Halaman ini dalam:

ARTIKEL

Perkembangan Triwulan Perekonomian Indonesia: Mengarahkan kembali belanja publik

04 April 2012

Mengarahkankan belanja publik untuk hal yang lebih produktif berpotensi menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi bagi banyak orang

April 4, 2012

TEMUAN UTAMA LAPORAN

  • Perkembangan dunia internasional terus membayangioutlook jangka pendek perekonomian Indonesia, tetapi fokus perhatian telah beralih. Pada akhir 2011, ketidakpastian dan memburuknya outlook pasar keuangan dan ekonomi dunia menjadi perhatian utama. Kenaikan tajam harga minyak mentah internasional akhir-akhir ini telah menambah dimensi baru, yang mengakibatkan meningkatnya proyeksi biaya subsidi BBM Indonesia.

  • Menanggapi perkembangan ini, Pemerintah mengajukan Rancangan APBN-Perubahan (RAPBN-P) kepada DPR yang termasuk usulan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi pada April 2012. Setelah melalui perdebatan yang panjang DPR menyetujui opsi kenaikan harga sebesar Rp 1.500 menjadi Rp 6.000 per liter dengan syarat harga rata-rata ICP selama kurun waktu enam bulan berjalan lebih tinggi 15 persen di atas asumsi APBN-P sebesar 105 dolar Amerika per barel 

  • Tanpa adanya penyesuaian harga dan dengan asumsi harga minyak 120 dolar Amerika per barel, Bank Dunia memproyeksi defisit Anggaran bisa mencapai 3.1 persen terhadap PDB. Sementara, bila harga minyak tetap tinggi dan penyesuaian harga diberlakukan di triwulan ke tiga 2012 maka proyeksi Bank Dunia terhadap deficit menjadi 2.5 persen terhadap PDB. Defisit anggaran yang tercantum dalam APBN-P adalah sebesar 2.2 persen (dengan asumsi harga minyak sebesar 105 dolar Amerika per barel).

  • Terlepas dari resiko – resiko domestik dan internasional yang dihadapi, fundamental perekonomian Indonesia saat ini cukup solid. Karenanya Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan sebesar 6.1 persen di 2012 atas faktor pendorong pertumbuhan yang berasal dari sumber domestik, dan sedikit naik menjadi 6.4 persen di tahun 2013. 

  • Tidak hanya besarnya biaya fiskal untuk subsidi BBM yang menjadi keprihatinan tetapi juga biaya kesempatan yang hilang (opportunity cost) dari belanja tersebut. Manfaat dari subsidi BBM sebagian besar dinikmati oleh masyarakat kelas menengah keatas yang lebih mampu. Berdasarkan survei rumah tangga (SUSENAS) tahun 2009, 40 persen dari seluruh manfaat subsidi BBM dinikmati oleh 10 persen penduduk yang terkaya, dan 10 persen rumah tangga yang termiskin hanya menikmati kurang dari 1 persen subsidi tersebut. 

  • Karenanya, masa depan pertumbuhan Indonesia dan perbangunannya sangat bergantung pada keberlanjutan perbaikan pengarahan kembali dan kualitas belanja publik. Belanja infrastruktur dan pendidikan yang efektif serta upaya memperbaiki kualitas iklim investasi dapat berpotensi meningkatkan pertumbuhan Indonesia mencapai 7 persen atau bahkan lebih. Kebijakan efektif yang diikuti dengan jaring pengaman sosial yang efektif yang ditujukan kepada masyarakat miskin dan rentan, mampu membantu proses pendistribusian manfaat pembangunan secara lebih baik kepada seluruh lapisan masyarakat. 

  • Laporan ini juga menyoroti bahwa kesetaraan gender merupakan hal yang penting yang perlu dicapai Indonesia, dimana tingkat kematian akibat kehamilan masih tinggi, dan perempuan masih berpendapatan lebih rendah dibanding laki – laki di semua sektor. Penelitian terakhir juga menunjukan bahwa bila masyarakat Indonesia mampu mengkompensasi manusianya berdasarkan keahlian dan kemampuannya, dan bukan berdasarkan gendernya, maka produktivitas per pekerja dapat meningkat sampai dengan 14 persen. Ini tentunya dapat berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan pengurangan tingkat kemiskinan di Indonesia. 

  • Analisa lainnyayang dilakukan oleh Bank Dunia terkait dengan topik di atas dapat ditemukan dalam laporan sebagai berikut: