Halaman ini dalam:

ARTIKEL

Indonesia Terus Berkembang Pesat – Tapi Belum untuk Semua Orang

22 Juni 2014

"Saya lihat Jakarta telah berkembang, tapi saya sih belum", merupakan pengamatan menyedihkan oleh Pak Rasma, pedagang es buah di Ibukota Indonesia. Meskipun perekonomian Indonesia terus berkembang, hasilnya belum dirasakan oleh semua orang.

PESAN UTAMA
  • Indonesia terus mempertahankan pertumbuhan ekonominya dan mengurangi tingkat kemiskinan menjadi di bawah 12 persen.
  • Namun tanpa beberapa perubahan penting, pertumbuhan Indonesia bisa melambat dan kemudian terjebak menjadi negara berpenghasilan menengah.
  • Kajian Bank Dunia membahas bagaimana Indonesia bisa terhindar dari perangkap negara berpenghasilan menengah melalui reformasi di enam bidang prioritas.

Ekonomi Indonesia telah tumbuh penuh percaya diri sehingga membantu menurunkan tingkat kemiskinan. Antara tahun 1999 hingga 2012, tingkat kemiskinan berkurang setengah dari 24 menjadi 12 prsen. Namun, 65 juta penduduk masih hidup di antara tingkat kemiskinan nasional sebesar $1,25 per hari dan tingkat kemiskinan global $2 per hari.

Ambil contoh Rasma, penjual es buah di ibu kota, adalah salah satu yang belum sepenuhnya merasakan hasil kemajuan pembangunan Indonesia.

“Saya melihat Jakarta terus berkembang, tapi saya tidak,” ujarnya. Bagi Rasma, isteri dan ketiga anaknya, bila musim hujan datang, mereka dengan mudah jatuh ke dalam jurang kemiskinan.

“Orang tidak membeli es buah kalau hujan. Jadi saya harus meminjam uang dari saudara atau tetangga untuk menghidupi keluarga. Yang penting keluarga saya bisa makan. Kalau kebetulan ada uang lebih, nanti saya bayar,” ujarnya.

Memperkuat perlindungan sosial bisa membantu agar kesejahteraan bisa dirasakan lebih banyak orang. Namun, transformasi besar-besaran sistem jaminan sosial di Indonesia baru dimulai dan hasilnya sangat bergantung pada bagaimana reformasi ini diterapkan.

Memiliki pekerjaan yang lebih baik juga salah satu jalan keluar dari kemiskinan, namun tidak banyak tersedia dan banyak yang akhirnya menerima pekerjaan apapun yang mereka peroleh.

“Setelah menganggur selama enam bulan, saya akhirnya menerima pekerjaan sebagai asisten administrasi di bidang periklanan. Ini satu-satunya peluang yang saya dapat dan mencari pekerjaan sangat sulit,” kata Elfa Mandiri, yang memiliki gelar S1 di bidang hubungan internasional.

Open Quotes

Setelah menganggur selama enam bulan, saya akhirnya menerima pekerjaan sebagai asisten administrasi di bidang periklanan. Ini satu-satunya peluang yang saya dapat dan mencari pekerjaan sangat sulit. Close Quotes

Elfa Mandiri
Lulusan S1 di bidang hubungan internasional

Indonesia juga menghadapi tantangan tidak sesuainya lapangan pekerjaan dengan pendidikan. Banyak perusahaan mengeluh kesulitan mengisi lowongan kerja dengan pekerja yang terampil. Sementara itu, ada sektor-sektor tertentu yang melaporkan bahwa mereka tidak memiliki jumlah lulusan pendidikan yang cukup.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi juga akan memerlukan infrastruktur yang lebih baik. Selama satu dekade terakhir, total investasi infrastruktur Indonesia berada pada tingkat 3-4 persen PDB. Angka ini berada jauh di bawah 7% dari PDB sebelum krisis keuangan Asia pada tahun 1997, juga di bawah Cina (10%) dan India (7.5%).

Zaldy Mista, Kepala Asosiasi Logistik Indonesia, mengangkat salah satu hambatan besar di Tanjung Priok, pelabuhan yang menangani dua-pertiga perdagangan internasional Indonesia.

“Empat atau lima tahun yang lalu, sebuah truk dari Cikarang ke Tanjung Priok bisa melakukan  tiga perjalanan dalam satu hari. Sekarang, hanya sekitar satu kali perjalanan,” kata Zaldy.

Menghindari perangkap negara berpenghasilan menengah

Meskipun banyak tantangan, Indonesia memiliki potensi untuk keluar dari perangkap negara berpenghasilan menengah. Sebuah kajian Bank Dunia menjelaskan bagaimana Indonesia bisa naik menjadi negara berpenghasilan tinggi dalam dua dekade, dan mencapainya dengan kesejahteraan yang lebih merata, melalui reformasi di enam bidang penting:

  • menutup kekurangan dalam bidang infrastruktur
  • menututup kekurangan dalam bidang keterampilan
  • membangun pasar yang berfungsi dengan baik
  • tersedianya layanan umum yang bermutu bagi semua
  • meningkatkan perlindungan sosial
  • manajemen risiko bencana alam.

“Bila tidak ada reformasi penting, Indonesia akan sulit naik, seperti halnya Brazil, Mexico, Afrika Selatan, dan beberapa negara berpenghasilan menengah lain pada awal 1980an hingga pertangahan tahun 2000,” kata Ndiame Diop, ekonom utama Bank Dunia di Indonesia yang memimpin pembuatan kajian tersebut.

Indonesia beruntung memiliki beberapa pilihan untuk mendanai reformasi tersebut tanpa harus mengganggu kondisi fiskal jangka panjang. Pilihan-pilihan tersebut termasuk mengurangi subsidi bahan bakar, serta memberlakukan belanja yang lebih efisien di tingkat pemerintah pusat dan daerah.

Tantangan utama adalah menerapkan reformasi tersebut dalam pemerintahan yang kompleks dan terdesentralisasi. Bila gagal, akan membawa kerugian sangat besar. Namun sebaliknya, tindakan yang tepat juga akan membawa kesejahteraan tinggi.