Ikhtisar

Meskipun pertumbuhan ekonomi melambat dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan pertumbuhan di Indonesia masih kuat. Pendapatan kotor nasional per kapita (Atlas method) beranjak naik dari $560 pada tahun 2000 menjadi $3.650 pada tahun 2014. Saat ini, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, dengan ekonomi terbesar kesepuluh berdasarkan paritas daya beli, dan merupakan anggota G-20. Indonesia telah berhasil mengurangi kemiskinan sebanyak lebih darisetengahnya sejak tahun 1999, menjadi 11,2 persen pada tahun 2014.

Rencana ekonomi Indonesia mengikuti rencana pembangunan jangka panjang untuk tahun 2005-2025. Rencana ini dibagi dalam periode lima tahun, masing-masing dengan prioritas pembangunan yang berbeda. Rencana pembangunan jangka menengah saat ini – yang merupakan tahap ketiga dari rencana jangka panjang – terentang antara tahun 2015 – 2020, berfokus antara lain pada pembangunan infrastruktur dan meningkatkan program bantuan sosial untuk pendidikan dan pemeliharaan kesehatan. Pengalihan anggaran belanja negara telah dilakukan dengan reformasi subsidi energy yang berkepanjangan, memungkinkan pemerintah untuk  melakukan investasi lebih besar pada program-program yang memberikan dampak langsung pada masyarakat miskin dan hampir miskin

Tantangan-tantangan tetap masih ada dalam mencapai tujuan pembangunan Indonesia.

Dari 252 juta penduduk Indonesia, saat ini 28,6 juta hidup di bawah garis kemiskinan dan sekitar separuh dari seluruh rumah tangga tetap berada di sekitar garis kemiskinan nasional yang ditetapkan pada Rp 330.776 per bulan (sekitar U$ 22.6)

Pertumbuhan lapangan kerja lebih lambat dibandingkan pertumbuhan penduduk. Layanan publik tetap kurang layak berdasarkan standar negara berpendapatan menengah. Indonesia pun mencatat prestasi kurang baik berdasarkan indikator kesehatan dan infrastruktur.

Sebagai contoh, data tahun 2013 menunjukkan bahwa Indonesia masih mengalami 228 kematian bayi untuk setiap 100.000 kelahiran hidup, sementara MDG bertujuan untuk menurunkan angkat tersebut menjadi 105 kematian pada tahun 2015. Angka kematian ibu juga masih sangat tinggi, yaitu 190 kematian ibu untuk setiap 100.000 kelahiran hidup.

Selain itu, meski telah terjadi kemajuan baru, akses masyarakat kepada fasilitas jamban yang sehat saat ini tercatat 68 persen, yang artinya masih jauh dari target MDG sebesar 86 persen.

Untuk iklim usaha, meski secara umum positif, Indonesia terus mengalami tantangan ketidakpastian dan terbatasnya infrastruktur. Namun, Badan Koordinasi Penanaman Modal telah membentuk Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk pengurusan izin usaha,  dan ada rencana lebih lanjut agr regulasi semakin mendukung.

Pembaharuan Terakhir: 7 Oktober 2015

Kerjasama antara Indonesia dengan Bank Dunia telah berevolusi dalam kurun waktu 60 tahun, dan menjadi salah satu bentuk kerjasama paling penting dalam hal pendanaan, penyediaanpengetahuan dan dukungan implementasi. Sejak tahun 2004, dukungan yang diberikan Bank Dunia bagi Indonesia lebih difokuskan untuk mendukung kebijakan pembangunan yang ditentukan pemerintah.  Hal ini konsisten dengan status Indonesia yang telah naik menjadi negara berpenghasilan menengah.

Agar tetap relevan dan tanggap terhadap kebutuhan Indonesia, Kelompok Bank Dunia terus memberi dukungan dalam berbagai bentuk untuk menjawab beragam tantangan pembangunan di Indonesia.

Saat ini, sebuah Country Partnership Framework (CPF) baru sedang disusun, mengikuti terbentuknya pemerintah Indonesia yang baru pada akhir tahun 2014. Formulasi kerangka kerja ini dikembangkan melalui konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk mitra pemerintah, pihak swasta dan kelompok masyarakat sipil. CPF akan mengatur program-program Kelompok Bank dunia untuk tahun fiskal 2016 hingga 2020.

