Pidato & Transkrip 12 Oktober 2018

Pidato Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim pada Pleno Pertemuan Tahunan 2018

Ketua Orpo, Presiden Jokowi, Madame Lagarde, Para Gubernur dan Menteri, dan Rekan-rekan,

Selamat datang di Pertemuan Tahunan IMF-Grup Bank Dunia 2018. Suatu kehormatan bisa berada di sini, di Bali. Dan kami bersyukur atas sambutan yang sangat hangat dari Presiden Joko Widodo, Menteri Koordinator Luhut Pandjaitan, Menteri Sri Mulyani Indrawati, dan pemerintah serta masyarakat Indonesia.

Saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas korban jiwa dan kerusakan di Sulawesi Tengah dan Lombok.

Kami semua di Grup Bank Dunia siap mendukung pemerintah dan rakyat Indonesia.

Kami berdiri bersama dan bahu-membahu dengan Indonesia. Orang Indonesia adalah orang yang tangguh dan welas asih, dan mereka akan bangkit dari tantangan ini dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Saya ingin meluangkan waktu untuk berterima kasih kepada para Gubernur, Dewan, dan staf kami yang berdedikasi di seluruh dunia, untuk pencapaian dalam peningkatan modal Bank Dunia yang bersejarah. Terima kasih atas kepercayaan yang Anda berikan kepada kami, dan memberi kami lebih banyak sumber daya dalam mengatasi masalah terbesar dunia, seperti tragedi yang melanda Indonesia tahun ini.

Bencana alam di Lombok dan Sulawesi adalah pengingat mengapa kita berkumpul setiap tahun. Kita harus menyepakati cara untuk maju dalam mengatasi tantangan terbesar yang dihadapi para klien:

Bagaimana kita dapat membantu mereka membangun ketahanan terhadap bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami, dan mengatasi goncangan iklim yang akan memperburuk hal tersebut?

Bagaimana negara dapat mengelola tingkat utang, sehingga utang tersebut tidak menghambat pertumbuhan ekonomi?

Bagaimana kami membantu negara-negara untuk berinvestasi pada warga mereka dan mempersiapkan masa depan yang semakin kompleks?

Dan yang paling penting, apa yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membantu mengentaskan penduduk dari kemiskinan di seluruh dunia?

Minggu ini kita berkumpul di sini untuk berbagi ide dan pendekatan baru dalam menjawab pertanyaan ini, serta mempercepat kemajuan mencapai dua sasaran kami, yaitu mengakhiri kemiskinan ekstrem pada tahun 2030 dan meningkatkan kesejahteraan bersama bagi 40 persen penduduk termiskin di seluruh dunia.

Laporan dua tahunan Kemiskinan dan Kemakmuran Bersama kami, yang akan kami terbitkan  minggu depan, menunjukkan berapa banyak kemajuan yang telah kita capai, dan seberapa jauh lagi kita harus melangkah. Selama 25 tahun terakhir, lebih dari satu miliar orang telah berhasil mengeluarkan diri mereka dari kemiskinan ekstrem. Tingkat kemiskinan global sekarang sekitar 10 persen, terendah yang pernah tercatat dalam sejarah.

Ini adalah salah satu prestasi besar sepanjang masa, tetapi 736 juta orang masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, dengan pendapatan kurang dari satu dolar 90 sen sehari. Seperempat penduduk dunia hidup dengan kurang dari tiga dolar dan 20 sen sehari, yang merupakan tingkat kemiskinan di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah. Dan hampir setengah dari orang-orang di dunia hidup dengan kurang dari lima setengah dolar sehari, yang merupakan  tingkat kemiskinan di negara-negara berpenghasilan menengah ke atas.

Laju pengentasan kemiskinan juga melambat, yang berarti bahwa kita harus mempercepat upaya pada tiga pilar strategi untuk mencapai dua sasaran tesebut, di antaranya:

Pertama, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dengan mengumpulkan investasi dari sektor swasta, membantu negara-negara mengelola tingkat utang, dan memanfaatkan kekuatan teknologi seperti FinTech;

Kedua, membangun ketahanan terhadap guncangan dan ancaman dengan mengambil langkah segera terhadap perubahan iklim, dan membantu negara-negara berbagi risiko bencana dengan  pasar modal;

Dan terakhir, untuk membantu negara berinvestasi lebih banyak, dan lebih efektif, pada warga mereka untuk mempersiapkan masa depan yang secara pasti akan lebih menuntut secara digital.

