ARTIKEL

Krisis Kebakaran dan Asap Indonesia

25 November 2015


Indonesia sedang menghadapi bencana lingkungan hidup. Api dari lahan gambut yang dikeringkan menghasilan polusi udara dan asap yang sangat parah, sehingga menyebabkan penyakit pernapasan. Gangguan pada aktivitas ekonomi membawa kerugian senilai $16 milyar bagi Indonesia. Untuk menghentikan asap tersebut akan memerlukan komitmen melakukan manajemen hutan dan lahan gambut yang lebih baik.


Krisis kebakaran dan asap Indonesia tahun ini telah disebut sebagai “tindakan kriminal lingkungan hidup terbesar pada abad ke-21”. Sejumlah besar hutan dan lahan terbakar tanpa terkendali sejak bulan Agustus 2015, dan dampaknya pada kesehatan, pendidikan dan penghidupan jutaan masyarakat Indonesia di wilayah sekitar kebakaran sangat terasa dan merugikan. Ekonomi Indonesia juga mengalami kerugian milyaran dolar.

 

APA PENYEBAB KABUT ASAP?

Kebakaran hutan merupakan masalah pengelolaan lanskap yang terjadi tiap tahun pada musim kering, ketika api dipakai untuk membersihkan atau menyiapkan lahan pertanian. Asap, atau ‘haze’, yang dihasilkan dari kebakaran menyebabkan polusi udara sangat luas bagi Indonesia dan negara tetangga Malaysia dan Singapura. Api terjadi di berbagai jenis tanah, namun asap dari kebakaran lahan gambut lebih dahsyat, bahkan menjadi sumber 90% asap yang timbul. Hal ini terjadi karena asap dari kebakaran lahan gambut memproduksi tiga sampai enam kali lebih banyak partikel dibanding kebakaran dari jenis tanah lain. Antara lain, lahan gambut terletak di dataran rendah Sumatra, Kalimantan dan Papua, yang mengalami dampak terparah dari kebakaran dan asap.

 

MENGAPA ASAP SANGAT PARAH TAHUN INI?

Tahun ini adalah tahun El Niño, dan ini berarti suhu laut yang lebih tinggi di perairan selatan menimbulkan perubahan cuaca ekstrim secara global. Di Indonesia, El Niño menunda datangnya musim hujan yang menyebabkan kemarau panjang dan gagal panen di berbagai lokasi. Dalam situasi kering seperti ini, hutan dan lahan gambat sangat rawan terbakar. Akibat El Niño, musim hujan yang datang terlambat diperkirakan akan lebih singkat. Bila sejarah terulang, kebakaran diperkirakan akan timbul kembali pada awal tahun 2016.

 

APA ITU GAMBUT?

Lahan gambut adalah bagian dari ekosistem hutan tropis dengan tanah yang lembab dan banjir berkala menghalangi kayu dan daun mati dari proses pembusukan. Ketika materi organik ini semakin terkumpul ia menyerap lebih banyak air, mirip spons raksasa. Lahan gambut kemudian membentuk kubah materi organik yang basah dengan tingkat kedalaman yang berbeda. Lahan gambut yang paling rawan terbakar memiliki kedalaman sebesar 4 meter, dan bisa mencapai kedalaman lebih dari 20 meter. Selama gambut tersebut masih basah, ia tidak akan terbakar. Tapi ketika lahan gambut dikeringkan guna menjadi lahan tani, ia mudah terbakar. Begitu api mulai menyala di lahan gambut, akan sangat sulit dipadamkan karena bara api dapat tersimpan di dalam tanah selama berbulan-bulan.

 

APA DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DAN ASAP INDONESIA?

Api, dan asap yang dihasilkannya, telah menyebabkan kerugian ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi Indonesia dan negara-negara tetangga. Jumlah kerugian dan dampak jangka panjangnya belum sepenuhnya diketahui. Bank Dunia tengah ikut serta menghitung dampak kerugian dari kebakaran dan asap, untuk berbagai sektor.  

