Learn how the World Bank Group is helping countries with COVID-19 (coronavirus). Find Out

publication

Asia Timur dan Pasifik di Masa COVID-19 - Laporan Ekonomi Regional Edisi April 2020



Image


Download laporan lengkap [PDF] disini. | Ringkasan laporan dalam Bahasa (PDF)

Rekomendasi Utama

Negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik, yang tengah berjuang meghadapi ketegangan perdagangan internasional (trade tension) dan COVID-19, sekarang dihadapkan pada guncangan ekonomi global ketika pandemi melanda ekonomi-ekonomi utama di dunia. Negara-negara Asia Timur dan Pasifik harus bertindak cepat, kooperatif, dan dalam skala yang besar. Laporan ini memberikan enam rekomendasi kebijakan utama untuk pengambil kebijakan di negara – negara di Kawasan Asia Timur Pasifik:

  1. Sesuaikan kebijakan kesehatan dan kebijakan ekonomi makro. Untuk mencegah penyebaran infeksi, banyak pemerintah mengambil langkah-langkah pengendalian transmisi seperti lockdown dan larangan bepergian untuk “meratakan kurva pandemi”. Secara paralel, untuk mengurangi dampak ekonomi yang merugikan, pemerintah mengambil langkah-langkah moneter, fiskal dan struktural untuk "meratakan kurva resesi". Selain itu, investasi awal di bidang kesehatan dapat mengurangi kebutuhan untuk mengambil tindakan pencegahan yang mahal ketika epidemi menyerang. Negara-negara seperti Singapura dan Republik Korea adalah contoh negara yang memetik hasil dari investasi awal yang baik di bidang kesehatan sehingga mampu melakukan pengujian (testing), pelacakan (tracking), dan karantina secara cepat dan dalam jumlah yang masif.
  2. Segera tingkatkan kapasitas perawatan kesehatan untuk memenuhi kemungkinan permintaan luar biasa untuk periode pandemi yang berkepanjangan. Selain memperluas fasilitas perawatan kesehatan konvensional dan pabrik peralatan medis, langkah-langkah inovatif mungkin juga diperlukan seperti mengubah tempat tidur rumah sakit biasa untuk penggunaan ICU dan melakukan pelatihan bagi tenaga kerja untuk melakukan perawatan kesehatan dasar. Selanjutnya, memastikan akses yang memadai bagi masyarakat miskin mungkin memerlukan penyediaan pengujian (testing) dan perawatan gratis atau bersubsidi.
  3. Sesuaikan kebijakan fiskal dan moneter untuk memenuhi krisis COVID-19. Memperluas kebijakan ekonomi makro tidak dapat meningkatkan produksi dan lapangan pekerjaan selama pekerja diwajibkan untuk tinggal di rumah. Sebaliknya, langkah-langkah fiskal harus mendukung respons terkait kesehatan masyarakat, memberikan perlindungan sosial untuk meredam guncangan, terutama bagi mereka yang paling rentan secara ekonomi. Misalnya, subsidi untuk pembayaran dan pengeluaran untuk perawatan kesehatan dapat mengurangi tekanan finansial rumah tangga dan membantu mendukung program penanganan. Jaring pengaman yang diperluas dapat memberikan pertolongan sementara bagi keluarga yang penghasilannya terkena dampak buruk dari pandemi tersebut. Pemberian makanan di sekolah dan dukungan lain kepada siswa selama penutupan sekolah, serta dukungan pekerjaan untuk membantu pekerja mengintegrasikan dirinya kembali ke dalam ekonomi setelah pandemi mereda, akan memastikan bahwa dampak ekonomi jangka pendek tidak akan berlanjut ke dalam kerugian jangka panjang dari sisi sumber daya manusia. Selanjutnya, suntikan likuiditas dapat membantu perusahaan bertahan dalam bisnis dan menjaga hubungan yang bermanfaat dengan Rantai Nilai Global (GVC).
  4. Di sektor finansial, permudah akses kredit untuk rumah tangga untuk mengurangi kesulitan dan melancarkan konsumsi, serta permudah akses ke likuiditas bagi perusahaan untuk membantu mereka bertahan dari guncangan ekonomi saat ini. Pada saat yang sama, regulator harus memastikan pengungkapan risiko dan mengomunikasikan secara jelas harapan dari pihak pengawas untuk menghindari ketidakstabilan keuangan, terutama di negara-negara dengan tingkat utang swasta yang tinggi. Bagi negara-negara yang lebih miskin, keringanan utang sangat penting, sehingga sumber daya penting dapat difokuskan pada pengelolaan dampak ekonomi dan kesehatan dari pandemi.
  5. Kebijakan perdagangan harus tetap terbuka. Untuk mempertahankan produksi pasokan esensial bagi konsumen domestik, beberapa negara telah memberlakukan pembatasan ekspor produk medis. Ilmu ekonomi dan pengalaman baru-baru ini menunjukkan bahwa langkah-langkah ini pada akhirnya merugikan semua negara, terutama negara – negara yang lebih rapuh.
  6. Di semua bidang ini, tingkatkan kerja sama internasional dan kembangkan kemitraan swasta-pemerintah, khususnya untuk memastikan pasokan produk medis utama. Semua negara harus menyadari bahwa, selain aksi nasional yang berani, peningkatan kerja sama internasional adalah vaksin yang paling efektif melawan ancaman besar ini.

