Halaman ini dalam:

SIARAN PERS

Biaya logistik yang tinggi menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia

06 September 2013

JAKARTA, 6 September 2013 – Biaya logistik yang tinggi merupakan persoalan serius yang menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia, menurut laporan yang diterbitkan oleh Institut Teknologi Bandung, serta masukan dari para ahli Bank Dunia.

Biaya logistik nasional di Indonesia adalah 24 persen dari PDB, lebih tinggi dibanding negara-negara tetangga. Menekan biaya dan meningkatkan kualitas sistem logistik dan transportasi akan meningkatkan akses ke pasar internasional dan berdampak langsung pada peningkatan perdagangan,” kata Henry Sandee, spesialis senior perdagangan di Bank Dunia.

Laporan tahunan yang disusun oleh Pusat Pengkajian Logistik dan Rantai Pasok ITB Bandung, Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Kelompok STC dan Panteia Research Institute di Belanda, dan Kantor Bank Dunia Indonesia tersebut menganalisis dan memberikan gambaran tentang kemajuan yang dibuat dalam menanggulangi permasalahan logistik di Indonesia. 

Salah satu dari temuan studi tersebut membahas kurangnya efisiensi di pelabuhan Tanjung Priok.

Waktu tunggu (dwelling time) kontainer di pelabuhan Tanjung Priok meningkat dari 4,8 hari pada Oktober 2010 menjadi 8 hari pada tahun 2013. Hal ini memperburuk situasi ‘bottleneck’ bagi impor dan ekspor Indonesia,” menurut pakar perdagangan Bank Dunia Henry Sandee.

Temuan lain menunjukkan bahwa program pemerintah untuk memanfaatkan pelabuhan 24 jam perhari selama 7 hari per minggu belum maksimal, walaupun memungkinkan untuk mempercepat proses pengurusan dokumen dan perizinan impor dan ekspor.

Laporan ini juga menunjukkan bahwa penggunaan Cikarang Dry Port untuk izin impor dapat menekan biaya dan waktu. Cikarang Dry Port (CDP) adalah fasilitas dan jasa logistik terpadu untuk mendukung Pelabuhan Tanjung Priok dalam menangani ekspor-impor serta pengiriman domestik.  Namun, hingga kini CDP belum berkembang sesuai harapan karena akses yang masih sangat terbatas. 

Kontak Media