ARTIKEL

Indonesia dan Afghanistan berbagi pengalaman dalam program pembangunan berbasis komunitas.

13 Juni 2011

PESAN UTAMA
  • Kunjungan merupakan bagian dari kegiatan belajar antar Negara Selatan yang didukung kelompok G20.
  • Saling tukar pengalaman dalam rekonstruksi pasca bencana alam, resolusi konflik, pemberdayaan perempuan, pelatihan fasilitator, dan manajemen sistem informasi.
  • Kunjungan ke Aceh dan NTB menjadi bagian paling bermanfaat bagi delegasi Afghanistan.

Jakarta, 13 Juni 2011 - Pelajaran apa saja yang bisa diberikan PNPM Mandiri Indonesia, program pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat terbesar di dunia, kepada National Solidarity Program (NSP) di Afghanistan, program terbesar kedua di dunia? Apa kemiripan dan tantangan kedua program? Pengalaman apa yang bisa diperoleh dalam hal bantuan, desentralisasi, pemberdayaan perempuan, monitoring proyek?

Pertanyaan-pertanyaan di atas muncul saat delegasi Afghanistan berkunjung pada bulan Mei, untuk mempelajari PNPM dan berbagi pengalaman dengan pihak Indonesia. Kunjungan ini berbeda dengan kunjungan delegasi asing lainnya karena beberapa hal. Pertama, kunjungan dilakukan dalam rangka pertukaran pengetahuan antar Negara Selatan melalui kelompok G20 yang didukung pemerintah Indonesia. Kedua, sejak awal, kunjungan dirancang sebagai proses belajar dua arah untuk jangka waktu yang panjang, dan bukan hanya satu kunjungan untuk memperlihatkan kisah keberhasilan saja.

Kunjungan ini memberi informasi bermanfaat bagi delegasi Afghanistan yang akan meningkatkan program serupa di negara mereka. Contohnya, anggota delegasi yang berkunjung ke Aceh bertemu dengan gubernur dan melihat bagaimana masyarakat mampu dengan cepat pulih dan membangun kembali setelah bencana alam. Delegasi dari Afghanistan juga belajar bagaimana mereka yang dulu terlibat pertempuran di Aceh kembali terintegrasi dengan masyarakat, meski kondisi politis setempat yang kompleks.

Kelompok lain yang berkunjung ke Nusa Tenggara Barat melihat cara kerja perencanaan, penentuan prioritas, dan penerapan siklus kerja PNPM untuk melihat bagian mana yang relevan bagi Afghanistan.

Anggota delegasi juga bertemu dengan fasilitator dan penerima manfaat PEKKA, sebuah program kerjasama PNPM dalam bidang pemberdayaan perempuan, terutama janda, yang berada dalam kondisi rentan. Dialog dengan masyarakat setempat semakin menunjukkan bahwa program pembangunan skala besar tidak selalu bisa memenuhi kebutuhan seluruh anggota masyarakat. Untuk itu, diperlukan program seperti PEKKA yang mendukung masyarakat yang biasanya kurang diperhatikan. Kondisi ini mirip dengan Afghanistan yang memiliki banyak pengungsi dan janda yang bisa menerima manfaatdengan adanya program seperti PEKKA.

Delegasi Afghanistan juga menceritakan pengalaman mereka dalam bidang management information system (MIS), pelaporan, dan pelatihan fasilitator. Semua bidang ini merupakan tantangan utama bagi pemerintah Indonesia karena kualitas pelatihan fasilitator dan MIS cenderung menurun sejak PNPM diperluas sejak tahun 2008. Yang sangat menarik bagi anggota PNPM adalah apa yang dilakukan NSP untuk memperbaiki dan menyederhanakan MIS, serta mengembangkan fasilitator mereka menjadi profesional yang benar-benar dihormati.

Dengan adanya penekanan pada pembelajaran dua arah, selama kunjungan disediakan cukup waktu untuk membahas tantangan dan pelajaran yang diperoleh. As Wais Barmak, Wakil Menteri Rehabilitasi dan Pembangunan Desa Afghanistan mengatakan bahwa, “Kunjungan ini merupakan kesempatan untuk saling berbagi pengalaman dengan program serupa untuk melihat apa yang sebaiknya dijalankan, juga apa yang tidak.”

Rencananya delegasi dari Indonesia akan berkunjung ke Afghanistan sekitar akhir tahun 2011 untuk belajar dari NSP dan melanjutkan proses pertukaran pengetahuan antar Negara Selatan. Slamet Seno Adji, dari Bappenas, mengatakan bahwa, “Adanya fokus pada pertukaran pengalaman dalam program pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu cara untuk mencapai visi saling belajar antar negara.”

Api
Api