Learn how the World Bank Group is helping countries with COVID-19 (coronavirus). Find Out

ARTIKEL

Melihat Dari Dekat Program Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia

22 Juli 2010


PESAN UTAMA
  • Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan sumber kebanggaan Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat.
  • Revitalisasi Posyandu setempat merupakan cara meningkatkan pelayanan PAUD di Sukabumi, Jawa Tengah.

Sukabumi - Juli 22, 2010 - “Saya sangat bangga dengan PAUD” ucap Pak Zainal Mutaqin, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi kepada Bank Dunia pada saat kunjungan baru-baru ini. PAUDadalah kependekan dari Pendidikan Anak Usia Dini, namun di Sukabumi singkatan ini bukan hanya sekedar dikenal sebagai kosa kata umum namun sudah menjadi judul dari beberapa lagu. Pada saat mengunjungi dua pusat anak usia dini yang baru saja didirikan, sekelompok anak-anak beranggotakan 20-30 anak bernyanyi dengan antusias sembari melambaikan tangan mengenai betapa bahagia dan sehatnya mereka kini karena adanya PAUD.

Masyarakat di Sukabumi kini memiliki akses ke pusat-pusat anak usia dini melalui Proyek Pendidikan dan Perkembangan Anak Usia Dini (Early Childhood Education and Development Project). Proyek ini menyediakan pelatihan bagi kelompok-kelompok pelatih utama dan fasilitator serta memberikan hibah bagi masyarakat untuk mendirikan pusat anak. Suasana semarak dan semangat dari pusat anak ini sangat terasa, anak-anak dengan seragam cerah mulai berdatangan dengan diantarkan oleh orang tua mereka dengan sepeda motor atau jalan kaki. Dengan seketika mereka langsung menyambar permainan-permainan yang mendidik dan bermain dengan teman-temannya. Mereke memiliki rutinitas harian, ucapan selamat datang dan permainan, doa bersama, anak-anak yang lebih besar tidak malu untuk menunjukkan kalau mereka sudah memahami lebih baik, dan anak-anak baru masih merasa malu dan tidak mau melepaskan genggaman ibu mereka.

Para orang tua yang mengantarkan anaknya mencari tempat untuk berkumpul selagi menunggu anak-anak mereka. Bagi kebanyakan dari mereka, ini merupakan kesempatan untuk beristirahat dari rutinitas harian dan pekerjaan mereka. Selama beberapa jam, empat hari seminggu mereka berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan tetangga mereka sembari mengawasi anak-anak mereka beraktivitas. Di pusat anak ini juga tersedia Posyandu, sehingga mereka juga memiliki kesempatan untuk bertemu dengan bidan setempat atau penyuluh KB. Terasa sekali rasa bangga dari para orang tua dengan adanya pusat anak ini, mereka tak henti-hentinya mengutarakan betapa senangnya mereka melihat anak-anak mereka belajar dan berkembang melalui pusat anak ini. Investasi mereka untuk seragam sekolah anak-anak menunjukkan rasa bangga itu. Walaupun dengan investasi yang sepadan namun untuk buku cerita akan membantu anak-anak mereka untuk persiapan ke sekolah dasar, namun ada motivasi lebih bagi orang tua ketika mereka melihat anak-anak mereka berseragam

Ibu Dini mengepalai tim yang berdedikasi tinggi, beranggotakan sebelas fasilitator terlatih di dinas pendidikan. Masing-masing fasilitator ini membantu di 10 pusat, seringkali di dusun terpencil hampir tidak dapat terjangkau melalui jalan setapak. Para fasilitator ini secara bergiliran mengunjungi pusat-pusat anak dalam wilayah kerja mereka untuk memberikan ide-ide untuk memperbaiki program pembelajaran, mobilisasi sumber daya masyarakat, menangani masalah, dan pembukuan. Pak Henhen, fasilitator utama, mencatat bahwa guru-guru sekolah dasar mulai menyadari perbedaan yang diakibatkan oleh PAUD. Anak-anak yang meluangkan waktu di pusat-pusat pembelajaran dini dapat mengikuti pembelajaran di sekolah dasar dengan lebih baik, memiliki rasa percaya diri yang lebih dan lebih terbiasa berinteraksi dengan murid lain. Para fasilitator juga mengutarakan dampak-dampak baik lainnya. Anak-anak yang berasal dari keluarga miskin kini mendapatkan susu dan suplemen bernutrisi lainnya melalui proyek ini. Beberapa kasus malnutrisi sekarang sudah teratasi dan anak-anak sudah kembali sehat. Masyarakat setempat dengan sangat cepat mengadopsi ide-ide baru, mengingat keterbatasan sumber daya yang mereka miliki, mereka masih menyediakan lahan untuk membangun pusat-pusat ini.

Program PAUD Mendapat Dukungan Setempat

Pejabat pendidikan setempat menanggapi program pendidikan dini dengan serius. Rancangan peraturan lokal telah dipersiapkan, peraturan ini akan menjabarkan kerangka kerja untuk penyediaan pelayanan pendidikan anak usia dini. Pendekatan yang menyeluruh ini yang didukung oleh proyek ECED ini sangat diterima dengan baik, pemerintah kabupaten telah mempromosikan Posyandu sebagai lokasi informal pusat pembelajaran usia dini dan melatih kader setempat untuk memberikan berbagai macam palayanan.

Walikota setempat telah meluncurkan Paket Stimulus sebesar Rp 5jt untuk menutupi biaya awal untuk memulai pusat-pusat anak usia dini di Posyandu. Dinas kesehatan akan membantu biaya operasional Posyandu mulai dari tahun 2011, menawarkan pelayanan terintegrasi untuk anak berusia 0-1 tahun dan 1-5 tahun. Menurut Kepala Dinas Kesehatan, Pak Ujam, tingkat malnutrisi sudah mulai berkurang dan para petugas posyandu sudah menggunakan sistem monitoring kesehatan anak yang terbarui. Dinas Pendidikan telah menyediakan sistem monitoring pendidikan dan perkembangan dengan menggunakan pendekatan checklist yang akan masuk ke fase uji coba dalam waktu dekat.

Pada kunjungan Bank Dunia, pelatihan bagi para kader Posyandu sedang berjalan: 150 remaja belajar mengenai bagaimana memimpin kelompok bermain, dilatih oleh staf dari dinas pendidikan, kesehatan, dan keluarga berencana. Ini hanya satu dari 27 pelatihan untuk pembimbing dari 365 desa tahun ini. Para pembimbing dipilih oleh masyarakat setempat, dan mereka setidaknya harus lulusan SMP dan siap untuk mengikuti SMA informal. Universitas Muhammadiyah setempat juga melengkapi upaya ini dengan menawarkan program sarjana untuk Pendidikan dan Perkembangan Anak Usia Dini dengan beasiswa dari pemerintah setempat.

Intervensi anak usia dini akan terus menjadi prioritas di Sukabumi didukung dengan komitmen tinggi dari pemerintah dan masyarakat. Dukungan sebelumnya dibawah naungan program UNICEF dan sekarang dibawah proyek ECED telah membantu menciptakan kesadaran di kabupaten terbesar kedua di Pulau Jawa. Permintaan akan pusat baru kini sudah melampaui sumber daya yang tersedia, maka dari itu pemerintah lokal terus mempromosikan kesukarelawanan dan dukungan masyarakat sembari memastikan kesuksesan model Posyandu dan akses untuk pelatihan bagi ribuan pendamping.

Pekerjaan penting lainnya adalah untuk mengambil waktu untuk merayakan hasil kerja dari pusat-pusat ini, memberikan ucapan selamat bagi para pembimbing yang telah bekerja dengan imbalan finansial yang tidak seberapa, namun dengan sukses memberikan motivasi untuk masyarakat setempat dalam memberikan generasi mendatang kesempatan yang lebih baik.

Mengenai Proyek Pendidikan Usia Dini (PAUD)
Proyek Pendidikan dan Perkembangan Anak Usia Dini bekerja erat dengan Kemendiknas untuk memastikan lebih banyak anak dari keluarga miskin memiliki akses untuk pendidikan anak usia dini, serta memperbaiki perkembangan mereka secara keseluruhan dan kesiapan dalam menghadapi sekoplah dasar. Proyek ini juga mendukung perkembangan sistem pendidikan dan perkembangan anak usia dini yang berkelanjutan. Proyek ini bekerja di 6,000 komunitas miskin, menjangkau lebih dari 700,000 anak-anak. Dana untuk proyek ini berasal dari pinjamanan Bank Dunia (IBRD) dan dana hibah IDA, serta dana hibah kontribusi Pemerintah Belanda.


Api
Api