ARTIKEL

Pengembangan keterampilan untuk mendukung produktivitas nasional

20 April 2011


PESAN UTAMA
  • Kualitas dan relevansi pendidikan dan pelatihan di Indonesia cenderung kurang, sehingga pekerja kurang memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.
  • Perlu ada persediaan sumberdaya manusia yang berkesinambungan dan tepat waktu untuk mendukung pertumbuhan Indonesia.

Jakarta April 20, 2011 - Keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman yang sesuai bagi pasar tenaga kerja penting untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas. Namun, berhubung sistem pendidikan dan pelatihan di negara-negara Asia Timur, termasuk Indonesia, cenderung lemah dalam hal kualitas dan relevansi keterampilan pekerja kurang memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja. Bagaimana mengidentifikasi dan mengurangi kesenjangan keterampilan, serta meningkatkan kemampuan dan produktivitas  merupakan beberapa topik diskusi dalam Konferensi Pengembangan Keterampilan untuk Produktivitas di Jakarta yang diselenggarakan untuk menanggapi tantangan-tantangan tersebut.

Konferensi tiga hari ini dibuka 21 Maret 2011 dan melibatkan pembuat kebijakan dari sembilan Negara Asia Timur. Peserta yang mencakup pemerintah, kelompok industri, lembaga pendidikan dan pelatihan berusaha mencari cara agar sistem pendidikan dan pelatihan dapat meningkatkan kualitas dan relevansi keterampilan untuk meningkatkan peluang kerja dan produktivitas.

Saat ini isu tersebut sangat penting bagi Indonesia karena seperti dikatakan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, dalam sambutannya, “Indonesia saat ini berada pada saat yang menentukan apakah negara ini akan tumbuh dan berkembang dengan memaksimalkan sumberdaya manusianya atau terus menjadi negara berkembang.” James Adams, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, juga menekankan pentingnya pengembangan keterampilan,“Diperlukan persediaan sumberdaya manusia yang berkesinambungan dan tepat waktu untuk mendukung pertumbuhan Indonesia.”

Tamar Manyuelan Antic, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Jaringan Pengembangan Manusia, memberi presentasi mengenai tren kawasan Asia Timur dan membandingkannya dengan kawasan lain. Ia juga memperkenalkan kerangka kerja STEP dan Bank Dunia untuk mengembangkan keterampilan menggunakan pendekatan siklus kehidupan. Pendekatan ini dimulai saat usia dini seorang anak dan berakhir dengan seseorang yang memiliki informasi tenaga kerja dan keterampilan yang sesuai.

Salah satu upaya Indonesia untuk meningkatkan keterampilan adalah revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK). Tahun 2011, dari237 BLK milik pemerintah yang ada, jumlahnya akan ditingkatkan menjadi 313. Dalam sambutannya Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar,mengatakan bahwa Kementeriannya telah mengusulkan kepada Bappenas dan Kementerian Keuangan untuk dapat mengakses dana fungsi pendidikan. “Revitalisasi Balai Latihan Kerja membutuhkan dana yang besar dan perlu kerjasama lintas Kementerian,” kata Muhaimin.

Di akhir konferensi, delegasi Kambojaa dan Mongolia menyimpulkan bahwa mereka perlu melakukan survei untuk melihat permintaan dari sisi pemberi kerja. Delegasi dari Vietnam dan Laos memutuskan untuk fokus pada kebutuhan sektor informal, dan beralih dengan tidak lagi memikirkan sertifikasi tetapi lebih kepada keterampilan. Sementara delegasi Malaysia dan Thailand sepakat bahwa mereka perlu melakukan upaya lebih untuk  melibatkan pemberi kerja dalam mendefinisikan kompetensi, dan mengkaji kesenjangan keterampilan dengan masukan dari pihak industri. Peserta dari Filipina dan Cina berniat belajar dari pengalaman baik maupun buruk negara lain, dan mempertimbangkan isu mobilitas tenaga kerja dalam perencanaan pengembangan keterampilan mereka.

Presentasi mengenai Kerangka Kerja Kualifikasi Nasional  mengingatkan peserta mengenai pentingnya fokus pada hasil. Presentasi ini juga mengingatkan peserta untuk tidak membuat kerangka kerja yang sekedar meniru apa yang dimiliki pihak atau negara lain , serta pentingnya melakukan evaluasi potensi manfaat sebelum mulai merancang sebuah kerangka kerja.

