Kontak untuk Kantor Perwakilan
Jakarta (+62-21) 5299-3000

Indonesia Stock Exchange Building, Tower 1, 9th Floor. Jl. Jenderal Sudirman Kav 52-53, Jakarta 12190
wbindonesia@worldbank.org

Washington, +1 202-473-4709

1818 H Street, N.W, Washington, DC 20433 U.S.A.
eastasiapacific@worldbank.org

Halaman ini dalam:

Ikhtisar

Indonesia terus mencatat pertumbuhan yang signifikan. Pendapatan nasional per kapita beranjak naik dari $2.200 pada tahun 2000 menjadi $3.563 pada tahun 2012.

Dalam hal stabilitas makro ekonomi, Indonesia telah berhasil mencapai banyak target fiscal, termasuk secara signifikan menurunkan rasio utang terhadap produk domestik bruto dari 61 persen di tahun 2003 menjadi 24 persen pada tahun 2012.

Indonesia telah membuat rencana pembangunan jangka panjang untuk tahun 2005-2025. Rencana ini dibagi menjadi ke dalam periode lima tahun, masing-masing dengan prioritas pembangunan yang berbeda. Rencana pembangunan jangka menengah untuk tahun 2009-2014 merupakan tahap kedua dan memberi fokus pada:
• meningkatkan kualitas sumberdaya manusia
• pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
• memperkuat daya saing ekonomi

Namun, tantangan yang ada masih banyak.

Dari 234 juta penduduk Indonesia, saat ini lebih dari 32 juta hidup di bawah garis kemiskinan dan sekitar setengah dari seluruh rumah tangga tetap berada di sekitar garis kemiskinan nasional yang ditetapkan pada Rp200.262 per bulan.

Pertumbuhan lapangan kerja lebih lambat daripada pertumbuhan penduduk. Layanan publik tetap tidak mencukupi berdasarkan standar negara berpendapatan menengah. Indonesia pun mencatatkan prestasi buruk dalam sejumlah indikator terkait kesehatan dan infrastruktur, dan akibatnya, kemungkinan gagal mencapai sejumlah target Tujuan Pembangunan Milenium (MDG).

Data dari tahun 2009 menunjukkan bahwa Indonesia masih mengalami 307 kematian untuk setiap 100.000 kelahiran hidup, sementara MDG bertujuan untuk menurunkannya menjadi 105 kematian pada tahun 2015. Angka kematian ibu juga masih tinggi, dan mungkin menjadi salah satu MDG yang tak bisa dipenuhi.

Selain itu, meski telah terjadi kemajuan baru, akses ke peningkatan fasilitas sanitasi saat ini mencatatkan 68 persen dari populasi, yang masih sangat jauh dari target MDG sebesar 86 persen.

Untuk iklim usaha, meski tetap positif, masih mengalami tantangan dengan adanya ketidakpastian regulasi, terbatasnya infrastruktur, dan penyesuaian upah minimum.

Kerjasama antara Indonesia dengan Bank Dunia telah berevolusi dalam kurun waktu 60 tahun, dan menjadi salah satu bentuk kerjasama paling penting dalam hal pendanaan dan pengetahuan. Sejak tahun 2004, dukungan yang diberikan Bank Dunia bagi Indonesia lebih tertuju untuk mendukung kebijakan pembangunan yang ditentukan pemerintah. Ini konsisten dengan status Indonesia yang telah naik menjadi negara berpenghasilan menengah.

Agar tetap relevan dan tanggap terhadap kebutuhan Indonesia, Kelompok Bank Dunia terus memberi dukungan dalam berbagai bentuk untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di Indonesia.

Pada akhir tahun 2012, Kelompok Bank Dunia mengesahkan Strategi Kemitraan dengan Indonesia. Strategi ini dikembangkan melalui proses konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan akan mengarahkan program Kelompok Bank Dunia selama tahun fiskal 2013-2015. Strategi baru ini secara khusus dibuat untuk mendukung “Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi 2011-2025” dan akan memberi fokus pada empat bidang.

Pro-Pertumbuhan: mendukung kinerja perhubungan dan logistic, meningkatkan regulasi kompetisi dan inovasi, menjaga stabilitasi sektor finansial dan meningkatkan akses untuk mendapatkan kredit, meningkatkan jumlah dan efisiensi belanja public, serta manajemen fiskal di tingkat nasional dan daerah.

Pro-Pekerjaan: meningkatkan tata kelola dan manajemen sistem pendidikan dengan memperbaiki mutu dan kinerja guru, meningkatkan sumberdaya riset serta memfasilitasi transformasi institusional yang diperlukan untuk menerapkan sistem jaminan sosial.

Pro-Masyarakat Miskin: membantu sistem jaminan sosial agar bisa menjangkau rumahtangga miskin dan rentan dengan lebih baik, meningkatkan kinerja program berbasis masyarakat yang dijalankan pemerintah, meningkatkan revitalisasi pertanian, serta meningkatkan kesehatan dan gizi, khususnya masyarakat miskin dengan meningkatkan akses layanan kesehatan, termasuk kesehatan ibu dan anak, juga meningkatkan pemantauan HIV/AIDS juga akses sanitasi dan air bersih.

Pro-Lingkungan: mendukung penerapan Strategi REDD+, perlindungan terumbu karang dan sumberdaya laut, meningkatkan tindakan untuk mengurangi risiko bencana dan perubahan iklim.

