Learn how the World Bank Group is helping countries with COVID-19 (coronavirus). Find Out

ARTIKEL

Aksi Para Ibu Melawan Kemiskinan

28 September 2010


Artikel ini di tulis oleh: Indira Permanasari, dan terbit di Kompas pada tanggal 28 September 2010

Bau tajam bagai mengambang dari dus-dus besar di teras rumah Siti Ria (43) di pesisir Riung, Ngada, Nusa Tenggara Timur. Di dalam dus-dus itu, berbagai jenis ikan asin seolah berdesakan memenuhi ruang yang sempit dan pengap.

Tumpukan ikan asin itu tak begitu lama ”parkir” di teras rumah Ria. Beberapa hari kemudian, Ria dan enam perempuan temannya sudah bergerak dari desa ke desa, menjajakan dagangan mereka itu ke sejumlah tempat.

Menaiki truk pengangkut ikan sewaan, saat warga desa lain lelap dalam tidurnya, pukul dua dini hari para perempuan itu duduk di bak terbuka, melaju ke pasar untuk berdagang. Kali ini, Pasar Manggarai, Soa, dan Riung menjadi sasaran.

”Pukul 6.00 pagi sudah mulai duduk jual ikan di pasar. Kami beli ikan 1 kilogram sekitar Rp 15.000 dan dijual sekilo Rp 16.000. Untungnya memang sedikit karena banyak pesaing di pasar. Sekali belanja bergantung modal. Kalau ada uang Rp 50 juta, bisa 4-5 ton. Tidak bisa hanya ambil satu macam ikan, harus beda-beda,” ujar Siti Ria menceritakan kesibukannya.

Tak jarang mereka terpaksa menginap di pasar. ”Biar bapak- bapak sesekali jaga anak dan masak di rumah. Ibu-ibu yang jalan,” kata Rosmawati (39) yang ikut berjualan.

Awalnya hanya Siti Ria yang berjualan ikan asin, itu pun kecil-kecilan. Namun, dengan cara itu, modal kurang berkembang dan biasanya harga baru bisa murah jika membeli ikan dalam jumlah besar.

Begitu mendengar tentang Program Simpan Pinjam Perempuan di bawah payung besar Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Pedesaan, tahun 2007, Siti Ria lalu mengajak teman-temannya membuat usaha bersama: jual- beli ikan dan simpan pinjam di bawah nama Kelompok Wisata Bahari. Awalnya kelompok itu mendapat pinjaman Rp 10 juta dan bisa melunasinya. Pada pinjaman ketiga, mereka mengelola pinjaman Rp 50 juta.

Mereka lalu berbagi tugas: ada yang bertindak sebagai ketua, sekretaris, bendahara, pemasaran, dan seksi humas. ”Kalau bersama, bisa patungan modal dan keuntungan bisa lebih besar,” ujar Siti yang didaulat sebagai ketua kelompok ini.

Di desa lain, suara irama benturan mesin tenun sayup-sayup terdengar. Di balik alat tenun sederhana yang penuh jalinan benang berwarna-warni, duduk sejumlah perempuan desa.

Semula pekerjaan menenun dikerjakan perseorangan dan modal selalu jadi kendala. Harga benang yang baik bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Namun, sejak ada Program Simpan Pinjam Perempuan, kini persoalan modal tak lagi terlalu jadi masalah bagi mereka.

Seperti halnya Kelompok Wisata Bahari yang beranggotakan perempuan di pesisir Riung, Kelompok Usaha Bersama Satu di Desa Benteng Tengah ini juga mendapat dana dari Program Simpan Pinjam Perempuan untuk menjalankan usaha tenun bersama.

Menurut Flora Pena (44), Ketua Kelompok Usaha Bersama Satu, sudah empat kali mereka mendapatkan pinjaman. ”Tahun 2010 kami mendapatkan pinjaman Rp 20 juta. Uang itu dipakai untuk modal membuat kain tenun. Kalau sendiri-sendiri, berat karena biaya benang mahal,” ujarnya.

