Learn how the World Bank Group is helping countries with COVID-19 (coronavirus). Find Out

SINGKAT 12 Oktober 2018

Asesmen awal Bank Dunia pada wilayah terdampak bencana di Sulawesi Tengah dengan menggunakan metodologi GRADE

Latar belakang: Sebagai bagian dari tanggapan Bank Dunia terhadap gempa bumi dan tsunami di Sulawesi, asesmen cepat terhadap wilayah kerusakan yang terjadi di Sulawesi Tengah dilakukan dengan menggunakan metodologi Global Rapid post-disaster Damage Estimation (GRADE). Temuan-temuan dari laporan tersebut akan disampaikan oleh CEO Grup Bank Dunia Kristalina Georgieva selama kunjungannya ke Sulawesi, 12 Oktober 2018. Berikut adalah poin-poin terkait dari laporan tersebut.

Laporan dan Temuan

1.      Siapa yang membuat laporan ini (apakah ini produk Bank Dunia)?

Asesmen ini dilakukan oleh tim D-RAS (Disaster-Resilience Analytics and Solutions/ Analisis dan Solusi Ketahanan Bencana) Bank Dunia. Tim ini terdiri dari ahli teknis yang memberikan layanan konsultasi dan analisis, serta mengembangkan alat dan solusi yang dibuat khusus di bidang manajemen risiko bencana. Tim tersebut menerima dukungan keuangan melalui GFDRR (Global Facility for Disaster Reduction and Recovery/Fasilitas Global untuk Penanganan dan Pemulihan Bencana).

2.      Apakah kegiatan ini berkonsultasi dengan mitra dan / atau lembaga donor?

Pendekatan GRADE menggunakan metode jarak jauh, berbasis data yang sudah ada, dan asesmen kerusakan cepat yang dilakukan berdasarkan permintaan segera setelah terjadi bencana. Pendekatan ini mengadopsi teknologi pemodelan risiko bahaya alam yang inovatif dan canggih untuk dengan cepat memenuhi persyaratan asesmen kerusakan pasc-kejadian. Metodologi yang mendukung asesmen tersebut tersedia secara gratis.

Karena sifat asesmen tersebut adalah jarak jauh, konsultasi tidak dilakukan. Namun, dataset yang diterbitkan secara lokal tersedia secara online, termasuk dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPS (Badan Pusat Statistik) dan lembaga lain yang dirujuk. Validasi lebih lanjut dengan otoritas pemerintah dan data yang dikumpulkan di lapangan akan diperlukan.

3.      Dapatkah Anda meringkas tiga temuan kunci dari laporan ini?

  • Kerusakan ekonomi total diperkirakan lebih dari US$ 500 juta (setara Rp8 triliun). Dari jumlah ini, sekitar US$ 180 juta (Rp 2,7 triliun) diperkirakan berada pada sektor perumahan; US$ 185 juta (Rp 2,82 triliun) untuk bangunan komersial / industri; dan US$ 165 juta (Rp 2,5 triliun) untuk infrastruktur. Kerugian untuk semua peralatan di luar aset-aset ini (misalnya mobil) tidak tercakup dalam asesmen.
  • Sektor terdampak utama meliputi perumahan, bangunan komersial dan / atau industri, dan infrastruktur publik dan swasta.
  • Dampak besar pada bangunan komersial / industri dapat mempengaruhi operasional dan pemulihan di sektor ritel dan pariwisata, pendidikan dan kesehatan. Bangunan publik pemerintah juga terimbas. Dampak pada gedung sekolah dan universitas juga cukup besar.

4.      Apa manfaat utama dari laporan jenis ini?

Manfaat utamanya adalah kecepatan yang dapat dihasilkan terhadap estimasi kerusakan. Dalam 10-14 hari dari suatu kejadian, para pemangku kepentingan dapat memiliki akses terhadap perkiraan kerugian dan distribusi spasial dari kerusakan. Laporan ini dapat mendukung pengembangan strategi pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, dan menginformasikan tindakan yang sesuai, tepat waktu, dan efisien.

Untuk gempa bumi dan tsunami Sulawesi, pada 9 Oktober 2018 kami telah menerbitkan laporan pertama yang menghasilkan perkiraan kerugian ekonomi awal, berbasis ilmiah, analisis serta data teknik dan ekonomi, yang dapat menginformasikan proses pemulihan dan pemulihan bencana.

 

Asesmen dan Metodologi

5.      Data apa yang digunakan dalam asesmen ini?

GRADE didasarkan pada pendekatan pemodelan kerugian terbuka yang dikembangkan oleh tim D-RAS (Analisis dan Solusi Ketahanan Bencana) Bank Dunia, yang mencakup:

  • Analisis citra satelit dan data daratan yang tekumpul lainnya (BNPB, Kementerian Pendidikan, PUPR, AHA Centre, media, dll.)
  • Citra penginderaan jarak jauh (UNOSAT, COPERNICUS, DigitalGlobe, Google, HOTOSM, MapAction),
  • Informasi yang berasal dari asesmen awal, serta data media sosial untuk penyelarasan hasil.
  • Karakteristik spasial yang dikembangkan untuk kejadian-kejadian tsunami yang meliputi tingkat penggenangan dan analisis deformasi tanah yang dihasilkan berdasarkan asesmen kerusakan penginderaan jarak jauh.

