ARTIKEL

Perkembangan Triwulanan Perkenomian Indonesia: Tekanan Meningkat

19 Maret 2013


Image

Indonesia mencatat pertumbuhan yang kokoh tahun 2012, tetapi meningkatnya tekanan dapat mengancam momentum pertumbuhan



  • Ekonomi Indonesia mencatat laju pertumbuhan yang kokoh selama tahun 2012 tetapi tekanan terhadap kebijakan dan ekonomi domestik semakin meningkat.
  • PDB selama setahun penuh mencapai 6,2 persen pada tahun 2012, sedikit turun dari 6,5 persen pada tahun 2011. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan sebesar 6,2 persen pada tahun 2013, sedikit di bawah perkiraan yang lalu sebesar 6,3 persen. Pertumbuhan pada tahun 2014 diproyeksikan mencapai 6,5 persen (tidak berubah dari proyeksi yang lalu). Risiko-risiko terhadap proyeksi ini masih tetap condong ke penurunan, sementara upaya meningkatkan laju pertumbuhan secara signifikan akan menghadapi banyak tantangan.
  • Sumber-sumber tekanan terhadap ekonomi termasuk perlambatan laju investasi, potensi implikasi perlambatan penjualan riil dan pertumbuhan PDB nominal, tren-tren pada neraca eksternal, berlanjutnya beban subsidi BBM, dan melambatnya penurunan laju pengentasan kemiskinan.
  • Risiko terbesar terhadap pertumbuhan jangka pendek dapat berasal dari investasi dalam  negeri. Belanja investasi telah melambat, terutama di bidang sumber daya padat modal (capital intensive sector). Pertumbuhan investasi tetap (fixed investment) turun ke 7,3 persen secara tahun-ke-tahun pada kuartal akhir tahun 2012, turun dari 12,5 persen pada kuartal kedua, dan impor barang-barang modal telah melemah. Meningkatkan kepastian peraturan dan kebijakan dapat membantu iklim investasi..
  • Tanggapan kebijakan yang sesuai terhadap peningkatan tekanan dapat mencakup peningkatan investasi infrastruktur publik dan penekanan kepada daya saing perdagangan, dan juga reformasi subsidi BBM.
  • Data yang baru tentang pertambahan nilai dalam perdagangan dari lembaga OECD dan WTO mengungkap pentingnya masukan (input) impor di dalam ekspor manufaktur Indonesia, dan cakupan untuk meningkatkan integrasi Indonesia di dalam mata rantai produksi internasional, dan kinerja ekspor dengan memfasilitasi pengembangan jasa yang berkaitan dengan ekspor.
  • Investasi juga sangat diperlukan bagi infrastruktur yang belum cukup dan telah berusia lanjut yang terus menghambat pertumbuhan, menyebabkan hambatan dan biaya logistik yang tinggi. Investasi infrastruktur tetap berada pada kisaran 3 persen hingga 4 persen dari PDB, dibanding sekitar 7 persen yang tercatat sebelum krisis Asia.
  • Tantangan infrastruktur bagi sebagian besar kota-kota di Indonesia  sudah cukup parah – dengan lebih dari setengah penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan, dan laju urbanisasi yang tetap tinggi. Peningkatan jumlah, kualitas dan efisiensi investasi infrastruktur dapat membantu membuka manfaat ekonomi dari aglomerasi perkotaan dan mendukung kualitas layanan masyarakat, terutama di kota-kota berukuran menengah yang perkembangannya tertinggal dari pusat perkotaan yang lebih kecil dan kota-kota sangat besar  (“mega cities”).

Untuk analisis yang berkaitan, lihat:

Untuk laporan lebih lanjut tentang sektor manufaktur Indonesia, lihat Laporan Bank Dunia “Picking up the pace: reviving growth in Indonesia’s manufacturing sector”, 2012

Untuk informasi lebih lanjut tentang tantangan investasi dalam kaitannya dengan infrastruktur jalan, lihat Laporan Bank Dunia “Investing in Indonesia’s Roads: Improving Efficiency and Closing the Financing Gap - road sector public expenditure review 2012”, 2013

Untuk informasi lebih lanjut tentang urbanisasi di Indonesia, silakan lihat laporan Bank Dunia: "Tumbuhnya Wilayah Metropolitan: Menuju Pembangunan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan", 2012.


Api
Api