Selain empat bidang utama di atas, Kelompok Bank Dunia juga akan bekerja di dua bidang lintas sektor, yaitu gender, serta tata pemerintahan dan anti korupsi.

Portfolio pinjaman Bank Dunia di Indonesia pada April 2013 terdiri dari 70 proyek aktif dengan nilai todal $7,612 milyar yang difokuskan pada pemberdayaan masyarakat, peningkatkan administrasi pemerintah, infrastruktur, energi, dan pembangunan pedesaan.

Keterlibatan Kelompok Bank Dunia 
International Finance Corporation (IFC), bagian dari Kelompok Bank Dunia, melakukan investasi dengan nilai hampir $300 juta untuk delapan proyek, dan menghabiskan hampir $7 juta untuk proyek bantuan teknis selama tahun fiskal 2012 (Juli 2011 – Juni 2012). Dana tersebut digunakan untuk memperluas akses layanan keuangan bagi jutaan masyarakat, mengembangkan infrastruktur vital, meningkatkan mutu praktik perusahaan swasta, dan menangani dampak perubahan iklim. IFC telah mencapai banyak hasil. Di Indonesia kami memiliki komitmen untuk meningkatkan akses layanan keuangan bagi 1,6 juta orang serta 5.000 perusahaan skala kecil dan menengah, juga meningkatkan akses infrastruktur bagi 8.5 juta penduduk. Melalui aktivitas kami dalam memberi nasihat pada sektor agribisnis, IFC telah membantu meningkatkan produktivitas lebih dari 11.000 petani kecil. Aktvitas tersebut telah meningkatkan pemasukan mereka hingga lebih dari $9 juta secara total, sekitar $800 per tahun untuk tiap petani kecil. IFC juga memiliki portfolio investasi sebesar $1,2 milyar dimana dari jumlah tersebut $900 juta disimpan dalam rekening IFC.

 

Kelompok Bank Dunia adalah penyedia pendanaan dan bantuan teknis untuk pembangunan yang terbesar bagi Indonesia. Dampak yang dari kerjasama ini telah dirasakan di berbagai sektor pembangunan.

Saat ini Bank Dunia masih mendukung PNPM Mandiri, program berbasis masyarakat terbesar yang menjadi contoh bagi program serupa di tingkat nasional dan dunia. Salah satu program dari PNPM Mandiri adalah PNPM Generasi yang memberikan fokus pada tiga Millennium Development Goals yang masih tertinggai, yaitu kesehatan ibu, kesehatan anak, dan pendidikan universal. PNPM Generasi saat ini bekerja di 2.892 desa di delapan provinsi, dan menjangkau lebih dari 3,6 juta penerima manfaat yang setengahnya merupakan perempuan. Beberapa hasil yang telah dicapai program ini  adalah membantu memberi imunisasi kepada 365.000 anak, mengatasi kurang gizi pada 185.000 anak, dan memastikan 770.000 ibu hamil menerima suplemen zat besi.

Dalam bidang pendidikan, Bank Dunia ikut mendanai program pendidikan anak usia dini (PAUD). Program ini diluncurkan pada tahun 2007 dan telah meningkatkan akses layanan PAUD di 3.000 desa berpenghasilan rendah. Sekitar 6.000 PAUD telah dibentuk di 50 kabupaten dan telah melayani lebih dari setengah juta anak usia 0 hingga 6 tahun.

Delapan tahun setelah tsunami besar melanda Aceh dan Nias, Multi Donor Fund (MDF) yang mendukung proses rekonstruksi berakhir pada Desember 2012. Program ini mengelola hibah sebesar $655 juta yang berasal dal 15 lembaga donor. Pencapaian MDF mencerminkan upaya kerjasama dan ketahanan masyarakat Indonesia. Program ini berhasil membantu membangun kembali dan merehabilitasi sekitar 20.000 rumah, lebih dari 3.000 km jalan di desa, hampir 1.000 proyek infrastruktur lokal, dan lebih dari 1.200 gedung pemerintahan. Capaian ini menunjukkan keteguhan masyarakat Indonesia untuk membangun kembali dengan dukungan komunitas global. MDF juga membawa pengalaman berharga bagi Indonesia dan dunia dalam hal tanggap bencana, serta bagaimana mengurangi risiko bencana di masa depan.

Pengalaman tanggap bencana di Aceh kemudian dicontoh di Pulau Jawa ketik serangkaian bencana alam terjadi sejak tahun 2006. Java Reconstruction Fund (JRF) kemudian didirikan, dan dipercaya untuk mengelola hibah sebesar $95 juta. Saat usai pada Desember 2012, program ini telah membantu membangun lebih dari 15.000 rumah dan hampir 4.000 proyek infrastruktur lokal. Program ini juga membantu mengembangkan 15.000 usaha skala mikro dan kecil untuk meningkatkan matapencaharian masyarakat.

Melalui proyek investasi energi bersih panas bumi, Indonesia akan meningkatkan pembangkitan listrik menggunakan panas bumi. Indonesia merupakan negara dengan sumberdaya panas bumi terbesar di dunia. Proyek ini berencana meningkatkan listrik dari panas bumi menjadi 4.000 Megawatt, yang setara dengan 40 persen peningkatkan listrik panas bumi global.

 

PINJAMAN

Indonesia: Komitmen berdasarkan Tahun Fiskal (dalam jutaan dolar)*

*Jumlah termasuk komitmen IBRD dan IDA

Seputar Kelompok Bank Dunia

Info lebih lanjut mengenai Grup Bank Dunia lainnya di Indonesia