6.      Apa jenis asesmen ini, bagaimana dilakukan, dan apa manfaat utamanya?

Pendekatan GRADE menggunakan metode jarak jauh, berbasis data yang sudah ada, dan asesmen kerusakan cepat, yang dilakukan berdasarkan permintaan segera setelah terjadi bencana. Pendekatan ini mengadopsi teknologi pemodelan risiko bahaya alam yang inovatif dan berkembang untuk dengan cepat memenuhi persyaratan asesmen kerusakan pasca-kejadian. Pendekatan ini memprioritaskan sektor perumahan dan infrastruktur, diikuti oleh sektor lain, seperti pertanian, sesuai kebutuhan. Pendekatan dan hasil GRADE dimaksudkan untuk menciptakan pengukuran secara kuantifikasi sektoral yang independen dan kredibel terhadap tingkat spasial dan tingkat keparahan dampak fisik bencana.

7.      Seberapa akurat angka-angka yang disajikan?

Asesmen ini membawa tingkat keandalan yang signifikan. Metode GRADE tersebut pernah digunakan pada tujuh bencana yang terjadi antara April 2015 hingga Juni 2018, dengan akurasi perkiraan lapangan “nyaris sama” bila dibandingkan dengan analisis pascabencana selanjutnya yang lebih rinci. Hasil tersebut diselaraskan terhadap data yang masuk kemudian (penginderaan jarak jauh, video drone, video media sosial, asesmen awal, info daripublik). Namun, hasil dari GRADE masih merupakan perkiraan yang timbul dari perhitungan berbasis jarak jauh yang dipengaruhi dan diperbarui dari data berbasis darat yang tersedia. Meskipun ada keyakinan dalam perkiraan ekonomi secara keseluruhan dan distribusi kerusakan, tingkat keyakinan pada kerusakan aset individu rendah karena hasil ini didasarkan pada proyeksi dari data sensus terbaru yang mungkin sudah usang. Secara keseluruhan, hasilnya dipengaruhi oleh ketersediaan, akurasi, kebaruan, sensitivitas sosioekonomi / politik dari paparan awal, dan aliran data kerusakan selama periode awal pasca-bencana.

8.      Bagaimana laporan ini bisa melengkapi asesmen pemerintah atau asesmen lain?

Asesmen GRADE dapat memberikan informasi dan berfungsi sebagai masukan yang terperinci dan menyeluruh bagi proses asesmen kehancuran dan kerugian yang dipimpin oleh pemerintah. Asesmen GRADE dapat memberikan informasi awal dampak ekonomi kepada pengambil keputusan untuk mengukur besarnya konsekuensi kejadian, mengidentifikasi sektor-sektor prioritas untuk rekonstruksi, menyediakan informasi mengenai dampak geografis yang berbeda, dan menginformasikan kerugian relatif sektor publik dibanding sektor swasta. Selain itu, asesmen dapat berkontribusi pada informasi dasar sektoral yang diperlukan untuk desain rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pemulihan. Dengan cara ini, hasilnya dapat mendukung rancangan rencana jangka pendek untuk membangun kembali layanan yang terkena dampak dan untuk menstabilkan kondisi masyarakat yang terdampak melalui tindakan sementara. Asesmen ini juga dapat memberikan informasi untuk rencana dan strategi intervensi dalam pemulihan dan rekonstruksi infrastruktur yang rusak.

9.      Apa sajakah keterbatasan dari asesmen ini?

Asesmen ini tidak memperhitungkan komponen sosial. Dampak gangguan bisnis dan nilai lahan juga tidak diambil. Asesmen ini terutama melihat kerusakan fisik langsung terhadap bangunan dan infrastruktur, yang merupakan informasi penting yang diperlukan untuk mengukur dan merencanakan upaya rekonstruksi. Dalam hal ini, di Palu, asesmen juga mencakup hal terkait modal (misalnya  pertanian dan pengaliran irigasi), tetapi tidak mencakup hilangnya tanah sekitar 700ha.

10.  Apakah asesmen ini telah digunakan untuk negara lain; apakah ini praktik standar Bank Dunia dalam melakukan asesmen jenis ini? Dapatkah Anda memberikan contoh bagaimana negara lain menggunakan asesmen semacam ini?

Setiap bencana adalah unik, dan Bank Dunia tidak selalu melakukan asesmen cepat untuk setiap bencana, melainkan berfokus pada kasus-kasus di mana asesmen dapat memberikan nilai tambah bagi negara-negara mitra.

Pendekatan GRADE telah berhasil digunakan pada tujuh bencana baru-baru ini, termasuk Madagaskar (setelah Topan Enawo yang terjadi pada Maret 2017 dan Topan Awa pada Januari 2018), Haiti (setelah Badai Matthew pada Oktober 2016), Ekuador (setelah gempa bumi pada 16 April 2016), Nepal (setelah gempa bumi pada 25 April 2015), Dominika (setelah Topan Maria, September 2017) dan letusan gunung berapi Fuego di Guatemala (pada 3 Juni 2018). Sebagai contoh, setelah Topan Enawo di Madagaskar (Maret 2017), hasil dari GRADE memberikan asesmen cepat yang menginformasikan persiapan dan pelaksanaan penanggulangan bencana dan strategi tanggap darurat, serta meningkatkan efektivitas respon. Juga, setelah Badai Matthew di Haiti (Oktober 2016), hasil asesmen tersebut membantu mengembangkan perkiraan secara cepat terhadap dampak, yang pada gilirannya, digunakan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menentukan apakah mekanisme pasca-krisis perlu dipicu untuk negara tersebut.