Learn how the World Bank Group is helping countries with COVID-19 (coronavirus). Find Out

ARTIKEL

Partisipasi Masyarakat Lokal Membangun Nias Kembali

16 Juni 2010


PESAN UTAMA
  • Program Pembangunan berbasis masyarakat di Nias tidak hanya membangun ulang infrastruktur namun juga memperhatikan aspek lingkungan, budaya & pembangunan kapasitas masyarakat.
  • Tantangan utama yang harus dihadapi masyarakat dan seluruh pelaku pelaksana adalah keberlanjutan kegiatan ketika program ini berakhir pada bulan Juni 2011

Nias, 16 Juni 2010 – Porak poranda, itulah gambaran Nias lima tahun lalu. Dalam kurun waktu tiga bulan Nias dilanda dua bencana alam sekaligus – tsunami pada bulan Desember 2004 dan gempa bumi pada bulan Maret 2005 - yang meluluhlantakkan hampir 85% infrastruktur di wilayah tersebut. Berbagai program dicanangkan untuk membangun Nias kembali. Salah satunya adalah Program PNPM Rehabilitasi Rekonstruksi Pulau Nias (R2PN) atau Kecamatan-Based Rehabilitation and Reconstruction Planning Project (KRRP). Program yang telah dilaksanakan di sembilan kecamatan ini memiliki empat komponen utama, yaitu pembangunan rumah dan infrastruktur, lingkungan, budaya serta peningkatan kapasitas pelaku program dan masyarakat.

Progam PNPM R2PN memiliki berbagai keunikan dalam pelaksanaannya. Misalnya saja penetapan penerima manfaat rumah dihasilkan melalui Musyawarah Desa Khusus Perempuan (MDKP), sehingga pemberdayaan perempuan amatlah besar dalam pelaksanaan program tersebut. Seperti yang dilontarkan oleh penerima manfaat sekaligus ketua kelompok perumahan, Kasihriang Gulo di Acara Radio Talk Show KBR68H di UN Joint Office, Gunung Sitoli, Nias pada tanggal 16 Juni 2010, “Penentuan calon penerima manfaat rumah dilakukan melalui beberapa tahapan. Yang pertama diadakan musyawarah desa dan sekaligus membentuk tim verifikasi yang anggotanya sebanyak tujuh orang, empat orang dari kaum perempuan dan tiga orang dari kaum laki-laki. Tim ini yang nanti bergerak mendatangi rumah-rumah masyarakat yang memang terkena bencana. Semua hasil atau data calon penerima manfaat akan dimusyawarahkan di Musyawarah Desa Khusus Perempuan atau MDKP.”

Paradigma pembangunan pada program ini tidak semata berhenti pada rekonstruksi rumah dan infrastruktur saja tetapi juga memperhatikan aspek pelestarian lingkungan. Sebagai kompensasi penggantian kayu untuk keperluan pembangunan rumah, PNPM R2PN mencanangkan program penanaman pohon kembali dengan menyediakan bibit-bibit pohon yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga serta melestarikan lingkungannya. Menurut Fasilitator Teknis Kabupaten Nias Selatan, SP Maurista Manik, setiap rumah diharuskan untuk menanam 12 batang pohon, sehingga sampai saat ini total pohon yang telah berhasil ditanam oleh warga Nias Selatan adalah 2200 pohon. Sampai bulan Juni 2010, total bibit pohon yang ditanamkan sebagai kompensasi rumah adalah 23.952 bibit. Selain rumah, balai desa dan sekolah yang dibangun juga diwajibkan untuk menanam pohon sesuai dengan jumlah kayu yang digunakan.

