Halaman ini dalam:

SIARAN PERS

Lahan Basah Yang Terdegradasi di Pesisir Pantai Berkontribusi Terhadap Perubahan Iklim

11 April 2011

WASHINGTON, April 11, 2011 – Drainase dan degredasi lahan di pesisir menghantarkan karbondioksida dalam jumlah yg signifikan ke atmosfir dan dapat mengarah pada pengurangan sekruitasi karbon, sebagaimana diungkapkan dalam  laporan Bank Dunia yang baru.

Laporan tersebut, yang merupakan kerjasama dengan International Union for the Conservation of Nature (IUCN) dan spesialis lahan basah ESA PWA, menghimbau agar lahan basah di sekitar pesisir  dilindungi sehingga dapat terhindar dari degradasi dan dapat meningkatkan restorasi lahan-lahan basah yang mana dapat diikutsertakan dalam strategi pengurangan emisi karbon dan dalam negosiasi iklim.

“Untuk pertama kalinya kami mengetahui bahwa hilangnya gas rumah kaca secara signifikan dan secara global dari pengeringan dan degradasi lahan basah di wilayah pesisir dan pengeringan tanah yg kaya akan organic secara terus menerus dapat mengeluarkan karbon selama beberapa dekade,” menurut Stephen Crooks, Direktur Climate Change Services dari ESA PWA – biro konsultasi yang telah melihat 15 delta di wilayah pesisir untuk laporan tersebut. “Emisi akan meningkatkan berkurangnya lahan basah”.

Laporan tersebut menyoroti tingkat degradasi dan hilangnya lahan basah di wilayah pesisir yang jumlahnya hampir empat kali dari hutan tropis. Perusakan sebanyak 20% dari jumlah hutan bakau di dunia, sebuah area seluas 35,000 km2 dalam 25 tahun terakhir atau empat kali luas kota New York, telah menghasilkan karbon yang terakumulasi selama beberapa ribuan tahun. Hal ini juga mengganggu perlindungan alamiah terhadap gelombang badai dan kejadian cuaca lainnya.

Dari 15 delta di wilayah pesisir yang dipelajari dalam laporan tersebut, tujuh diantaranya telah menghasilkan lebih dari 500 juta ton  CO2 setiap kali lahan-lahan basah dikeringkan, kebanyakan dalam waktu 100 tahun terakhir. Sebagai perbandingan, emisi karbondioksida di tahun 2007 di Meksiko melebihi 470 juta ton.

Hutan bakau, rawa pasang surut dan padang lamun menghilangkan karbon dari atmosfir dan menguncinya dalam tanah, yang mana dapat bertahan sampai beribu-ribu tahun. Tidak seperti hutan hutan daratan, ekosistem laut secara terus menerus membangun “kantung kantung” karbon, menyimpan “blue carbon” dalam jumlah besar ke sedimen dasar laut. Ketika system tersebut terdegradasi karena pengeringan atau perubahan di pertanian dan budi daya perairan, maka mereka akan memancarkan sejumlah besar CO2 ke atmosfir secara terus menerus.

“Melindungi ekosistem laut dan ‘blue carbon’ dapat menjadi solusi yang saling menguntungkan untuk masyarakat” ungkap Marea Hatziolos, Senior Coastal and Marine Spesialis di Bank Dunia, yang mengawasi produksi laporan tersebut. “Perlindungan garis pantai dan peningkatan produktifitas nelayan merupakan salah satu keuntungan dari lahan basah pesisir pantai yang sehat – memberikan kontribusi kepada ketahanan masyarakat serta merta mengurangi karbondioksida. Bila konservasi lahan basah dapat dikaitkan dengan perdagangan karbon, masyarakat akan memperoleh  kompensasi dalam usaha konservasi ini yang mana akan menghasilkan keuntungan secara lokal maupun secara global.

Menurut laporan tersebut, mengelola ekosistem dan wilayah pesisir untuk layanan yang mereka sediakan dapat melengkapi pendekatan-pendekatan yang sekarang ada untuk mencari solusi yang memiliki dasar alamiah untuk mengurangi efek perubahan iklim. Investasi semacam ini memiliki potensi untuk dikaitkan dengan REDD+ dan mekanisme pendanaan karbon lainnya, dengan protokoler mengenai akunting, verifikasi dan pelaporan karbon yang mudah dimengerti yang dapat disetujui. 

“Kita harus bekerja sama dengan alam untuk mengurangi emisi gas rumah kaca tapi juga harus melakukan restorasi akan kemampuan alam untuk menghilangkan karbon dari sirkulasi”, ungkap Carl Gustaf Lundin, Kepala IUCN Global Marine and Polar Programme. “Emisi CO2 yang dihasilkan dari lahan basah di wilayah pesisir yang terdegradasi sudah sangat cukup untuk menuntut adanya amandemen kerangka kerja peraturan perubahan iklim untuk mengurangi tingkat kehilangan lahan basah dan meningkatkan restorasi.”

Mengenai Bank Dunia

Bank Dunia adalah organisasi multilateral dan penyedia dana terbesar untuk program lingkungan hidup di dunia. Bank Dunia mendedikasikan diri untuk memerangi kemiskinan dan berkomitmen untuk membantu kliennya meng.. perubahan iklim bersamaan dengan mendukung pengembangan yang berkesinambungan.

Mengenai IUCN

IUCN, International Union for Conservation of Nature, membantu dunia untuk menemukan solusi yang pragmatis menghadapi tantangan-tantangan pembangunan dan lingkungan. IUCN bekerja dalam bidang keaneka ragaman hayati, perubahan iklim, energy, kesejahteraan manusia, menghijaukan ekonomi dunia dengan mendukung penelitian ilmiah, mengelola proyek-proyek lapangan di seluruh dunia, mengikutsertakan pemerintah, LSM, PBB dan perusahaan-perusahaan untuk mengembangkan kebijakan, peraturan dan panduan (best practice).

Mengenai ESA PWA
ESA PWA merupakan biro konsultasi yang berkomitmen pada perlindungan, peningkatan dan perbaikan ekosistem yang bergantung pada air. ESA PWA mengkombinasikan pengetahuan ilmiah dengan solusi teknis yang praktis untuk lingkungan air dari hulu ke pantai.

Kontak Media
SIARAN PERS NO: