknologi informasi bisa digunakan dalam situasi bencana.

World Bank Group

PESAN UTAMA
  • Ibukota Jakarta saat ini masih sering dilanda bencana alam, seperti banjir.
  • Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta mengadakan lomba untuk menggali potensi teknologi informasi dalam manajemen risiko bencana.
  • Lomba tersebut diharapkan bisa membantu meningkatkan ketahanan kota serta membawa ide baru menggunakan teknologi informasi dalam manajemen bencana.

Ibukota Jakarta saat ini masih sering dilanda becana. Pada puncak banjir tahun 2014, sekitar 132.000 orang terkena dampak langsung. Selain itu, kebakaran masih sering terjadi terutama di musim kemarau.

Jakarta Smart Disaster Management Software Competition’ diharapkan bisa menggali potensi teknologi informasi untuk meningkatkan ketahanan terhadap bencana. Dengan dukungan dari Global Facility for Disaster Reduction & Recovery (GFDRR) Bank Dunia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta mengadakan kompetisi dengan melibatkan peserta yang mencakup mahasiswa, pekerja IT professional, hingga peneliti.

“Penggiat teknologi informasi dan bencana biasanya berada di dua dunia yang berbeda. Kompetisi seperti ini membantu mereka bertemu,” kata Onno. W. Purbo, pakar IT dari Universitas Surya yang sering terlibat dalam penggunaan IT dalam manajemen risiko bencana.

“Akan lebih bermanfaat kalau komunitas IT yang tertarik dalam manajemen bencana bisa mendapat pengalaman langsung di lapangan saat bencana terjadi,” kata Onno yang juga menjadi salah satu juri kompetisi.

Kategori lomba pertama adalah sebuah hackathon, yang bertujuan menambah fungsi INASAFEsoftware open-source yang sekarang dipakai BPBD DKI Jakarta untuk menghasilkan skenario dampak bencana alam untuk membuat perencanaan kesiapsiagaan dan tanggap darurat yang lebih baik.

“Saat ini, software INASAFE lebih digunakan untuk kesiapsiagaan bencana,” kata Iwan Gunawan, Senior Disaster Risk Specialist Bank Dunia di Indonesia. “Saat ini perhitungan kerusakan dan kerugian masih dikerjakan secara manual, dan kita ingin menambahkan fungsi tersebut ke dalam software ini.”

Melalui kompetisi ini, BPBD DKI Jakarta ingin agar proses perhitungan kerusakan dan kerugian bisa dipercepat setelah terjadinya sebuah bencana.

“Setelah banjir pada tahun 2013 di Jakarta, kami memerlukan waktu yang lama untuk menghitung besarnya kerugian,” kata Bambang Suryaputra, Kasie Informatika BPBD DKI Jakarta. “Kami ingin agar data ini bisa diperoleh dengan lebih cepat, dan kami harap kolaborasi dengan komunitas IT bisa membantu.”



" Penggiat teknologi informasi dan bencana biasanya berada di dua dunia yang berbeda. Kompetisi seperti ini membantu mereka bertemu "

Onno W. Purbo

Pakar IT dari Universitas Surya


Hackathon berlangsung selama dua hari penuh, dan peserta harus bermalam di kantor BPBD DKI Jakarta. Meski demikian, banyak peminat yang berpartisipasi termasuk dari luar kota.

“Saya telah bekerja di bidang gas dan minyak selama 14 tahun, dan tertarik menggunakan keterampilan saya di bidang IT dan manajemen data di bidang lain,” kata Ahmad Ruswandi, yang datang dari Balikpapan untuk berpartisipasi.

Kompetisi ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam hal transparansi, dengan memastikan data terbuka untuk masyarakat umum.

“Saya lihat pemerintah sekarang semakin terbuka dan transparan, dan terus melibatkan pengembang aplikasi IT untuk ikut berkontribusi. Saya juga ingin terlibat dalam gerakan ini,” kata Rizky Maulana, software developer yang menjadi pemenang pertama kompetisi hackathon.

Kategori kedua kompetisi bertujuan mengumpulkan berbagai ide bagaimana teknologi informasi bisa digunakan dalam situasi bencana. Para peserta membuat berbagai aplikasi IT untuk manajemen bencana, seperti aplikasi berbasis website, app ponsel, serta inovasi di media sosial.

Salah satu tim yang berpartisipasi membuat apps Android Siaga Banjir,  menjadi pemenang kompetisi Global Code for Resilience. Aplikasi ini memberi informasi terbaru kondisi 14 pintu air di sekitar Jakarta, serta kemungkinan adanya banjir di lokasi spesifik. Informasi yang dihasilkan juga bisa diteruskan melalui media sosial.

“Tingginya minat untuk berpartisipasi dalam kompetisi ini merupakan hal yang positif,” kata Iwan Gunawan. “Semakin tingginya keterlibatan komunitas IT, serta meningkatnya penggunaan internet dan ponsel, akan semakin membantu Indonesia meningkatkan ketahanan terhadap bencana alam. Hal ini akan membantu mengamankan capaian pembangunan selama bertahun-tahun, yang sering bisa hilang akibat satu bencana saja.” 


Api
Api