Halaman ini dalam:

ARTIKEL

Laporan Triwulanan Perekonomian Indonesia: Penyesuaian berlanjut

05 Oktober 2013

  • Laju penyesuaian ekonomi Indonesia dan penetapan kebijakan untuk harga-harga komoditas yang melemah dan pengetatan pembiayaan eksternal semakin meningkat pada kuartal ketiga, dengan depresiasi Rupiah sebesar 17 persen terhadap dolar AS dan para penyusun kebijakan memperketat kebijakan moneter.
  • Moderasi permintaan dalam negeri masih terus berlangsung, yang mempengaruhi pertumbuhan produksi (output). Bank Dunia kini memproyeksikan pertumbuhan PDB akan melambat menjadi 5,6 persen pada tahun 2013 dan 5,3 persen pada tahun 2014, dari 6,2 persen pada tahun 2012.
  • Prospek perlambatan pertumbuhan yang moderat ke sedikit di atas 5 persen ini bergantung kepada penghindaran peningkatan tekanan pembiayaan eksternal yang lebih mengikat Indonesia. Hal ini bergantung pada cukup mendukungnya kondisi pendanaan dunia, dan seberapa baik kebijakan-kebijakan Indonesia dapat memfasilitasi penyesuaian jangka pendek yang berkelanjutan, dan mendukung daya saing dan investasi.
  • Kebijakan-kebijakan dalam masa melanjutkan penyesuaian ini terus memegang peranan yang penting, dan harus memfokuskan kepada “3 M” – (1) menanggapi, untuk memfasilitasi penyesuaian yang lebih berjangka pendek melalui koordinasi kebijakan moneter dan fiskal dan menjaga fleksibilitas kurs tukar, (2) menurunkan ketidakpastian, melalui berlanjutnya perencanaan darurat dan komunikasi, dan (3) memfokuskan kembali kebijakan-kebijakan untuk meningkatkan laju pertumbuhan berkelanjutan, melalui tindak lanjut dari paket kebijakan bulan Agustus, pelaksanaan “hasil cepat” bagi daya saing, dan kemajuan berkelanjutan dalam reformasi sektor fiskal.
  • Dengan tetap tingginya biaya subsidi BBM, dan kepekaan akan nilai Rupiah dan harga minyak dunia, reformasi lanjutan kepada sistem subsidi BBM akan memberi perlindungan yang semakin baik bagi Indonesia terhadap risiko-risiko fiskal jangka pendek, dan juga membebaskan dana belanja yang dapat digunakan bagi investasi-investasi penting jangka panjang dan program-program sosial.
  • Dibutuhkan lebih banyak upaya untuk semakin mendiversifikasikan ekspor Indonesia dan meningkatkan daya saing untuk mendorong laju pertumbuhan dan pembangunan yang lebih cepat. Hal ini tidak hanya akan membantu memberi stimulus kepada ekspor dan mendorong penanaman modal langsung dari luar negeri, tapi juga akan membantu meningkatkan ketenagakerjaan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih berjangka panjang. Pada jangka pendek, peningkatan konektivitas internasional, seperti melalui kinerja logistik pada gerbang masuk Indonesia di pelabuhan Tanjung Priok, dapat memberikan dukungan yang baik untuk meningkatkan daya saing.
  • Tingkatan dan kualitas belanja infrastruktur tetap menjadi penentu utama bagi kinerja pertumbuhan dan perdagangan jangka panjang, dengan rendahnya belanja infrastruktur pada periode tahun 2001-2011 diperkirakan telah membawa beban yang material terhadap pertumbuhan.
  • Kinerja pendidikan juga sangat penting bagi pembangunan, yang membutuhkan lebih banyak penyempurnaan pada tingkat pemerintah daerah.