SIARAN PERS

Menuju pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan di Jawa Timur

11 April 2011




Hasil analisa terbaru menekankan perlunya infrastruktur penghubung untuk mendorongtingkat pertumbuhanekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan di Jawa Timur

Surabaya, April 11, 2011: Bank Dunia hari ini meluncurkan laporan penelitian Diagnosa Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur, yang berusaha menganalisa apa yang menghambat investasi swasta dan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur, dan menekankan kebutuhan untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif yang bermanfaat untuk seluruh lapisan masyarakat. Hal ini memerlukan upaya yang berfokus pada peningkatan produktivitas tenaga kerja dan kualitas sumber daya manusia.

Tingkat pertumbuhan yang tinggi bukanlah tujuan akhir, tetapi manfaat dari pertumbuhan yang dapat dinikmati oleh sebagian besar penduduk adalah yang lebih penting” kata Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Ir. Hadi Prasetyo, ME.Dengan mayoritas tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian, penting bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan produktivitas  pertanian dan mendorong kesempatan kerja industri di pedesaan.

Sebagai provinsi terbesar kedua di Indonesia, Jawa Timur memiliki berbagai keuntungan ekonomis bagi para investor, seperti dalam hal lokasi geografis yang strategis, pasokan tenaga kerja, situasi keamanan yang kondusif, dan kondisi makroekonomi yang secara nasional cukup stabil. Namun demikian, laporan Diagnosa Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur mengidentifikasikan infrastruktur sebagai hambatan paling utama untuk menarik investasi di Jawa Timur.

Memprioritaskan dan secara efektif mengatasi isu-isumengenai infrastruktur seperti pelabuhan dan jalan kabupaten dapat mengoptimalkan peran Jawa Timur sebagai pusat regional.Ini adalah kesempatan bagi provinsi Jawa Timur untukmenjadi tolok ukur pembangunan ekonomi bagi provinsi lain di Indonesia kata Cut Dian Agustina, ekonom Bank Dunia dan penulis utama laporan diagnosa pertumbuhan.

Seperti provinsi lainnya di Indonesia, pertumbuhan di Jawa Timur dicirikan dengan adanya wilayah yang maju dan yang tertinggal. Pertumbuhan ekonomi di provinsi ini sebagian besar terkonsentrasi di Surabaya dan daerah sekitarnya seperti Gresik dan Sidoarjo. Laporan ini melihat hal tersebut bukan sebagai masalah tapi lebih sebagai kesempatan bagi kabupaten lain di Jawa Timur untuk mulai terhubung ke daerah penggerak utama pertumbuhan. Hal ini diharapkan dapat menstimulasi perekonomian daerah-daerah itu sendiri.

Tenaga kerja dan modal dapat bergerak dengan bebas di Jawa Timur sehingga tidak memerlukan intervensi khusus untuk memindahkan kegiatan ekonomi ke daerah-daerah tertinggal. Sebaliknya, pemerintah harus berkonsentrasi pada akses yang lebih baik untuk pendidikan dan kesehatan di daerah tertinggal, selain juga membangun infrastrukturpenghubung untuk meningkatkan arus barang, orang, dan informasi ke pusat-pusat ekonomi kata Shubham Chaudhuri, Ekonom Utama,Bank Dunia Jakarta.

Hasil temuan laporan penelitian Diagnosa Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur juga memiliki relevansi untuk provinsi lain di Indonesia khususnya bagi provinsi yang sedang berusaha mencapai pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan serta bagi mereka yang belum mengoptimalkan potensi secara penuh untuk menjadi pusat pertumbuhan regional di negara ini.

Kontak Media
Dalam Jakarta
Randy Salim
Telepon: (021)5299-3259
rsalim1@worldbank.org



Api
Api