SIARAN PERS

Kebijakan Aktif Diperlukan untuk Menutup Kesenjangan Gender di Kawasan Asia Timur dan Pasifik

17 Juni 2012

Walau mulai menutup di bidang pendidikan dan kesehatan, disparitas gender dalam peluang ekonomi dan suara/peran peremuan masih cukup besar

 

 

 


Bangkok, 17 Juni, 2012
– Laporan terkini Bank Dunia menunjukkan bahwa meskipun kesetaraan gender telah meningkat di seluruh Kawasan Asia Timur dan Pasifik, disparitas gender masih tampak pada beberapa bidang utama. Menurut laporan  “Toward Gender Equality in East Asia and the Pacific” (Menuju Kesetaraan Gender di Asia Timur dan Pasifik),  meningkatkan akses perempuan terhadap peluang kerja dan ekonomi dapat mendorong produktifitas secara signifikan di kawasan.
 
“Menyamaratakan  peluang dalam partisipasi ekonomi dapat meningkatkan produktifitas pekerja di kawasan sebesar 7 hingga 18 persen. Kenaikan ini memiliki dampak yang luas untuk pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Jadi, pemberdayaan ekonomi perempuan bukan hanya benar, tetapi juga tepat untuk dilakukan,” kata Pamela Cox, Wakil Presiden Bank Dunia Untuk Asia Timur dan Pasifik terkait temuan laporan yang didukung AusAID tersebut.

Laporan diluncurkan hari ini di Bangkok dalam sebuah acara dialog dengan pembuat kebijakan, aktivis masyarakat sipil dan pemerhati isu gender dan pembangunan. Dialog ini bertujuan membahas opsi-opsi kebijakan sadar gender, dalam rangka meningkatkan kualitas pembangunan.


Bank Dunia berkomitmen mendukung negara-negara menangani hambatan yang dihadapi perempuan dalam meraih peluang ekonomi, baik itu dengan cara memperkuat keterampilan mereka, meningkatkan akses terhadap lahan dan modal, atau meningkatkan suara dan pengaruh mereka di masyarakat,” kata Annette Dixon, Direktur Bank Dunia untuk Asia Tenggara.

Studi tersebut menyatakan, kesetaraan gender dalam peluang ekonomi dan suara di masyarakat dapat memperbaiki capaian pembangunan, termasuk mengingkatkan produktifitas dan pertumbuhan, serta mengakselerasi pengurangan kemiskinan. Jika dibanding kawasan lain, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja di Asia Timur dan Pasifik tergolong cukup tinggi. Kendati demikian,kemajuannya tidak merata.
 

“Asia Timur dan Pasifik adalah kawasan yang luas dan beragam, dengan kemajuan ekonomi dan sosial yang beragam pula – termasuk dalam hal kesetaraan gender. Dalam banyak hal, perempuan Asia Timur dan Pasifik saat ini berada dalam posisi yang lebih baik untuk berpartisipasi,  berkontribusi dan menerima manfaat dari pembangunan. Namun demikian masih banyak sekali yang harus dikerjakan,” kata Andrew Mason, penulis laporan.

 

Toward Gender Equality in East Asia and the Pacific menelaah sejumlah isu pembangunan yang tergolong relevan untuk kawasan ini dari kacamata gender – termasuk meningkatnya integrasi ekonomi global, meningkatnya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, migrasi, urbanisasi, dan penuaan populasi. Semua isu ini tidak hanya membuka peluang baru, namun juga resiko baru dalam upaya mendorong kesetaraan gender.

 

Dengan data dan bukti baru yang tertuang dalam laporan ini, negara-negara kawasan dapat lebih  menyusun kebijakan berdasarkan bukti. Laporan ini mengidentifikasi empat bidang prioritas untuk negara-negara Asia Timur dan Pasifik:

  • Mendorong kesetaraan gender di bidang pendidikan dan kesehatan.
  • Menutup kesenjangan gender dalam peluang ekonomi.
  • Memperkuat suara dan pengaruh perempuan – juga melindungi mereka dari kekerasan.  Memperkuat suara perempuan akan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan pembangunan dan, oleh karena itu, meningkatkan kualitas pembangunan. 
  • Memanfaatkan peluang dan mengelola resiko yang muncul dari tren-tren kawasan. Menyikapi tren-tren ini dengan kebijakan yang sadar gender dapat meningkatkan  hasil capaian gender dan pembangunan.

Laporan ini menyoroti bahwa kesetaraan gender pada banyak bidang tidaklah terjadi secara serta merta dengan adanya pertumbuhan dan pembangunan. Untuk itu, diperlukan kebijakan sadar gender jika negara-negara ingin mencapai kesetaraan gender dan pembangunan yang lebih pesat.  “Para pembuat kebijakan di kawasan ini perlu memahami mengapa upaya menutup kesenjangan gender begitu beragam antar negara, dan menyikapinya dengan kebijakan-kebijakan korektif,”  lanjut Andy Mason. “Pada akhirnya, kesetaraan gender itu sendiri adalah tujuan pembangunan yang penting dan juga kebijakan pembangunan yang baik.”

Kontak Media
SIARAN PERS NO:
2012/511/EAP