ARTIKEL26 Januari 2026

Menggerakkan Masa Depan, Mentransformasi Pekerjaan di Indonesia Timur

Saat senja tiba di pedesaan Indonesia Timur, kegiatan rumah tangga terus aktif sampai lebih larut malam dibanding sebelumnya. Anak-anak menyelesaikan pekerjaan rumah di bawah cahaya lampu listrik yang stabil. Warung-warung kecil tetap buka setelah matahari terbenam. Keluarga berkumpul di sekitar kipas angin yang membawa kesejukan.

Bagi banyak kelompok masyarakat, momen-momen semacam ini menandai sebuah titik balik. Hal yang telah lama dianggap biasa saja di tempat lain—listrik yang andal—kini menjadi penopang kehidupan sehari-hari.

Dulu, Semua Kegiatan Berhenti Saat Matahari Terbenam

Indonesia hampir mencapai akses listrik yang universal, namun sebagian desa dan permukiman terpencil masih berada di luar jangkauan jaringan listrik. Dukungan untuk menyambungkan listrik bagi pelanggan terjauh, tengah mengubah apa yang dahulu dirasa sulit menjadi sebuah masa depan yang mungkin diwujudkan saat ini, seperti halnya yang telah dicapai oleh banyak negara lain.

Di desa-desa yang dahulu berada di luar jangkauan jaringan listrik, seperti Desa Wontong di Pulau Flores di sudut timur Indonesia, listrik yang andal memungkinkan lahirnya mata pencaharian baru, memperkuat layanan umum, dan meningkatkan kondisi kehidupan sehari-hari. Para orang tua menggambarkan situasi belajar malam yang lebih nyaman bagi anak-anak. Pemilik usaha kecil menceritakan tentang jam buka yang lebih panjang dan pendapatan yang lebih stabil. Tenaga kesehatan menyoroti penyimpanan dengan alat pendingin yang konsisten untuk obat-obatan dan vaksin.

Akses listrik memengaruhi bagaimana waktu digunakan, bagaimana pendapatan diperoleh, dan bagaimana layanan publik diselenggarakan. Semua ini meningkatkan hasil pendidikan, partisipasi ekonomi, dan kualitas hidup—terutama bagi perempuan dan anak-anak.

The World Bank

Bagi Hendrikus Marsoni, pemilik kios di Desa Wontong, Nusa Tenggara Timur, akses terhadap listrik yang andal telah membuka peluang baru, “Dengan listrik yang tersedia, sekarang saya bisa memperluas usaha meliputi jasa pengetikan dokumen, press, dan penjualan token listrik.” Berbagai layanan tersebut, yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan, kini berkontribusi pada tambahan pendapatan dan memberikan kemudahan lebih besar bagi masyarakat.

Dengan listrik yang tersedia, sekarang saya bisa memperluas usaha meliputi jasa pengetikan dokumen, press, dan penjualan token listrik.
Image
Hendrikus Marsoni
Pemilik kios di Desa Wontong, Nusa Tenggara Timur

Kemitraan sebagai Kunci

Dengan dukungan Bank Dunia, program Indonesia’s Sustainable Least-Cost Electrification (ISLE) membantu Pemerintah Indonesia dan perusahaan listrik milik negara, PT PLN, memperluas akses listrik yang terjangkau dan andal ke wilayah-wilayah yang selama ini tekendala oleh kondisi geografis dan jarak. Melalui pendanaan untuk sambungan pelanggan yang jauh dari jaringan, peningkatan jaringan, serta pengembangan tenaga surya, program ini membangun sistem ketenagalistrikan yang lebih bersih dan tangguh serta memprioritaskan kelompok masyarakat yang kurang terlayani.

Ambisi ISLE untuk mengalirkan listrik kepada lebih dari 5,5 juta orang sekaligus menambahkan 1,2 GW tenaga surya dan angin ke jaringan listrik menunjukkan kolaborasi erat antara Pemerintah Indonesia, PT PLN, dengan kelompok Masyarakat yang dilayani. ISLE didukung oleh Sustainable Renewables Risk Mitigation Initiative (SRMI) di Energy Sector Management Assistance Program (ESMAP) Bank Dunia serta koalisi beberapa mitra internasional.

