Program Pembangunan Pariwisata Terpadu dan Berkelanjutan/P3TB (Indonesia Tourism Development Project, ITDP, 2018–2024) meningkatkan infrastruktur pariwisata, memperkuat kelembagaan, meningkatkan partisipasi ekonomi lokal, dan menarik investasi swasta. Progam memberikan manfaat bagi lebih dari 5,4 juta orang, mensertifikasi 84.000 tenaga profesional, dan membantu 40 desa menciptakan pariwisata berkelanjutan, sehingga mendorong sektor pariwisata dan perekonomian lokal Indonesia.
Tantangan
Bagi Indonesia sektor pariwisata merupakan mesin pertumbuhan ekonomi penting yang menghasilkan lapangan kerja dan devisa dalam skala besar. Namun, sektor ini masih terhambat oleh tantangan struktural yang dalam: koordinasi kelembagaan yang lemah di seluruh tingkat pemerintahan; kekurangan infrastruktur di destinasi pariwisata sekunder yang mencakup jalan, air, sanitasi, dan transportasi; rendahnya keterkaitan dengan ekonomi lokal, ditambah dengan kesenjangan gender yang terus berlanjut; tekanan lingkungan, termasuk degradasi aset dan kerentanan iklim; serta ekosistim bisnis yang sulit, yang ditandai dengan kompleksitas regulasi dan insentif yang terbatas bagi investasi swasta.
Pendekatan Grup Bank Dunia
Keterlibatan Bank Dunia di sektor pariwisata Indonesia didorong oleh tiga hal: (i) solusi terintegrasi dan multisektoral yang menangani seluruh tantangan pariwisata, mulai dari infrastruktur hingga reformasi kebijakan; (ii) pengalaman global dan praktik terbaik yang diadopsi dari model pengembangan pariwisata yang sukses di negara-negara seperti Maroko dan Filipina; serta, (iii) kemampuan untuk menggerakkan investasi swasta melalui reformasi kebijakan dan peningkatan infrastruktur yang terarah. Investasi infrastruktur memang menciptakan lapangan kerja secara langsung, tetapi dampak yang lebih besar datang dari keterlibatan sektor swasta seperti melalui hotel, restoran, operator tur, dan rantai pasok lokal dengan cara yang tidak dapat dicapai hanya dengan pembangunan infrastruktur saja.
Proyek ini juga didukung oleh inisiatif IFC — Indonesia Investment Climate Competitive Sectors and Competition (ICCSC), didanai oleh Multi-Donor Cooperation Instrument for Inclusive Policy (MCICP), Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO) — yang memberikan dukungan konsultatif, regulasi, dan teknis kepada pemerintah untuk meningkatkan lingkungan bisnis dan menarik investasi swasta yang berkelanjutan.
Hasil
- Dampak terhadap lapangan kerja: (1) Proyek ini menciptakan 44.000 lapangan kerja secara langsung dan tidak langsung serta berdampak pada 1,15 juta lapangan kerja (termasuk dampak dari infrastruktur yang lebih baik dan pendapatan yang lebih tinggi); (2) Tingkat pekerja yang tetap bekerja setelah sertifikasi kompetensi keterampilan meningkat sebesar 7 persen; (4) Penyerapan tenaga kerja bagi karyawan baru setelah sertifikasi kompetensi keterampilan meningkat sebesar 13 persen.
- Ketersediaan layanan: Sekitar 5,4 juta orang di enam destinasi memperoleh akses yang lebih baik ke infrastruktur dan layanan pariwisata (jauh melebihi target 3,5 juta). Peningkatan infrastruktur mencakup persediaan air, sanitasi, pengelolaan limbah padat, jalan, dan transportasi non-motor, yang meningkatkan daya saing, keberlanjutan, dan pengalaman yang didapat pengunjung.
- Sertifikasi dan penilaian: Sebanyak empat puluh desa memperoleh sertifikasi pariwisata berkelanjutan, dan lebih dari 3.600 usaha mendapatkan penilaian lebih tinggi di situs web agen perjalanan berkat peningkatan layanan dan kualitas.