Peserta delegasi juga belajar bagaimana Singapura dan Malaysia mendukung pengembangan keterampilan melalui kerjasama yang inovatif antara pihak swasta dan pemerintah. Juga bagaimana generasi ‘ni ni’ (tidak memiliki pendidikan atau pekerjaan) di Amerika Selatan diberdayakan melalui program magang selama enam bulan, serta rencana Indonesia untuk merevitalisasi Balai Latihan Kerja.Jakarta April 20, 2011 - Keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman yang sesuai bagi pasar tenaga kerja penting untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas. Namun, berhubung sistem pendidikan dan pelatihan di negara-negara Asia Timur, termasuk Indonesia, cenderung lemah dalam hal kualitas dan relevansi keterampilan pekerja kurang memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja. Bagaimana mengidentifikasi dan mengurangi kesenjangan keterampilan, serta meningkatkan kemampuan dan produktivitas  merupakan beberapa topik diskusi dalam Konferensi Pengembangan Keterampilan untuk Produktivitas di Jakarta yang diselenggarakan untuk menanggapi tantangan-tantangan tersebut.

Konferensi tiga hari ini dibuka 21 Maret 2011 dan melibatkan pembuat kebijakan dari sembilan Negara Asia Timur. Peserta yang mencakup pemerintah, kelompok industri, lembaga pendidikan dan pelatihan berusaha mencari cara agar sistem pendidikan dan pelatihan dapat meningkatkan kualitas dan relevansi keterampilan untuk meningkatkan peluang kerja dan produktivitas.

Saat ini isu tersebut sangat penting bagi Indonesia karena seperti dikatakan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, dalam sambutannya, “Indonesia saat ini berada pada saat yang menentukan apakah negara ini akan tumbuh dan berkembang dengan memaksimalkan sumberdaya manusianya atau terus menjadi negara berkembang.” James Adams, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, juga menekankan pentingnya pengembangan keterampilan,“Diperlukan persediaan sumberdaya manusia yang berkesinambungan dan tepat waktu untuk mendukung pertumbuhan Indonesia.”

Tamar Manyuelan Antic, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Jaringan Pengembangan Manusia, memberi presentasi mengenai tren kawasan Asia Timur dan membandingkannya dengan kawasan lain. Ia juga memperkenalkan kerangka kerja STEP dan Bank Dunia untuk mengembangkan keterampilan menggunakan pendekatan siklus kehidupan. Pendekatan ini dimulai saat usia dini seorang anak dan berakhir dengan seseorang yang memiliki informasi tenaga kerja dan keterampilan yang sesuai.

Salah satu upaya Indonesia untuk meningkatkan keterampilan adalah revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK). Tahun 2011, dari237 BLK milik pemerintah yang ada, jumlahnya akan ditingkatkan menjadi 313. Dalam sambutannya Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar,mengatakan bahwa Kementeriannya telah mengusulkan kepada Bappenas dan Kementerian Keuangan untuk dapat mengakses dana fungsi pendidikan. “Revitalisasi Balai Latihan Kerja membutuhkan dana yang besar dan perlu kerjasama lintas Kementerian,” kata Muhaimin.

Di akhir konferensi, delegasi Kambojaa dan Mongolia menyimpulkan bahwa mereka perlu melakukan survei untuk melihat permintaan dari sisi pemberi kerja. Delegasi dari Vietnam dan Laos memutuskan untuk fokus pada kebutuhan sektor informal, dan beralih dengan tidak lagi memikirkan sertifikasi tetapi lebih kepada keterampilan. Sementara delegasi Malaysia dan Thailand sepakat bahwa mereka perlu melakukan upaya lebih untuk  melibatkan pemberi kerja dalam mendefinisikan kompetensi, dan mengkaji kesenjangan keterampilan dengan masukan dari pihak industri. Peserta dari Filipina dan Cina berniat belajar dari pengalaman baik maupun buruk negara lain, dan mempertimbangkan isu mobilitas tenaga kerja dalam perencanaan pengembangan keterampilan mereka.

Presentasi mengenai Kerangka Kerja Kualifikasi Nasional  mengingatkan peserta mengenai pentingnya fokus pada hasil. Presentasi ini juga mengingatkan peserta untuk tidak membuat kerangka kerja yang sekedar meniru apa yang dimiliki pihak atau negara lain , serta pentingnya melakukan evaluasi potensi manfaat sebelum mulai merancang sebuah kerangka kerja.

Api
Api