ARTIKEL

Setelah berhasil tingkatkan kuantitas pelayanan kesehatan, Indonesia makin tingkatkan kualitas

06 April 2012


Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Bank Dunia untuk meningkatkan standar pendidikan tenaga kesehatan, dimana akan menghasilkan layanan kesehan yang lebih baik

World Bank Group

PESAN UTAMA
  • Indonesia telah memperoleh hasil yang cukup baik dalam memperluas jangkauan pelayanan kesehatan namun kualitas pelayanan masih perlu diperbaiki.
  • Pemerintah telah melakukan inisitatif untuk menanggapi masalah kompetensi tenaga kesehatan namun masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan.
  • Bank Dunia bekerja dengan pemerintah untuk membantu memastikan calon tenaga kesehatan lulus dengan standar kompetensi yang sama di seluruh Indonesia.

Jakarta, April 6, 2012 – Indonesia telah memperoleh hasil yang cukup baik dalam memperluas jangkauan pelayanan kesehatan. Salah satu alasan utama adalah adanya ribuan tenaga kesehatan baru yang lulus setiap tahunnya. Akan tetapi kualitas tenaga kesehatan baru masih perlu diperhatikan dan penting untuk memberikan fokus pada mutu pendidikan yang mereka terima.

Sebagai mahasiswa sekolah keperawatan di Universitas Gadjah Mada, salah satu institusi pendidikan terkemuka di Indonesia, Maria Leonar merasa yakin bahwa pendidikan yang diterimanya akan membantu ia memberikan pelayanan kesehatan yang baik bagi masyarakat. “Saya memiliki akses yang mudah untuk memperoleh materi pelajaran yang baik bagus, dan dosen-dosen di sini sangat berpengalaman. Mahasiswa di sekolah lain mungkin tidak seberuntung saya,” ucapnya menggambarkan kesenjangan antar sekolah.

Kualitas institusi pendidikan profesi kesehatan, terutama institusi pendidikan yang belum lama berdiri, masih banyak yang perlu dibenahi. Hal ini terbukti dari rendahnya mutu pelayanan yang diberikan oleh sebagian besar dokter, bidan, dan perawat di Indonesia. Undang-undang Praktik Kedokteran tahun 2004 mendukung pendirian Dewan Tenaga Kerja Kesehatan Indonesia, yang menghasilkan standar-standar kompetensi dokter dan pendidikan kedokteran di tahun 2006. Namun karena kapsitas sekolah kedokteran di Indonesia yang bervariasi, standar-standar ini tidak diterapkan secara konsisten. Alhasil, ketidakseragaman kualitas yang dihasilkan dari tiap-tiap sekolah dan lulusannya semakin meluas.

Proyek Mutu Pendidikan Tenaga Kesehatan
Sejak tahun 2009 Bank Dunia telah bekerjasama dengan pemerintah Indonesia menerapkan proyek Mutu Pendidikan Tenaga Kesehatan. Proyek ini bertujuan ikut memastikan bahwa lulusan kedokteran, keperawatan, kedokteran gigi, dan kebidanan memiliki tingkat kompetensi yang sama di seluruh Indonesia. “Langkah pertama untuk meningkatkan standar institusi pendidikan adalah memahami apa yang perlu ditingkatkan, dan hal ini kami lakukan melalui sistem akreditasi baru yang sedang kami kembangkan,” ucap Illah Sailah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. “Tujuan utama dari sistem akreditasi yang lebih baik bukan untuk memberikan peringkat, melainkan sebagai umpan balik dari pihak luat bagi institusi pendidikan agar mereka memahami bagaimana mereka bisa menjadi lebih baik,” lanjutnya.


" Langkah pertama untuk meningkatkan standar institusi pendidikan adalah memahami apa yang perlu ditingkatkan, dan hal ini kami lakukan melalui sistem akreditasi baru yang sedang kami kembangkan "

Illah Sailah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional

Saat ini, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi menggunakan formulir tunggal sebagai dasar penilaian akreditasi semua bidang studi. “Formulir tunggal ini tidak dapat memberikan kajian yang komprehensif mengenai kualitas sebuah sekolah karena sifatnya terlalu umum. Contohnya, sekolah bagi para dokter dan ekonom seharusnya tidak dikaji dengan cara yang sama,” ucap Titi Prihatiningsih, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Satu faktor penting untuk menentukan para lulusan tenaga kesehatan memenuhi standar kompetensi yang ditentukan adalah menciptakan sistem pengujian yang baik. Ujian nasional, termasuk ujian keterampilan, sedang dikembangkan melalui proyek ini, dan kelak wajib dijalani sebagai tambahan dari ujian yang saat ini sudah dilakukan di tingkat fakultas. Dua puluh dua pusat pengujian berbasis komputer kini telah didirikan dan sedang diujicoba. “Menurut saya, ujian tambahan di tingkat nasional akan membuat pendidikan kedokteran lebih sulit, namun hal ini bisa membantu agar standar tenaga kesehatan di seluruh Indonesia lebih merata,” ucap Endang, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

Untuk membantu institusi semakin berkembang, di bawah proyek ini satu universitas yang lebih maju menjadi mentor bagi dua universitas yang masih berkembang. Contohnya Universitas Indonesia di Jakarta membantu Universitas Riau dan Universitas Tanjungpura, yang dua-duanya berlokasi di Sumatera. “Pada praktiknya, kami tidak murni menjadi mentor, karena universitas yang lebih mapan pun juga belajar banyak melalui proses ini,” ucap Bambang Trijaya, staf pengajar Universitas Indonesia. “Rekan-rekan saya bisa belajar sesuatu yang baru tentang penyakit-penyakit yang lebih umum muncul di Sumatera,” dia berikan contoh.


Api
Api