Pilar terakhir telah menjadi fokus kami selama setahun terakhir. Kami menjalankannya seperti pendekatan Martin Luther King yang biasa disebut "rasa urgensi yang mendesak" karena dua tren yang memayungi yang kami lihat di setiap wilayah.

Pertama, aspirasi sedang meningkat di seluruh dunia. Telepon pintar, Internet, dan media sosial memungkinkan hampir semua orang tahu bagaimana kehidupan orang lain. Para ekonom kami menemukan bahwa hal ini mengubah referensi pendapatan mereka, pendapatan yang mereka gunakan sebagai pembanding dengan pendapatan mereka sendiri, yang menjadi akselerator aspirasi yang kuat.

Dan hanya ada sedikit keraguan apakah aspirasi akan terus meningkat. Beberapa penelitian memperkirakan bahwa pada tahun 2025, semua penduduk dunia yang berjumlah delapan miliar memiliki akses internet broadband, dan hampir semua orang kemungkinan akan memiliki akses ke telepon pintar.

Kedua, teknologi mengubah sifat pekerjaan, ini menjadi fokus kami dalam Laporan Pembangunan Dunia tahun ini. Teknologi dan otomasi menggantikan sejumlah tugas dan menyingkirkan beberapa pekerjaan. Inovasi juga mengubah lingkup pekerjaan yang ada, menciptakan pekerjaan baru, dan memunculkan bidang karier yang tidak ada pada beberapa tahun yang lalu.

Jadi, jika teknologi membantu meningkatkan aspirasi dan mengubah sifat pekerjaan, kita harus menjawab beberapa pertanyaan yang sangat sulit: Apa yang akan dilakukan orang-orang? Bagaimana mereka akan mendukung keluarga mereka? Bagaimana mereka akan mencapai ambisi mereka di dunia yang semakin kompleks?

Kabar baiknya adalah bahwa kini kita mengetahui lebih banyak tentang bagaimana membantu negara mempersiapkan masa depan. Kuncinya adalah membuat investasi yang tepat pada manusia, memastikan bahwa mereka memiliki kesehatan, pengetahuan, dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk mewujudkan potensi penuh mereka.

Kemarin, kami mengumumkan piranti baru untuk membantu membangun investasi tersebut: Indeks Modal Manusia yang pertama. Ini adalah ringkasan pengukuran modal manusia bahwa seorang anak yang lahir hari ini dapat berharap tentang apa yang akan mereka capai pada usia 18 tahun. Hal ini berdasar pada risiko kesehatan dan pendidikan yang buruk di negara tempat anak itu tinggal.

Indeks tersebut berfokus pada hasil, bukan input, yang terdiri dalam tiga komponen:

Kelangsungan hidup: Berapa probabilitas bahwa seorang anak yang lahir hari ini akan bertahan sampai usia lima tahun?

Sekolah: Berapa banyak sekolah yang akan mereka selesaikan, dan yang paling penting, berapa banyak yang akan mereka pelajari?

Kesehatan: Apakah anak-anak akan mengalami stunting sebelum usia lima tahun? Dan apakah mereka akan sehat hingga dewasa, siap untuk bekerja dengan landasan untuk belajar sepanjang hayat?

Saya yakin Anda telah melihat angkanya, jadi ijinkan saya menjelaskan apa artinya:

Kami meneliti kontribusi kesehatan dan pendidikan terhadap produktivitas generasi pekerja di masa berikutnya. Setiap negara mendapat skor kisaran antara nol dan satu.

Skor satu hanya mungkin jika seorang anak yang lahir hari ini dapat berharap untuk mencapai kesehatan penuh, yang didefinisikan sebagai anak tidak mengalami stunting dan bertahan hidup hingga setidaknya usia 60 tahun; dan menyelesaikan pendidikan lengkap, yaitu 14 tahun sekolah berkualitas tinggi pada usia 18 tahun.

Itu berarti bahwa jika suatu negara mendapat nilai 0,70 dalam Indeks, potensi penghasilan masa depan anak-anak yang lahir hari ini akan 30 persen lebih rendah daripada apa yang bisa mereka capai di “batas atas”, yaitu pendidikan lengkap dan kesehatan penuh.

