ARTIKEL

Haiti Belajar dari Indonesia

01 Desember 2010


PESAN UTAMA
  • Delegasi Haiti datang mengunjungi Indonesia untuk mempelajari bagaimana upaya-upaya rekonstruksi dilaksanakan di Aceh dan Yogyakarta
  • Kunci sukses pembangunan kembali Yogyakarta terletak pada pendekatan berbasis masyarakat serta proses gotong royong
  • Keterlibatan pemerintah lokal dan pusat memberikan dampak yang sangat penting dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh.

Desember 1, 2010, Jakarta – Sepuluh bulan setelah diterpa gempa bumi sebesar tujuh skala richter, Haiti kini memfokuskan perhatiannya pada upaya rekonstruksi. Dalam rangka ini, Haiti memilih untuk belajar dari Indonesia – rekan negara berkembang yang beberapa tahun yang lalu menghadapi tantangan yang serupa sebanyak dua kali. Pada tahun 2004, bencana Tsunami di Aceh memakan korban jiwa sebanyak 230,000 orang dan membuat 500,000 lainnya tanpa tempat tinggal. Ketika Indonesia masih berjuang membangun kembali Aceh, bencana alam lain menyusul. Gempa bumi sebesar 5,0 skala richter menghantam Yogyakarta pada bulan May 2006, memakan 6,000 korban jiwa dan 1,5 juta lainnya tanpa tempat tinggal. Jumlah korban yang serupa juga diderita oleh Port-au-Prince, dan pemerintah Haiti berharap untuk dapat belajar dari Indonesia cara terbaik untuk menanggapi permalahan kompleks sehubungan dengan rekonstruksi dan rehabilitasi perumahan dan permukiman.

Awal bulan November yang lalu, delegasi Haiti mengunjungi Jogja dan Aceh untuk melihat secara langsung bagaimana kedua propinsi ini dapat pulih dari bencanan alam yang menimpa mereka. Delegasi ini mengunjungi Jogja terlebih dahulu dan menjadikannya sebagai studi kasus  pertama. Selama kunjungan tiga hari di Jogja, delegasi mendatangi daerah-daerah yang terkena dampak gempa bumi paling parah.

 “Kami sangat ingin belajar dari anda semua bagaimana caranya negara anda dapat pulih dari bencana alam dan berhasil membangun kembali rumah-rumah yang rusak dalam waktu yang kian singkat,” ucap Jean Alix Nicolas dari Biro Monetisasi Program Bantuan Pembangunan Haiti, dalam pertemuan mereka dengan pemerintah daerah Yogyakarta. Rusdiyanto, perwakilan Badan Penanggulan Bencana tingkat Provinsi menyebutkan bahwa selain dari koordinasi yang kuat antar pemerintah, lembaga pemberi bantuan baik internasional maupun lokal, salah satu kunci sukses yang utama adalah semangat gotong royong warga yang sangat kuat. Semangat inilah yang memungkinkan semua rumah-rumah yang hancur ini dapat dibangun kembali hanya dalam waktu tiga tahun.

Dana Rekonstruksi Jawa atau The Java Reconstruction Fund (JRF) merupakan kumpulan kontribusi dari tujuh negara donor mencapai USD 94,1 juta. Dengan menggunakan pendekatan berbasis masyarakat serta didorong dengan semangat gotong royong, JRF berhasil membangun 15.153 rumah tahan gempa permanen dan 1.892 proyek infrastruktur lainnya seperti jalan desa, jembatan, fasilitas air bersih dan sanitasi.

Bagian kedua dari kunjungan ini, delegasi Haiti mengunjungi ibu kota propinsi Aceh, Banda Aceh, yang enam tahun yang lalu tertimpa salah satu gempa bumi dan tsunami paling tragis dalam sejarah Indonesia. Semasa kunjungan delegasi di Aceh, mereka mengunjungi daerah perumahan yang dibangun melalui program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Masyarakat dan Permukiman (REKOMPAK), yang merupakan program rekonstruksi dan rehabilitasi berbasis masyarakat dan berinteraksi langsung dengan penerima manfaat.

Selepas mengunjungi rumah-rumah REKOMPAK, delegasi mengungkapkan rasa kagum mereka atas kualitas rekonstruksi dan upaya rehabilitasi yang dijalankan oleh REKOMPAK. Kunjungan delagasi ke Aceh juga telah memberikan mereka kesempatan untuk belajar lebih banyak mengenai peran pemerintah pusat Indonesia dalam mengkoordinir proses rekonstruksi melalui Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) yang dipimpin oleh Kuntoro Mangkusubroto – yang sekarang mengepalai Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) – dan juga manajemen dana dari donor yang dilakukan oleh MDF. “Keterlibatan pemerintah daerah dan pusat sangat terlihat dan telah memberikan dampak yang puar biasa dalam kesuksesan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi,” ucap Nicolas.

Gempa bumi yang menimpa Port-au-Princ pada bulan Januari ini memakan korban sebanyak kurang lebih 250.000 jiwa dan merusak 190.000 rumah. Para relawan, lembaga bantuan, dan pemerintah di seluruh dunia telah mengerahkan bantuan untuk warga Haiti. Sejumlah staff ahli Bank Dunia yang terlibat dalam inisiatif rekonstruksi Aceh dan Yogyakarta sekarang bergabung dalam Dana Rekonstruksi Haiti, dana multi donor yang telah mencapai lebih dari USD 265 bersumber dari sebelas donor.

Delegasi Haiti mengungkapkan rasa puas mereka atas kunjungan studi dan berbagai hal yang mereka pelajari dari pengalaman di Indonesia sehubungan dengan rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana berbasis masyarakat. Berulang kali mereka menuturkan kata “luar biasa” pada pertemuan terakhir sebelum mereka kembali ke Haiti.


Api
Api