Learn how the World Bank Group is helping countries with COVID-19 (coronavirus). Find Out

ARTIKEL

Keberhasilan Indonesia: pelajaran bagi negara berpenghasilan menengah

08 Maret 2011


PESAN UTAMA
  • Keberhasilan Indonesia menjadi negara berpenghasilan menengah membawa banyak pelajaran berharga untuk saling tukar pengetahuan
  • Bank Dunia selain membantu melalui jasa keuangannya, juga memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan membantu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan.
  • Saat ini Indonesia memerlukan seperangkat agenda reformasi tahap berikutnya agar dapat melangkah semakin jauh

Washington, 8 Maret 2011 - Keberhasilan Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah membawa berbagai pelajaran untuk saling tukar pengalaman dengan negara-negara lain. Dengan semangat ini, Bank Dunia menyelenggarakan serangkaian seminar di Washington D.C. untuk mengambil pelajaran dari keberhasilan Indonesia. Rangkaian seminar “Emerging Indonesia” dimulai pada 22 February 2011 dan berlangsung selama dua minggu hingga 3 Maret. Rangkaian acara diakhiri malam kebudayaan dengan pementasan oleh staf Bank Dunia dan komunitas Indonesia di wilyah D.C.

Dalam pidato pembukaannya saat diskusi yang diselenggarakan bersama US-Indonesia Society (USINDO) pada bulan Februari, Sri Mulyani Indrawati, Managing Director Bank Dunia, menekankan pentingnya negara-negara berpenghasilan menengah. Menurut klasifikasi Bank Dunia, sekitar 100 negara masuk dalam kategori ini dan mewakili 69 persen penduduk dunia serta 41 persen hasil ekonomi global. Ia menambahkan, “Bank Dunia bisa memberi dampak bagi negara berpenghasilan menengah seperti Indonesia, selain melalui jasa keuangannya, tetapi juga dengan memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan membantu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan."

Bagaimana Bank Dunia bekerja di Indonesia mungkin tercermin pada salah satu program kerjasama terbesar di Indonesia, yaitu PNPM Mandiri. Program ini bertujuan melakukan pemberdayaan masyarakat dengan memberikan sumberdaya langsung kepada mereka. PNPM Mandiri dirancang agar masyarakat menentukan sendiri prioritas pembangunan serta implementasinya, sambil menjaga akuntabilitas pihak yang berwenang untuk memastikan hasil yang diinginkan. Pada tahun 2008 PNPM Mandiri diimplementasikan di 3.252 desa kemudian berkembang ke 62.937 desa pada tahun 2011.

Sebuah sesi lain menceritakan bagaimana Indonesia sekarang menjadi rujukan regional untuk kegiatan pemulihan pasca bencana dengan berbagai model yang bisa direplikasi secara global. Beberapa model yang bisa dicontoh mencakup perumahan berbasis komunitas, mengarusutamakan pengurangan risiko bencana, serta kasus Aceh yang mengaitkan rekonstruksi dengan program pasca konflik. Melalui kepemimpinan pemerintah dan kerjasama yang luas, Indonesia telah berhasil melakukan tanggapan terhadap sejumlah bencana alam. Namun, sebagai negara rentan bencana, Indonesia akan memberi penekanan pada pencegahan dan persiapan menghadapi bencana.

Sebuah contoh keberhasilan lain Indonesia yang dibahas dalam satu sesi adalah asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin yang dikenal sebagai Jamkesmas. Program ini dibuat untuk meningkatkan akses kesehatan sekaligus memberi perlindungan finansial. Pada tahun 2005 program ini telah mencakup 36,1 juta peserta dan naik pesat menjadi 76,4 juta orang pada tahun 2008. Untuk menjadi peserta program ini masyarakat tidak perlu mendaftar karena mereka yang miskin secara otomatis teridentifikasi dan diberikan kartu peserta. Saat ini Jamkesmas merupakan program asuransi kesehatan terbesar di Indonesia dan merupakan langkah berani pemerintah untuk memberi perlindungan kesehatan universal. Meski cakupannya meningkat secara signifkan, perlu usaha untuk mengurangi kebocoran dengan adanya bantuan yang diterima masyarakat tidak miskin.

Kemajuan ekonomi Indonesia merupakan salah satu faktor yang membuat Indonesia naik menjadi negara berpenghasilan menengah. Namun kemajuan lebih lanjut akan sulit dicapai dengan adanya keterbatasan pada sektor energi. Selain itu, tingginya penggunaan bahan bakar solar dan batubara membawa dampak buruk bagi lingkungan. Dengan dukungan Bank Dunia, Indonesia berencana memenuhi kebutuhan energi dengan mengoptimalkan potensi geotermal melalui proyek yang akan meningkatkan kapasitas geotermal sebesar empat kali lipat. Selain ramah lingkungan, geotermal akan membantu ketahanan energi karena menggunakan sumberdaya yang banyak tersedia secara lokal serta menjaga dari fluktuasi harga bahan bakar fosil.

Dengan kemajuan yang telah yang telah dicapai, saat ini Indonesia memerlukan seperangkat reformasi yang baru agar dapat melangkah semakin jauh. Banyak negara di Asia dan Amerika Selatan yang telah berhasil keluar dari kemiskinan tetapi tidak mampu mempertahankan laju pertumbuhan untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi lagi. Stefan G. Koeberle, Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, mengingkatkan, “Indonesia menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan yang telah dicapai dan Bank Dunia akan membantu agar negara ini memenuhi segala potensi yang dimilikinya.”

Satu isu penting yang perlu ditangani Indonesia adalah lemahnya institusi yang terlibat dalam pembuatan kebijakan serta implementasinya meskipun iklim demokrasi sudah berkembang. Untuk membantu mengatasi rintangan ini, Bank Dunia akan terus membantu pemerintah menjalankan strategi dan program pembangunannya dengan member penekanan pada pengawasan mandat pemerintah, akuntabilitas dan bantuan keterampilan teknis yang tinggi.

Api
Api