Pembangunan bukan berarti harus menyingkirkan kebudayaan dan kearifan lokal. Bersama Museum Yayasan Pusaka Nias (MYPN), Badan Pemberdayaan dan Warisan Nias (BPWN) dan Yayasan Bamper Madani, PNPM R2PN juga melaksanakan program pelestarian pusaka budaya Nias yang ditujukan untuk para guru dan siswanya dalam komponen peningkatan mutu sekolah. Berbagai pelatihan pendidikan budaya untuk guru dan murid, kunjungan murid ke desa tradisional serta penyusunan modul pendidikan budaya merupakan aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan guna meningkatkan apresiasi dan kepedulian terhadap pelestarian budaya Nias kepada generasi mudanya. Seperti yang dikatakan oleh Direktur BPWN, Melkhior Duha, “PNPM R2PN itu kan juga membangun gedung sekolah, jadi sangat boleh dikatakan tidak adil kalau hanya gedung sekolahnya diperhatikan tetapi pendidikan budaya tidak dikembangkan, tidak dilestarikan. Oleh sebab itu, di mana ada PNPM R2PN gedung sekolahnya dibangun, kita berupaya untuk masuk di situ supaya bukan hanya fisiknya tetapi juga budayanya kita berikan kepada mereka sebagai bagian dari pembelajaran revitalisasi kebudayaan lokal.” Manfaat dari pelatihan inipun dirasakan oleh Niscahaya Waruwu, seorang guru SD yang mengikuti pelatihan budaya yang diberikan oleh PNPM R2PN melalui Program Heritage Education. Beliau menyatakan bahwa melalui pelatihan tersebut, ia mendapat kesempatan untuk benar-benar mempelajari kekayaan kebudayaan Nias, sehingga dapat memberikan pengajaran yang lebih baik kepada seluruh siswanya.

Manfaat lain juga dirasakan oleh penerima manfaat, Kasihriang Gulo. Menurut beliau, selain masyarakat memperoleh rumah, mereka juga mendapat kesempatan untuk memperoleh pengetahuan melalui kegiatan berupa pelatihan-pelatihan. Khusus kaum perempuan, kini mereka dapat merasakan adanya persamaan hak dan pengetahuan dengan kaum laki-laki. “Contohnya saya, awalnya sebagai ibu rumah tangga, namun sekarang bisa menjadi ketua pada salah satu kelompok perumahan. Bisa membuat suatu pembukuan dan mengikuti pelatihan di Medan bersama 230 orang lainnya,” tegasnya.

Melihat besarnya manfaat PNPM R2PN di tengah masyarakat Nias, tantangan utama yang harus dihadapi masyarakat dan seluruh pelaku pelaksana adalah keberlanjutan kegiatan ketika program ini berakhir pada bulan Juni 2011. Seluruh pihak yang terlibat, terutama pemerintah daerah dan masyarakat Nias haruslah memiliki komitmen tinggi untuk terus menjaga kesinambungan program yang mulai efektif dilaksanakan sejak Februari 2007. Hal ini sudah tentu bukan hal yang mudah, mengingat banyaknya lokasi-lokasi daerah yang cukup sulit dijangkau, sehingga bisa menghambat pemantauan pengimplementasian program di wilayah tersebut. Berbagai tantangan ini amat disadari oleh pemerintah daerah setempat. Toharudin selaku Penanggung Jawab Operasional Kegiatan Kabupaten Nias Selatan menghimbau partisipasi serta komitmen masyarakat untuk menjaga keberlangsungan Program PNPM R2PN. Toharudin mengatakan, “Untuk pelestarian ke depan, kami dari pihak pemerintah daerah mengharapkan dari pemilik perumahan sendiri untuk bisa memelihara rumahnya dan tidak menjual atau memindahkan kepemilikan orang lain dalam waktu lima tahun.  Begitu juga dengan pelestarian pembangunan gedung sekolah, tentunya kita kembalikan kepada masyarakat. Peran dari komite sekolah itu sangat penting karena memang dari situ kita harus diberikan gotong royong, partisipasi masyarakat yang paling utama untuk melakukan pelestarian.”



Api
Api