Portfolio pinjaman Bank Dunia di Indonesia pada Oktober 2015 terdiri dari 41 proyek aktif dengan nilai total $6,7 milyar yang difokuskan pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan administrasi pemerintah, energi dan pembangunan infrastruktur.

 

Keterlibatan Kelompok Bank Dunia

International Finance Corporation (IFC), bagian dari Kelompok Bank Dunia, telah melakukan investasi dengan nilai sekitar $2,24 milyar untuk klien dan program di Indonesia. IFC memiliki komitmen untuk meningkatkan akses layanan keuangan bagi 1,6 juta orang serta 5.000 perusahaan skala kecil dan menengah, juga meningkatkan akses infrastruktur bagi 8.5 juta penduduk. Melalui aktivitas kami dalam memberikan konsultasi pada sektor agribisnis, IFC telah membantu meningkatkan produktivitas lebih dari 11.000 petani kecil.

 

Pembaharuan Terakhir: 7 Oktober 2015

Kelompok Bank Dunia tetap menjadi penyedia dana dan bantuan teknis terbesar untuk pembangunan di Indonesia dan terus memberikandampak positif bagi pembangunan di berbagai sektor.

Program-program utama Bank Dunia berupaya mengatasi tantangan besar di Indonesia. PNPM Generasi yang berfokus pada pencapaian tiga tujuan MDG yang masih tertinggal, yaitu kesehatan ibu, kesehatan anak, dan pendidikan universal. PNPM Generasi saat ini bekerja di 5.488 desa di 11 provinsi. Beberapa capaian program ini  adalah membantu memberi imunisasi kepada ratusan ribu anak, mengatasi masalah kurang gizi, dan memastikan hampir satu juta ibu hamil menerima suplemen zat besi.

Mengingat pentingnya membantu masyarakat miskin agar bisa membantu diri mereka sendiri, Bank Dunia juga mendukung Program Keluarga Harapan (PKH) milik pemerintah, yang berusaha memutus rantai kemiskinan keluarga paling miskin di Indonesia. Sesi pelatihan keluarga dan materi ajar dibuat dengan bantuan Bank Dunia telah disertakan dalam PKH, untuk membantu para ibu memiliki pemahaman lebih baik tentang kesehatan dan gizi, cara mengasuh anak yang baik, perlindungan anak, serta manajemen keuangan.

Di bidang pendidikan, Bank Dunia mendukung pemerintah menerapkan program reformasi guru. Melalui proyek “Bermutu” yang dimulai sejak 2007, lebih dari 1,7 juta guru sekarang menyandang gelar S1 seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang Guru yang disahkan pada tahun 2005. Proyek ini mendukung perkembangan guru melalui pelatihan, penelitian serta membentuk kelompok kerja professional di berbagai daerah Indonesia.

Bank Dunia juga membantu Indonesia menangani tantangan besar dalam hal manajemen risiko bencana, dengan meningkatkan kerjasama dan pemanfaatan instrumen finansial, serta memberikan contoh terbaik di dunia. Salah satu pendekatan yang berhasil adalah dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam upaya mitigasi dan rekonstruksi; contohnya penggunaan perangkat lunak gratis oleh masyarakat yang menghasilkan skenario dampak bencana untuk melakukan perencanaan, kesiap-siagaan, dan tanggap bencana secara lebih baik. Selain itu, keberhasilan rehabilitasi perumahan berbasis masyarakat, atau dikenal dengan Program Rekompak, telah diadopsi pemerintah untuk mengembangkan program perumahan skala nasional.

Dan, sebagai bagian dari dukungan Bank Dunia dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan tata kelola pemerintahan, keterlibatan dalam Open Government Indonesia terus berlanjut. Aktivitas ini mencakup bantuan mengembangkan cetak biru Open Data, disertai dengan pelatihan bagi institusi pemerintah dan mengajak masyarakat untuk menggunakan data yang telah tersedia di portal http://data.go.id

Pembaharuan Terakhir: 7 Oktober 2015


PINJAMAN

Indonesia: Komitmen berdasarkan Tahun Fiskal (dalam jutaan dolar)*

*Jumlah termasuk komitmen IBRD dan IDA