ARTIKEL

Pipa Air Itu Bantu Ciptakan Perdamaian

01 September 2010

Untitled Document

Artikel ini di tulis oleh: Indira Permanasari, dan terbit di Kompas pada tanggal 31 Agustus 2010

Sengatan matahari siang memanggang perbukitan tandus di Desa Were I, Radabata, dan Dadawea. Hanya sebagian tanah di wilayah tiga desa itu yang tertutup himpunan perdu dan pohon.

Sesekali debu dan kerikil tersepak ke udara oleh langkah-langkah kaki penduduk. Di alam yang keras—hujan datang hanya tiga bulan dalam setahun—itu air jadi barang langka. Selama bertahun-tahun, air terus diperebutkan, bahkan tak jarang jadi sumber pertikaian. Konflik makin meluas karena dipicu perebutan tanah suku, khususnya oleh warga Desa Were I dan Radabata.

Namun, itu semua tinggal cerita masa lalu. Sekitar 5.000 warga di sana kini dapat menikmati air bersih dengan damai. Pipa air sepanjang 9 kilometer yang berasal dari sumur gravitasi di atas bukit, melintasi tiga desa di Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tersebut telah mengubah segalanya. Kesejukan dan kedamaian antarwarga tercipta!

Mutiara bening yang kerap jadi rebutan dan pertikaian di tiga desa itu justru sumber pemersatu. Sebab, mereka akhirnya sadar, sebelum ada perdamaian, tidak akan ada air bening mengaliri desa mereka.

Peristiwa itu sudah bertahun-tahun lalu, tetapi masih terekam di benak warga desa. Konflik berawal dari perebutan tanah suku yang terjadi pada 2002 antara suku di Desa Were I dan Radabata.

”Peristiwa itu mengerikan,” kata Emilianus Radho, warga Were I. ”Ada korban yang dipenggal kepalanya dan dibawa ke tanah lapang. Bupati sampai turun tangan mendamaikan dan prosesnya lama sekali,” ujar Emilianus yang juga Kepala SD Kawer 1.

Perdamaian yang diupayakan oleh pemerintah belum sepenuhnya menjamin persatuan dan keamanan di kedua desa. ”Kepala yang terpenggal itu sampai dibawa ke Kantor Kepolisian Sektor Mataloko, Kecamatan Golewa, sebagai bukti ada pertikaian. Pelaku sudah dihukum dan ada kata-kata damai, tetapi belum meyakinkan,” ujar Frans Pito, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat untuk Pembangunan Desa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Sampai kemudian muncul keinginan membangun jaringan pipa air oleh warga di Desa Were I, Radabata, dan Dadawea. Hanya saja, sumber mata air terdapat di atas perbukitan di kawasan Desa Were I. Tanpa persatuan, membangun sumur gravitasi dan pipa air yang melintasi ketiga desa itu tentu sulit.

”Jika warga Were I tidak mengizinkan air disalurkan ke Radabata dan Dadawea, pembangunan pipa yang memudahkan warga mendapatkan air bersih terancam gagal,” ujar Frans Pito.

Kebutuhan akan air bersih mengatasi segala sisa-sisa konflik yang ada. Melalui proyek percontohan Program Pengembangan Sistem Pembangunan Partisipatif di bawah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, pada 2008/2009 dibangunlah sumur gravitasi dan sarana pipa air bersih. Syaratnya, ketiga desa itu harus membangun dan merawat instalasi secara bersama.

”Khusus untuk ketiga desa itu dibentuk badan kerja sama antardesa dan organisasi air minum desa, yang anggotanya perwakilan dari ketiga desa. Berkat adanya air itu, mereka saling bergantung. Begitu ada masalah di satu titik pipa, akan memengaruhi aliran ke desa lain sehingga harus dibicarakan bersama,” kata Frans Pito.

Partisipasi warga

Mengalirnya air di desa-desa itu memberikan kelegaan. Hampir 65 tahun sejak Indonesia merdeka, baru setahun terakhir warga desa ”penjaga Indonesia timur” itu mendapatkan keran air bersih, hanya beberapa langkah dari rumah mereka. Ya, air bersih yang sebetulnya menjadi hak dasar mereka.

Yohanes (43), warga yang lahir dan besar di Desa Dadawea, termasuk yang sempat merasakan bertahun-tahun bergerilya di sepanjang sungai, mendorong gerobak berisi jeriken guna mencari air. ”Dulu, mulai pukul empat pagi sudah dorong gerobak cari air. Sekarang gerobak jadi bis tua, cuma diparkir saja,” ujarnya.

Warga lainnya, Wihelmina (63), terkadang harus mencari air dengan berjalan kaki hingga puluhan kilometer, melewati beberapa desa. ”Kami khusus siapkan sehari untuk ambil air mandi dan minum. Kalau sudah penuh air di dapur dan bak, baru bisa bekerja lagi di kebun. Air yang dicari satu hari itu untuk satu minggu. Satu minggu mandi dua kali saja. Kalau sekarang, sudah bisa mandi setiap habis dari kebun,” ujarnya.

Camat Golewa Anton Padua Ngea berkisah, sebetulnya pada tahun 2006 sudah ada penampung air hujan berupa bak besar. Hanya saja, menurut Anton, dalam air ada jentik-jentik nyamuk sehingga dianggap tidak aman diminum. Di samping itu, begitu musim kemarau tiba, kembali persoalan kelangkaan air terjadi.

Padahal, musim hujan di NTT biasanya hanya tiga bulan, pada Desember-Februari. Saat susah air, penyakit kulit, diare, dan infeksi saluran pernapasan kembali jadi bagian dari hidup warga di desa-desa tersebut. Anak- anak yang mandi di sungai kerap terjangkit cacingan.

Menurut Frans Pito, pembangunan sarana penyaluran air bersih dan sanitasi termasuk prioritas di Ngada. ”Topografi NTT memerlukan solusi khusus. Daerah yang tidak mungkin terairi air bersih dengan model gravitasi terpaksa menggunakan bak penampung air hujan. Daerah seperti itu sekitar 30-40 persen, biasanya di atas bukit. Ada juga yang memakai sistem hidran dan pompa walaupun tak banyak,” kata Frans Pito.

Pembangunan sarana melalui PNPM Mandiri itu belakangan juga diintegrasikan dengan program pembangunan pemerintah daerah dan melibatkan partisipasi masyarakat. ”Kami berharap masyarakat ikut merasa memiliki dan merawat hasil pembangunan,” ujarnya.

Memang, tidaklah mudah menghadirkan setetes air bersih di daerah kering dan berbukit seperti di daerah ini....

Api
Api