Dengan Indeks Modal Manusia ini, kami berupaya mengubah pembicaraan seputar modal manusia. Selama beberapa dekade terakhir, kami mengandalkan donor dan daya tarik emosional untuk berinvestasi pada generasi berikutnya. Pendekatan itu berhasil, dan pembiayaan untuk kesehatan dan pendidikan global meningkat secara dramatis dari basis yang rendah. Kami memiliki keberhasilan besar seperti PEPFAR dan Global Fund, tetapi upaya ini, dan bahkan ekspansi ODA yang dramatis, tidak akan menyelesaikan masalah.

Indeks tersebut menarik garis langsung antara kesehatan yang lebih baik dan hasil pendidikan, dengan pertumbuhan ekonomi di masa depan. Ini melukiskan gambaran yang sangat jelas bagi para pemimpin tentang betapa pekerja menjadi lebih produktif dalam kondisi kesehatan penuh, memiliki pendidikan yang lengkap, dan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan.

Misalnya, jika suatu negara memiliki skor 0,50, PDB masa akan datang per pekerja bisa dua kali lebih tinggi jika negara mencapai batas atas. Selama 50 tahun pelaksanaan, hal ini telah berhasil meningkatkan 1,4 persen dari pertumbuhan PDB setiap tahun.

Membangun modal manusia membutuhkan waktu, tetapi dalam jangka panjang pendekatan ini terbayar dengan pertumbuhan yang lebih cepat dan lebih banyak mengurangi kemiskinan. Kami telah membuat simulasi tentang apa yang akan terjadi jika semua negara meningkatkan hasil modal manusianya pada tingkat yang setara dengan kuartil untuk negara-negara yang telah memiliki kinerja baik selama satu dekade terakhir. Pada kecepatan perbaikan yang ambisius namun realistis, kemiskinan global pada tahun 2050 bisa hampir setengah dari apa yang akan terjadi jika negara-negara tidak melakukan perbaikan ini. Dan manfaatnya akan terkonsentrasi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Sejauh ini, 28 negara telah sepakat menjadi pengguna awal Proyek Modal Manusia kami, dan kami bekerja bersama mereka untuk menutup kesenjangan dan merancang rencana di seluruh negara untuk meningkatkan kesehatan dan pembelajaran. Berikut beberapa contohnya:

Peru berkomitmen menaikkan pendapatan pajak untuk meningkatkan hasil kesehatan dan pendidikan pada tahun 2021. Mereka menetapkan sebuah tujuan untuk mencapai 95 persen angka partisipasi anak-anak di pra-sekolah dan untuk pemenuhan cakupan kesehatan universal. Komitmen ini dibangun di atas kesuksesan Peru dalam mengurangi stunting pada masa kanak-kanak. Pada tahun 2008, 28 persen anak-anak di Peru mengalami stunting. Bank Dunia mendukung program yang kuat, di mana negara menggunakan transfer dana tunai ke masyarakat yang tersasar untuk mendukung ibu-ibu miskin untuk memastikan bahwa anak-anak mereka memiliki nutrisi dan stimulasi yang tepat. Hanya dalam tujuh tahun, Peru memangkas laju pertumbuhan stunting menjadi setengahnya, yaitu 14 persen. Kami sekarang mengambil pelajaran dari Peru dan membantu menerapkannya di seluruh dunia, termasuk di sini, di Indonesia.

Polandia, negara berpenghasilan tinggi yang bekerja bersama kami dalam pengembangan modal manusia, memiliki pembelajaran berharga untuk dibagikan. Reformasi pendidikan Polandia pada awal abad ini menghasilkan peningkatan besar dalam pembelajaran siswa. Kebijakan yang patut diperhatikan adalah sekolah menengah yang komprehensif selama tiga tahun untuk semua siswa, sebelum mereka memasuki jalur kejuruan atau akademik. Sebagai hasil langsung dari reformasi ini, antara tahun 2000 hingga 2006, Polandia bergerak dari peringkat bawah rata-rata OECD pada skor PISA dalam membaca, ke nomor sembilan.