Bantuan teknis dan pendanaan ESMAP telah membantu memperkuat perencanaan elektrifikasi dan pembangkit listrik, memperluas akses di wilayah yang kurang terlayani, serta memastikan bahwa investasi tetap terjangkau, andal, dan selaras dengan sasaran sektor energi maupun adaptasi perubahan iklim jangka panjang Indonesia.

The World Bank

Komitmen Bank Dunia terhadap perjalanan elektrifikasi Indonesia tercermin dalam penggunaan struktur pendanaan yang inovatif seperti Step-Up-Loan mechanism dan Framework for Financial Incentives (FFI). Dengan menggabungkan kedua instrumen tersebut melalui pendekatan yang pertama di jenisnya, Bank Dunia menggarisbawahi pentingnya program ISLE dan menunjukkan bagaimana pendanaan yang inovatif dapat mempercepat penyambungan akses listrik dan mendorong pembangunan inklusif.

Selain dukungan Bank Dunia, program ISLE-1 dan ISLE-2 didanai melalui kontribusi dari Canada Clean Energy and Forest Climate Facility (CCEFCF), Clean Technology Fund (CTF), Green Climate Fund (GCF) program SRMI-Resilience, serta Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) pemerintah Inggris melalui ESMAP. Bersama-sama, para mitra ini mendukung upaya Indonesia untuk menghadirkan akses listrik yang inklusif dan berkelanjutan sekaligus mempersiapkan sistem ketenagalistrikan untuk integrasi energi terbarukan yang lebih luas.

“Kanada dan Indonesia memperkuat kemitraan mereka di bidang perdagangan, iklim, dan pembangunan,” kata Maria Ramirez, First Secretary di Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia. “Melalui dukungan kami untuk Program Sustainable Least-Cost Electrification Indonesia, Kanada membantu memperluas solusi yang menghadirkan listrik andal dengan biaya lebih rendah sekaligus memperkuat ketahanan iklim—contoh pendanaan iklim yang mendorong pertumbuhan inklusif serta transisi energi jangka panjang.”

Berperan sebagai katalis, SRMI-ESMAP telah membantu pemerintah dan PT PLN memperluas akses dengan cepat dan hemat biaya, dengan melibatkan masyarakat secara terintegrasi di seluruh proses. Warga bermitra dengan PT PLN dalam menentukan prioritas, mengelola sambungan listrik, serta memastikan bahwa infrastruktur memenuhi kebutuhan praktis—rumah tangga, usaha kecil, sekolah, dan layanan kesehatan. “Respons masyarakat sangat positif,” kata Faisal, operator pembangkit surya PT PLN. “Dengan menyediakan listrik, teknologi membantu meningkatkan perekonomian setempat.”

Pekerjaan Belum Selesai—Namun Arah Sudah Jelas

Indonesia memiliki visi yang ambisius untuk menyediakan layanan listrik yang universal dan berkelanjutan. Menjangkau kelompok masyarakat paling terpencil, memastikan keterjangkauan secara jangka panjang, dan mengintegrasikan porsi energi terbarukan yang lebih tinggi membutuhkan investasi, perencanaan, dan kapasitas kelembagaan yang berkelanjutan.

ISLE menunjukkan bahwa perpaduan antara investasi infrastruktur dengan perencanaan yang lebih cerdas, pelibatan aktif masyarakat, dan pengendalian biaya jangka panjang dapat menjawab berbagai tantangan tersebut. Kemajuan yang dicapai nyata terlihat, namun upaya berkelanjutan masih diperlukan untuk menjangkau pelanggan dititik terjauh, mendorong keandalan, dan memantapkan capaian pembangunan.

Bagi keluarga yang kini dapat mengandalkan listrik setiap malam, dampaknya terasa seketika. Bagi Pemerintah Indonesia, ini adalah satu langkah dalam proses transisi yang lebih panjang—yang akan menghubungkan lebih banyak kelompok masyarakat, memperkuat ketahanan, dan mendukung pertumbuhan inklusif saat Indonesia bergerak menuju akses listrik yang universal.

Blog

    loader image

TERBARU

    loader image