ARTIKEL

Mempercepat Pergerakan Container di Pelabuhan Utama Indonesia

19 Februari 2014


Beberapa hal yang tidak efisien di pelabuhan Tanjung Priok mengakibatkan biaya logistik yang tinggi. Mempersingkat waktu tunggu dan sistem pembayaran yang ringkas bisa membuat kinerja pelabuhan – dan dunia usaha -- semakin lancar.

World Bank Group

PESAN UTAMA
  • Pelabuhan utama Indonesia di Tanjung Priok menangani dua-pertiga perdagangan internasional Indonesia dan jumlah container akan terus bertambah.
  • Waktu tunggu yang lama di Tanjung Priok menyebabkan biaya logistik yang tinggi bagi usaha dan konsumen.
  • Bank Dunia bekerjasama dengan pemerintah untuk meningkatkan sistem logistik yang akan membantu menurunkan biaya.

Jakarta, Indonesia – Dengan terus tumbuhnya perdagangan dan lalu-lintas kapal container, Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta mulai kewalahan.

Saat ini Tanjung Priok menangani dua-pertiga perdagangan internasional Indonesia. Menurut Pelindo II, lalu-lintas container diharapkan tumbuh sebesar 160 persen pada tahun 2015.

“Tahun 2014 mungkin akan menjadi tahun tersulit bagi Tanjung Priok, karena pelabuhan yang baru akan selesai pada tahun 2015,” kata Zaldy, Kepala Asosiasi Logistik Indonesia.

Waktu yang diperlukan sebuah container untuk pergi ke Tanjug Priok dari pusat industri Cikarang di perbatasan Jakarta telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

“Empat atau lima tahun lalu, satu truk container kita bisa melakukan 3 perjalanan pulang-pergi dari Cikarang ke Tanjung Priok. Tapi sekarang cuma 1,1 perjalanan per hari,” kata Zaldy. “Hambatan untuk masuk dan keluar pelabuhan sangat banyak.”


" Empat atau lima tahun lalu, satu truk container kita bisa melakukan 3 perjalanan pulang-pergi dari Cikarang ke Tanjung Priok. Tapi sekarang cuma 1,1 perjalanan per hari. Hambatan untuk masuk dan keluar pelabuhan sangat banyak. "

Zaldy

Kepala Asosiasi Logistik Indonesia

Waktu tunggu yang lama sebabkan biaya logistik yang tinggi

Waktu tunggu adalah waktu sejak container tiba di pelabuhan hingga keluar dan terminal container. Rata-rata waktu tunggu untuk container impor di Tanjung Priok telah naik dari 4,8 hari pada tahun 2010 menjadi 6,4 hari pada tahun 2013.

Lamanya waktu tunggu mengakibatkan biaya logistik yang tinggi bagi usaha, yang selanjutnya berdampak ke para konsumen dalam bentuk harga barang yang lebih tinggi. Selain itu, sekitar 19 persen masukan untuk produksi ekspor indonesia berasal dari barang impor.

Besarnya biaya logistik di Indonesia setara dengan 24 persen PDB – biaya yang besar bagi pertumbuhan ekonomi. Menurut laporan World Bank 2012 Logistics Performance Indicator, Indonesia berada di peringkat 59 dari 155 negara, jauh di belakang negara berpenghasilan menengah di kawasan yang sama. Sering kali lebih murah untuk mengimpor, misalnya jeruk dari Cina dibanding dari dalam Indonesia. Buruknya logistik perhubungan di Indonesia juga menghambat potensi daerah serta meningkatkan biaya hidup secara umum.

Namun upaya untuk mengurangi waktu tunggu sedang dilakukan.

“Pada akhir January tahun ini, kita sudah meluncurkan sistem IT untuk mempercepat pemrosesan dokumen di Tanjung Priok,” kata R.J. Lina, CEO Pelindo II.

Lino menjelaskan bahwa banyak perusahaan memilih untuk menyimpan container mereka di dalam pelabuhan karena lebih murah. Untuk menguranginya, pihak pelabuhan berencanan menerapkan tarif lebih tinggi agar lebih banyak tempat tersedia di pelabuhan.

“Dengan inisiatif tersebut dan beberapa inisiatif lain, kami menargetkan waktu tunggu akan turun menjadi empat hari pada tahun ini,” kata Lino.

Bank Dunia mendukung peningkatan sistem logistik nasional

Sebuah studi Bank Dunia bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung menunjukkan bahwa sebab utama lamanya waktu tunggu adalah pada fase sebelum proses di pabean, yang menyumbang 58 persen waktu tunggu.

Studi tersebut menunjukkan bahwa banyak sumber lamanya waktu tunggu terjadi sepanjang proses impor. Tetapi dengan memberikan fokus pada fase sebelum perizinan  pabean akan mengurangi rata-rata waktu tunggu di Tanjung Priok. Rata-rata waktu untuk proses di Bea dan Cukai yang hanya satu hari sudah bisa bersaing dengan standar internasional. Proses pengeluaran container setelah Bea dan Cukai akan memerlukan investasi lebih besar untuk perbaikan jalan, dan transformasi pada industri angkutan container.

Belum lama ini Bank Dunia menandatangani sebuah perjanjian bersama Pelindo II untuk meningkatkan agenda konektivitas pemerintah.

Menurut Henry Sandee, Perdagangan Senior, “Kami akan membantu mengembangkan sebuah strategi untuk meningkatkan sistem logistik Indonesia, dengan mengidentifikasi beberapa prioritas kebijakan yang akan memberi dampak terbesar untuk mengurangi biaya logstik angkutan barang.”


Api
Api