Ethiopia muncul dari periode krisis politik dan sosial. Dalam pidato pengukuhannya, Perdana Menteri Abiy mengatakan bahwa salah satu solusi utama untuk masalah-masalah negara ini dapat ditemukan dalam pendidikan. Dia berjanji untuk melipatgandakan upaya pemerintah dengan tekad mutlak untuk fokus pada kualitas pendidikan. Kami siap bekerja dengan Perdana Menteri Abiy untuk mendukung pengembangan modal manusia, berbarengan dengan reformasi ekonomi.

Mesir mengurangi subsidi energi regresif untuk melakukan investasi modal manusia di seluruh bidang. Empat tahun lalu, subsidi untuk energi adalah 6,6 persen dari PDB, lebih besar dari nilai gabungan yang dibelanjakan pemerintah untuk kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial. Kami membantu menyalurkan investasi sektor swasta menuju transisi ke energi matahari, yang meningkatkan ruang fiskal pemerintah sekitar 14 miliar dolar setahun. Mesir menggunakan sumber daya itu untuk meluncurkan dua program transfer dana tunai baru yang kini menjangkau 9,5 juta orang; meningkatkan subsidi pangan untuk penduduk termiskin sebesar 300 persen; dan memperluas program makanan di sekolah yang mencakup 12 juta anak. Mesir telah memulai transformasi sistemnya secara keseluruhan terkait kesehatan, pendidikan, dan sistem sanitasi pedesaan, termasuk mengubah insentif untuk menciptakan hasil yang lebih baik.

Pada Pertemuan Tahunan terakhir, Presiden Paul Kagame membantu meyakinkan terkait pembangunan modal manusia, dan Rwanda telah membuat pengurangan stunting menjadi prioritas nasional. Negara ini menyasar anak-anak di bawah dua tahun di kabupaten-kabupaten yang memiliki angka stunting tertinggi, menggulirkan kampanye di media massa dan radio untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, dan menggunakan hibah bersyarat melalui proyek perlindungan sosial unggulan untuk meningkatkan layanan kesehatan dan gizi. Rwanda juga memperkuat mekanisme agar otoritas akuntabel terhadap hasil pelaksanaan proyek di semua tingkat pemerintahan.

Indonesia menetapkan target ambisius untuk mengurangi stunting dari 33 persen menjadi 22 persen pada 2022. Pemerintah mengikutinya dengan melakukan reformasi keuangan,  termasuk melalui pajak tembakau, untuk mengumpulkan lebih banyak sumber daya dalam berinvestasi pada modal manusia.

Pada Juli lalu, saya mengunjungi Dakung, di Lombok Tengah, bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dakung adalah salah satu dari 31 kabupaten di mana mereka menguji pendekatan baru, yaitu pendekatan akar rumput untuk memberikan layanan kesehatan dan pendidikan kunci. Saya melihat “pekerja pembangunan manusia” mengukur pertumbuhan bayi menggunakan tikar pertumbuhan, di mana saya diberi tahu bahwa hal ini telah meningkatkan kesadaran di masyarakat tentang akibat dari stunting. Para pekerja tersebut memberi penyuluhan kepada ibu hamil dan ibu-ibu lainnya tentang nutrisi dan mereka berinteraksi dengan anak-anak dalam sebuah program pengembangan anak usia dini.

Bank Dunia telah membantu merancang program rintisan ini, dan kami akan mendukung perluasannya di seluruh negeri. Bekerja di seluruh pemerintahan, Indonesia telah berkomitmen dengan anggaran 3,9 miliar dolar per tahun, dan akan dijalankan oleh  22 kementerian.

Awal tahun ini, Presiden Jokowi mengatakan, “Kami sering berbicara tentang kekayaan sumber daya alam kami, tetapi kami tampaknya mengabaikan fakta bahwa Indonesia memiliki kekuatan besar dalam bentuk sumber daya manusia. Ini benar-benar modal terbesar dan terkuat yang kami miliki… membangun masyarakat Indonesia adalah investasi kami untuk menghadapi masa depan. ”

Saat semua pemimpin menghadapi masa depan itu, mereka memiliki lebih banyak piranti ketimbang sebelumnya untuk membantu membangun modal manusia. Dengan meningkatkan aspirasi dan mengubah sifat pekerjaan, teknologi membuat investasi pada masyarakat lebih mendesak. Tetapi itu juga memberi kita cara-cara baru untuk meningkatkan hasil di bidang kesehatan dan pendidikan.