- Keterkaitan ekonomi lokal: Lebih dari 84.000 orang (48 persen perempuan) menyelesaikan sertifikasi kompetensi pariwisata; lebih dari 20.000 usaha membangun kehadiran secara daring; lebih dari 18.000 peserta (52 persen perempuan) mengikuti program kesadaran pariwisata.
- Investasi swasta: 874 juta dolar AS berhasil ditarik ke destinasi pariwisata terpilih.
Kontribusi terhadap Target Grup Bank Dunia dan Lapangan Kerja
Lebih banyak lapangan kerja yang berkualitas. ITDP telah mendukung terciptanya sekitar 40.000 pekerjaan langsung dan tidak langsung, dengan dampak total terhadap lapangan kerja—termasuk efek-efek yang ditimbulkannya—mencapai sekitar 1,15 juta lapangan kerja. Proyek ini memperkuat hasil pasar tenaga kerja dengan meningkatkan tingkat retensi pekerja bersertifikat sebesar 7 persen dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja baru sebesar 13 persen setelah sertifikasi keterampilan. Selain menciptakan lapangan kerja, investasi dalam infrastruktur dan layanan terkait pariwisata—termasuk jalan, sanitasi, dan fasilitas umum—secara langsung memberikan manfaat bagi sekitar 5,4 juta orang, sehingga meningkatkan akses ke layanan publik, kondisi kehidupan, dan keberlanjutan destinasi pariwisata.
Penerima Manfaat
Pelajaran Penting
Perencanaan terpadu sangat penting, namun proses lintas sektor yang kompleks dapat menghambat pelaksanaan, sehingga perlu persiapan sejak awal dan investasi yang sudah mempertimbangkan langkah-langkah perlindungan.
Kapasitas pemerintah daerah, terutama dalam hal langkah-langkah perlindungan dan operasional, dapat menjadi tantangan, sehingga memerlukan pelatihan serta dukungan yang lebih proaktif dan pengembangan jangka panjang.
Keterlibatan sektor swasta dapat ditingkatkan dengan mengintegrasikan infrastruktur ke dalam strategi investasi.
Investasi infrastruktur saja tidak cukup untuk menggambarkan potensi lapangan kerja yang sebenarnya dari proyek-proyek pariwisata. Dampak pengganda yang lebih besar terletak pada keterlibatan sektor swasta — melalui hotel, restoran, dan rantai persediaan lokal — yang menekankan pentingnya perencanaan untuk mobilisasi investasi swasta sejak awal, bukan sebagai pertimbangan tambahan.
Mempertahankan kemampuan digital bagi usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor pariwisata memerlukan dukungan berkelanjutan dan pusat digital nasional untuk dampak jangka panjang.
Langkah Selanjutnya
Grup Bank Dunia akan mendukung fase kedua ITDP, memperluas cakupan ke lokasi tambahan dengan fokus yang lebih tajam pada mobilisasi modal swasta melalui dua saluran yang saling melengkapi.
Saluran pertama adalah Fasilitasi Modal Swasta — menetapkan kerangka tata kelola, Rencana Induk Pariwisata Terpadu, lingkungan regulasi yang ramah bisnis, dan tenaga kerja terampil untuk menjadikan destinasi menarik bagi investor swasta. Hal ini akan meniru model ITDP, di mana investasi publik yang terencana dengan baik memicu investasi hilir di sektor hotel, restoran, dan layanan pariwisata.
Yang kedua adalah Mobilisasi Modal Swasta — menargetkan pembiayaan bersama yang terstruktur dengan komitmen WBG melalui pendanaan platform fasilitasi investasi dan layanan dukungan teknis, termasuk studi kelayakan finansial, hukum, dan studi kelayakan teknis. Pendekatan ini mengemas peluang investasi yang siap dijalankan dan menyajikan proyek-proyek yang layak dibiayai kepada investor swasta.
Info terkait
- Integrated Infrastructure Development for National Tourism Strategic Areas (Indonesia Tourism Development Project)
- Brosur Proyek
- Blog: How the World Bank is supporting Indonesia’s newest world heritage site, and why it matters
- Feature story: Indonesia’s Integrated Tourism Improving Livelihoods for Thousands in Lake Toba and Lombok
- Results: Infrastructure and Capacity Building Create Jobs in Indonesia’s Tourism Sector