Halaman ini dalam:

ARTIKEL

Triwulanan Perekonomian Indonesia: Investasi tidak menentu

18 Maret 2014

  • Kuartal keempat tahun 2013 menunjukkan tanda-tanda yang baik terkait dengan penyeimbangan kembali ekonomi Indonesia sebagai tanggapan dari penyesuaian kebijakan moneter dan kurs tukar yang lalu, yang bersifat positif bagi stabilitas ekonomi makro. Laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan umumnya relatif tidak berubah, pada 5,7 persen tahun-ke-tahun, namun komposisi pertumbuhan lebih condong kepada ekspor bersih sementara investasi tetap masih tidak menguat.
  • Defisit neraca berjalan Indonesia mencatat penurunan tajam pada kuartal keempat tahun 2013, yang mencerminkan perubahan-perubahan tersebut, serta didukung oleh stabilisasi kondisi perdagangan dan peningkatan sementara dalam ekspor mineral sebelum berlakunya pelarangan pada bulan Januari. Hal itu telah mendukung pasar keuangan Indonesia dan kurs Rupiah, yang telah meningkat sekitar 7 persen sepanjang tahun 2014.
  • Investasi tetap telah mengalami moderasi yang signifikan dan kini melemah sesuai dengan standar pada beberapa tahun terakhir. Hal ini telah mendorong sebagian besar penyesuaian neraca luar negeri. Perkembangannya ke depan akan menjadi hal yang sangat penting bagi prospek pertumbuhan.
  • Pertumbuhan PDBdiperkirakan akan mengalami sedikit moderasi lanjutan untuk tahun 2014, menjadi 5,3 persen tahun-ke-tahun, suatu angka yang masih kokoh, pada kasus dasar (base case), dengan permintaan investasi dan konsumsi yang menghadapi kendala akibat pengaruh berkelanjutan dari penerimaan dan keuntungan dari harga-harga komoditas yang melemah, lebih ketatnya kredit, lebih tingginya biaya impor dalam Rupiah (semua dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir) dan ketidakpastian peraturan.
  • Kebutuhan pembiayaan bruto Indonesia dari luar negeri masih tetap signifikan, dan terdapat kebutuhan untuk mendukung investasi asing langsung, yang merupakan kontributor penting bagi investasi serta sumber valuta asing, yang telah bertahan kuat secara umum namun menunjukkan sejumlah tanda-tanda mendatar.
    Investasi portofolio mencatat permulaan yang kuat memasuki tahun 2014, namun bisa mengalami gejolak.
  • Sektor fiskal menghadapi tekanan dari melambatnya pertumbuhan pendapatan dan tingginya belanja subsidi energi, yang secara bersama-sama dapat mendorong peningkatan defisit fiskal tahun 2014 menjadi 2,6 persen dari PDB bila tidak ada reformasi lanjutan yang dibutuhkan untuk memperluas sumber pendapatan dan membatasi biaya subsidi BBM.
  • Bank Dunia memperkirakan bahwa kebijakan pelarangan ekspor mineral sesuai aturan yang berlaku akan menurunkan neraca perdagangan bersih sebesar $US12,5 miliar dan menyebabkan hilangnya $US6,5 miliar dalam pendapatan fiskal (termasuk royalti, pajak ekspor dan pajak penghasilan badan) untuk periode tahun 2014-17, termasuk beban sebesar $US5,5 miliar hingga 6,5 miliar terhadap neraca perdagangan pada tahun 2014. Walau tarafnya masih belum pasti, dampak negatif dari pelarangan ini, seiring dengan masalah ekonomi yang lebih luas yang timbul akibat kebijakan itu, menunjukkan perlunya upaya untuk mengevaluasi pilihan-pilihan kebijakan yang lebih luas guna memastikan bahwa Indonesia dapat menikmati manfaat semaksimal mungkin kekayaan mineralnya yang besar secara berkelanjutan, baik dari aspek sosial maupun lingkungan hidup.
  • Laporan Bank Dunia yang akan datang, “Indonesia: Avoiding the Trap” menyatakan bahwa Indonesia dapat mencapai kesejahteraan bersama, melalui pertumbuhan ekonomi pesat yang didorong oleh produktivitas serta inklusivitas, namun harus disertai dengan kemajuan dalam reformasi struktural utama dan implementasinya.
  • Karena terus mengalami urbanisasi yang cepat, Indonesia menghadapi tantangan dalam meminimalkan risiko-risiko bencana perkotaan dan perubahan iklim, suatu hal yang dapat terbantu dengan penerapan diagnostik risiko secara cepat.