Saya telah menjadikan teknologi sebagai prioritas untuk belajar dari para inovator di seluruh dunia. Dalam sebulan terakhir, saya telah mengunjungi Silicon Valley dua kali, dan kami mengundang para inovator top di sini, ke Bali, untuk menunjukkan bagaimana teknologi dapat mempercepat proses menuju inklusi keuangan dan peningkatan modal manusia. Sebagai contoh:

Aplikasi Mindspark menggunakan jutaan  datapoint dari tes siswa untuk mencari kesalahan umum anak-anak dalam menjawab soal matematika, dan program ini merancang latihan remedi untuk setiap siswa. Platform ini telah membantu 80.000 siswa di seluruh India dalam meningkatkan keterampilan matematika dan Bahasa Hindi dalam biaya yang kecil dibanding biaya bersekolah.

Usaha startup dalam bidang kesehatan Digital Babylon mengembangkan aplikasi seluler yang menggunakan Artificial Intelligent dan pembelajaran mesin untuk mengatur konsultasi virtual dengan dokter dan profesional kesehatan. Di Rwanda, lebih dari 2 juta orang, atau sekitar 30 persen dari populasi negara, menggunakan aplikasi tersebut. Dan musim semi lalu, Babylon mengumumkan kemitraan dengan WeChat di China, di mana 1 miliar pengguna bisa mendapatkan saran perawatan kesehatan instan melalui ponsel mereka.

Ini bukan hanya tentang kesehatan dan pendidikan, ini juga tentang pekerjaan. Hari ini, kami mengumumkan kemitraan baru dengan Stripe, yang hadir di sini dalam Pameran Inovasi kami. Stripe menunjukkan bagaimana teknologi bisa mendukung jutaan wirausaha di seluruh dunia.

Bersama-sama, kami berencana untuk mensurvei para wirausahawan di lebih dari 100 negara untuk lebih memahami,  dari paling dasar, mengenai hambatan hukum, peraturan, dan birokrasi bagi perusahaan yang melakukan bisnis di internet, juga kebijakan yang membantu kewirausahaan digital untuk berkembang. Kami akhirnya akan memasukkan wacana ini ke dalam laporan Doing Business kami.

Bahkan negara-negara berkinerja terbaik tidak bisa mengabaikan upaya untuk membangun modal manusia.

Singapura, negara yang paling dekat dengan titik batas atas Indeks Modal Manusia, terus meningkatkan sistem pendidikannya untuk mengajarkan "kompetensi abad ke-21", seperti kesadaran diri dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, serta fokus pada pendidikan anak usia dini yang universal.

Inisiatif ini dibangun atas komitmen Perdana Menteri Lee Hsien Loong untuk menjadikan kesehatan dan pendidikan sebagai prioritas nasional. Dalam pidato Hari Nasional 2017, Perdana Menteri Lee mengatakan tujuannya adalah untuk "membangun masa depan kita sehingga warga Singapura dapat memulai dengan benar, tetap sehat, dan hidup cerdas di setiap usia."

Para pemimpin dunia harus mengambil pendekatan yang sama, yaitu berinvestasi pada masyarakat dengan perasaan mendesak yang kuat. Karena inovasi terus berakselerasi, akan lebih sulit untuk mengejar ketinggalan. Untuk setiap hari yang Anda tidak gunakan untuk  membangun modal manusia, maka ekonomi dan negara Anda akan semakin tertinggal jauh di belakang.

Ini adalah realitas ekonomi di era kita. Hal ini juga bersifat pribadi. Saya lahir di Korea Selatan pada tahun 1959, yang merupakan salah satu negara termiskin di dunia saat itu. Bank Dunia tidak memberi pinjaman suku bunga terendah sekalipun kepada Korea. Tingkat literasi di negara itu sekitar 23 persen.

Pada tahun 1962, Korea menerima pinjaman pertamanya dari Bank Dunia untuk proyek rel kereta api. Pinjaman kedua untuk pendidikan. Dan Korea terus berinvestasi dalam pendidikan:

Konstitusi dan undang-undang negara mewajibkan pendidikan sekolah dasar. Pada 1945, 54 persen anak-anak Korea terdaftar di sekolah dasar; pada tahun 1959 menjadi 96 persen.