Temuan Utama

Menyusul penyebaran COVID-19 dan peningkatan volatilitas keuangan, proyeksi pertumbuhan untuk wilayah ini pada tahun 2020 telah diturunkan secara tajam.

  • Dalam lingkungan yang berubah dengan cepat, membuat proyeksi pertumbuhan yang tepat sangat sulit. Oleh karena itu, laporan ini menyajikan skenario baseline dan skenario lebih rendah.
  • Pertumbuhan di negara berkembang Asia Timur dan Pasifik untuk tahun 2020 diproyeksikan akan melambat menjadi 2,1 persen untuk skenario baseline dan negatif 0,5 persen dalam skenario lebih rendah, dari perkiraan 5,8 persen pada 2019. Pertumbuhan di Tiongkok untuk tahun 2020 diproyeksikan menurun menjadi 2,3 persen untuk skenario baseline dan 0,1 persen dalam skenario lebih rendah, dari 6,1 persen pada 2019.
  • Pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik, di luar Tiongkok, untuk tahun 2020 diproyeksikan melambat dari 4,7 persen pada 2019 menjadi 1,3 persen dalam skenario baseline dan negatif 2,9 persen dalam skenario lebih rendah, dan diproyeksikan membaik secara bertahap pada tahun 2021 karena efek virus mulai menghilang.

Tiongkok sudah mengalami penurunan tajam kegiatan ekonomi.

  • Pada bulan Februari, purchasing managers index turun di bawah nilai 50 poin[1]. Penurunan yang terjadi lebih tajam dan lebih luas dibanding saat resesi besar, menjadi 36 di bidang manufaktur dan 30 di bidang non-manufaktur. Produksi industri juga mencatat pertumbuhan negatif untuk pertama kalinya dalam lebih dari 30 tahun.
  • Masih harus dilihat apakah pemerintah dapat mengaktifkan kegiatan ekonomi secepat kegiatan-kegiatan tersebut dihentikan. Banyak perusahaan industri besar dilaporkan telah melanjutkan produksi, meskipun banyak perusahaan kecil dan menengah masih berjuang. Menurut data estimasi tidak langsung, seperti indikator polusi, aktivitas sudah meningkat secara bertahap di Tiongkok.

Guncangan COVID-19 juga akan berdampak serius pada pengentasan kemiskinan di seluruh kawasan.

  • Laporan ini memperkirakan dengan skenario baseline bahwa pada tahun 2020 orang yang akan keluar dari kemiskinan di kawasan akan berkurang sebanyak hampir 24 juta dibanding bila tidak ada pandemi (menggunakan garis kemiskinan US$5,50 / hari).
  • Jika situasi ekonomi memburuk, dan skenario lebih rendah yang terjadi, maka jumlah penduduk miskin bertambah sekitar 11 juta orang.
  • Proyeksi sebelumnya memperkirakan bahwa hampir 35 juta orang akan keluar dari kemiskinan di Asia Timur dan Pasifik pada tahun 2020, termasuk lebih dari 25 juta di Tiongkok saja.

Rumah tangga yang terkait dengan sektor ekonomi yang terkena dampak COVID-19 akan menghadapi risiko lebih tinggi untuk jatuh ke dalam kemiskinan, setidaknya dalam jangka pendek.

  • Sektor-sektor ini termasuk pariwisata dan ritel di Thailand, serta manufaktur dan tekstil di Vietnam
  • Pekerja informal di semua negara sangat mungkin terdampak dan akan paling sulit untuk dibantu.

Kondisi spesifik negara negara lainnya berpengaruh terhadap proyeksi kawasan.

  • Semua negara di kawasan menurunkan proyeksi pertumbuhan mereka secara tajam, sebagian besar mencerminkan dampak dari penyebaran penyakit. Faktor spesifik negara, seperti kekeringan (Thailand), dan guncangan komoditas (Malaysia dan Mongolia), juga membebani proyeksi.

Di negara-negara Kepulauan Pasifik, proyeksi untuk tahun 2020 memiliki risiko besar karena ketergantungan ekonomi mereka pada hibah dan pariwisata.

  • Memburuknya pandemi COVID-19 dan / atau pembatasan perjalanan yang lebih parah / berkepanjangan akan berdampak negative lebih lanjut pada kegiatan pariwisata.

__________________

[1] 50 adalah angka yang memisahkan pertumbuhan bulanan dari kontraksi

Akibat pandemi COVID-19, keadaan ekonomi dalam sebuah negara berubah setiap hari. Analisis dalam laporan ini didasarkan pada data tingkat negara terbaru yang tersedia pada 27 Maret.