Bagi Flora dan anggota kelompoknya yang adalah ibu rumah tangga, tidak terbayangkan mendapatkan pinjaman untuk modal usaha. ”Kalau ke bank, tentu kami tak mungkin diberi pinjaman. Suami hanya buruh tani dan tidak ada yang bisa diagunkan. Ke rentenir juga tidak berani, bunganya sangat tinggi,” ujar Flora.

Sulit pula dibayangkan punya pendapatan dari usaha sendiri. Hasil penjualan kain tenun mereka sebagian disimpan di kas kelompok dan selebihnya dibagikan. ”Uang yang didapat biasanya untuk biaya rumah tangga,” ujar Flora.

Anggota Kelompok Wisata Bahari juga para ibu rumah tangga dan belum pernah berjualan ikan asin sebelumnya kecuali Siti Ria. Menurut Rosmawati, suami mereka yang berprofesi tukang mebel, pedagang ternak, guru, dan nelayan tidak keberatan. Uang yang mereka peroleh ikut menambah penghasilan keluarga.

”Kami sudah bisa membeli perabot, membangun rumah, dan membayar biaya sekolah anak-anak,” ujar Rosmawati.

Pengembalian tinggi

Dalam program PNPM Pedesaan di daerah ini, ada dua model pinjaman usaha, yakni Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dengan keanggotaan laki-laki dan perempuan serta Simpan Pinjam Perempuan (SPP) yang bertujuan memfasilitasi perempuan. Anggota UEP kemudian lebih banyak laki-laki.

Uniknya, tingkat pengembalian di kedua model itu berbeda. Menurut kajian Bank Dunia, rata-rata pengembalian pinjaman dari UEP hanya 38 persen. Program itu dihentikan tahun 2004. Sebaliknya, di program SPP rata-rata pengembalian mencapai 90 persen dan program itu berlanjut hingga kini.

Para perempuan jarang ingkar janji membayar cicilan mereka dan piawai mengelola uang yang diterima. Mereka punya berbagai strategi guna menghindari kredit macet. Nomor satu ialah menjaga kepercayaan. Sekalipun anggota kelompok itu bertetangga dan saling mengenal baik, proses perekrutan anggota tidaklah sembarangan.

”Kami menilai ibu-ibu mana yang berminat serius mau usaha atau tidak. Kami takut sembarangan memasukkan orang karena tanggung jawab ada pada kelompok. Takut tidak bisa mengembalikan uangnya. Peserta juga harus ikut program dan aturan kelompok,” kata Siti.

Mereka juga menyeleksi calon anggota dengan cara tersendiri. ”Kalau ada yang tertarik jadi anggota, kami amati kebiasaannya setelah terima uang. Mereka sibuk beli bedak yang mahal dan baju gagah atau tidak. Karena bertetangga, jadi bisa menilai. Kita kan tidak hanya bergosip soal ikan asin,” ujar Rosmawati menimpali sambil tersenyum.

Untuk menjaga kelancaran pelunasan, di kelompok terdapat kewajiban simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela. Setiap menjelang jatuh tempo pembayaran ke PNPM, mereka adakan musyawarah.

”Begitu ada kemacetan pembayaran dari anggota, kami ambil dari kas dahulu. Cicilan ke PNPM tidak boleh terhambat, nanti hilang kepercayaan,” ujar Siti.

Rekening yang didaftarkan pun rekening kelompok sehingga tidak dapat dicairkan hanya dengan tanda tangan ketua. Mereka sadar, kepercayaan masih merupakan modal yang besar.

Perempuan-perempuan di desa pesisir itu tak kenal istilah ”ngemplang” atau lari dari kewajiban membayar pinjaman yang rawan menyebabkan kredit macet. Di tangan para ibu sederhana itu, uang pinjaman justru jadi investasi luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi keluarga mereka. Di tangan para perempuan, ada harapan kemiskinan bisa dilawan....

Api
Api