Pada 1960-an, Korea memungkinkan warganya untuk masuk sekolah menengah tanpa mengikuti tes; pada tahun 1974 pemerintah memiliki kebijakan standarisasi pendidikan sekolah menengah.

Pemerintah Korea menyusun rencana lima tahun untuk pendidikan sains dan teknologi pada 1960-an, bersamaan dengan rencana ekonomi lima tahun. Mereka mendirikan Korea Advanced Institute of Sciences dan beberapa lembaga penelitian yang didanai pemerintah lainnya.

Saat ini, tingkat literasi Korea Selatan mencapai hampir 98 persen. Dalam 37 tahun terakhir, PDB telah meningkat 47 kali lipat. Investasi pada manusia dapat mengubah kehidupan, mata pencaharian, dan trayektori dari seluruh negara, jika hal itu adalah prioritas yang mendesak.

Ketika kita berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi, mempercepat pengentasan kemiskinan, dan membangun modal manusia, kita sebaiknya mengikuti kata-kata mantan Presiden Indonesia Soekarno lebih dari setengah abad yang lalu.

Pada tahun 1955, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika di Bandung, sebuah pertemuan 29 negara yang baru merdeka, yang di antara mereka mewakili sekitar setengah dari populasi dunia. Presiden Soekarno menantang para pemimpin untuk tidak dibimbing oleh rasa takut, tetapi sebaliknya:

“Dibimbing oleh harapan dan tekad; dibimbing oleh cita-cita; dan ya, dibimbing oleh mimpi.”

Impian kita adalah dunia yang bebas dari kemiskinan, dan saat ini kita berada pada titik paling dekat pada perwujudan mimpi itu. Tetapi tidak satu pun dari kita dapat bersembunyi dari realitas krisis modal manusia ini.

Cucu-cucu kita dan cicit-cicit kita akan bertanya: apa yang Anda lakukan ketika Anda tahu betapa pentingnya investasi dalam modal manusia untuk masa depan saya, dunia saya?

Apa yang Anda lakukan ketika Anda menemukan bahwa peningkatan kesehatan dan pendidikan dapat mengubah miliaran kehidupan dan jalannya seluruh negara?

Apakah Anda berkomitmen untuk mengakhiri stunting?

Apakah Anda meningkatkan pembelajaran untuk setiap anak?

Apakah Anda memastikan bahwa setiap orang memiliki akses ke layanan kesehatan dan kesempatan untuk menjalani hidup yang panjang dan sehat?

Apakah Anda mempersiapkan kaum muda dengan pekerjaan di masa depan?

Jika kita tidak bertindak sekarang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, saya khawatir bahwa aspirasi tersebut akan dipenuhi oleh rasa frustrasi, dan lebih banyak negara jatuh dalam jalur kerapuhan, konflik, kekerasan, ekstremisme, dan akhirnya migrasi. Mengingat seberapa cepat aspirasi meningkat, kita tidak akan hanya memiliki Musim Semi Arab. Kita akan memiliki Musim Semi Afrika, Musim Semi Asia Selatan, Musim Semi Amerika Latin, dan seterusnya.

Bagi para pemimpin dunia, terutama kepala negara dan menteri keuangan, sekarang kita tahu pentingnya investasi ini untuk produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Kita tidak boleh banyak alasan, tetapi harus bertindak dengan rasa urgensi yang diperlukan dalam krisis ini,  untuk berinvestasi pada manusia.

Kami mempunyai data tersebut. Saya telah menggambarkan berbagai contoh inovatif dan transformasional tentang bagaimana beberapa negara telah berhasil.

Seperti yang banyak dari Anda ketahui, sebagian besar kehidupan saya dihabiskan untuk bekerja untuk memberikan perawatan medis dan pendidikan yang kompleks, di semua tingkatan, di beberapa tempat termiskin di dunia. Hari ini, saya di sini untuk memberi tahu Anda bahwa kita dapat melakukan ini. Dan itu mungkin merupakan hal yang paling penting yang Anda lakukan untuk mempersiapkan negara Anda menghadapi masa depan, untuk memberi setiap anak, di manapun di dunia, kesempatan untuk meraih bintang.

 

Api
Api