 

DAMPAK EKONOMI

Perkiraan awal dari kerugian ekonomi untuk Indonesia akibat kebakaran hutan tahun ini melampaui $16 milyar. Jumlah ini dua kali lebih besar dari kerugian dan kerusakan akibat tsunami tahun 2004 di Aceh, setara dengan 1.8% Produk Domestik Brutto (PDB). Estimasi ini mencakup kerugian pertanian, kehutanan, transportasi, perdagangan, industri, pariwisata dan sektor-sektor lainnya. Sebagian dari kerugian itu akibat kerusakan dan kerugian langsung terhadap hasil panen, kehutanan, perumahan dan infrastruktur, dan biaya yang ditimbulkan untuk menangani api.

Banyak kerugian ekonomi disebabkan dampak tidak langsung, seperti terganggunya perjalanan udara, laut dan darat akibat asap. Dampak pada pertumbuhan PDB lokal diperkirakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan di wilayah-wilayah yang paling parah, seperti Kalimantan Tengah.

 

DAMPAK SOSIAL DAN PENDERITAAN MANUSIA

Kualitas udara di desa-desa di sekitar kebakaran lahan seringkali melampaui angka 1.000 pada Indeks Standar Polutan (PSI). Angka ini lebih dari tiga kali lipat  tingkat  berbahaya. Racun yang dibawa oleh asap menyebabkan gangguan pernafasan, mata dan kulit, serta terutama sangat berbahaya bagi balita dan kaum lanjut usia; udara yang beracun tersebut mengandung karbondioksida, sianida dan amonium. Dampak jangka panjangnya untuk kesehatan belum sepenuhnya diketahui namaun diperkirakan akan sangat signifikan.

Ketika asap menyebar, kegiatan perdagangan dan sekolah di wilayah terpaksa dihentikan. Hal ini melumpuhkan bagi banyak keluarga berpenghasilan rendah dan membahayakan mereka untuk jatuh miskin. Sekitar 5 juta siswa kehilangan waktu belajar akibat penutupan sekolah pada tahun 2015.

 

DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP

Lebih dari 2,6 juta hektar hutan, lahan gambut dan lahan lainnya terbakar pada tahun 2015 – 4,5 kali lebih luas dari Pulau Bali. Dampak pada wilayah yang terbakar termasuk hilangnya kayu atau produk non-kayu, serta sebagai habitat satwa. Meski belum dianalisa secara penuh, kerugian lingkungan terkait keanekaragaman hayati diperkirakan bernilai sekitar $295 juta pada tahun 2015. Dampak jangka panjang terhadap kehidupan alam bebas dan biodiversitas belum sepenuhnya dikaji. Ribuan hektar habitat orangutan dan hewan yang hampir punah lainnya pun ikut hancur.

Pada tingkat global, kebakaran hutan dan lahan gambut menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca. Pada bulan Oktober 2015, emisi per hari kebakaran hutan di Indonesia melebihi emisi perekonomian Amerika Serikat, atau lebih dari 15,95 juta ton emisi CO2 per hari. Jika Indonesia bisa menghentikan kebakaran, Indonesia dapat mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030.

 

APA YANG BISA DILAKUKAN?

Tidak ada solusi jangka pendek untuk menangani kebakaran hutan dan asap di Indonesia. Penyelesaian masalah butuh pendekatan baru untuk mengelola hutan dan lahan gambut di Indonesia, dan  pengelolaan kebakaran yang lebih berfokus pada pencegahan. Hal ini membutuhkan upaya besar untuk menjawab lemahnya pengawasan penggunaan lahan, memperkuat tata kelola pemerintahan dan akuntabilitas – terutama terkait kebijakan, regulasi dan sistem akses lahan.

Indonesia bisa belajar dari pengalaman internasional yang berhasil memulihkan lahan yang rusak, seperti rehabilitasi Loess Plateau di Tiongkok, rehabilitasi Great Rift Valley di Ethiopia, atau contoh Silvopastoral di Kolombia. Indonesia juga bisa mempelajari dari Thailand dan Afrika Selatan pengalaman mereka mengatasi kebakaran.

Pemerintah Indonesia telah mengumumkan berbagai langkah tegas menuju solusi jangka panjang, melalui:

  1. Moratorium menghentikan pengeringan dan pembangunan di lahan gambut;
  2. Program rehabilitasi lahan gambut yang rusak, berskala besar;
  3. Pengelolaan kebakaran hutan yang lebih bertumpu pada pencegahan.

Komunitas internasional siap siaga membantu Indonesia dalam langkah-langkah tersebut.