Halaman ini dalam:

ARTIKEL

Potret Perempuan Berdaya di Asia Selatan: Pembelajaran untuk Indonesia

10 Desember 2013

PESAN UTAMA
  • Delegasi pemerintah Indonesia mengunjungi program pembangunan berbasis masyarakat di India dan Nepal untuk meningkatkan program pengentasan kemiskinan.
  • Misi pertukaran pengetahuan memperlihatkan bagaimana dengan dukungan yang baik perempuan bisa berperan dalam memperluas peluang ekonomi bagi keluarga mereka.
  • Program yang didukung Bank Dunia di Indonesia dan Asia Selatan terus berupaya meningkatkan pembangunan berbasis masyarakat untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan.

Tamil Nadu, INDIA – Sekelompok perempuan di sebuah desa di Tamil Nadu, selatan India, ramai-ramai melukis kumpulan garis dan lengkungan di atas tanah dengan beras berwarna-warni dan taburan kapur. Mereka bekerjasama menyelesaikan lukisan yang dikenal dengan sebutan ‘kolam’ yang merupakan sebuah simbol kesejahteraan. Kegiatan melukis ini biasanya dilakukan dengan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun kali ini, mereka melukis untuk alasan yang berbeda. Mereka menunjukkan proses identifikasi kegiatan pembangunan yang dilakukan secara partisipatif, yang diterapkan dalam program Pudhu Vaazhu. Program ini adalah program pembangunan berbasis masyarakat di wilayah mereka.

Pertukaran Pengetahuan Selatan-selatan

Pada September 2013, delegasi pemerintah Indonesia melakukan kunjungan studi ke berbagai tempat di Asia Selatan. Perjalanan ini bertujuan melihat bagaimana pembangunan berbasis masyarakat dapat memperkuat akses keuangan dan matapencaharian masyarakat. Di India, delegasi pemerintah Indonesia mengunjungi program Pudhu Vaazhu di Tamil Nadu, program Jeevika di Bihar, dan program Indira Kranthi Patham di Andhra Pradesh.  Di Nepal, mereka mengunjungi Poverty Alleviation Fund atau Dana Penanggulangan Kemiskinan.

Keempat program tersebut bertujuan memberdayakan masyarakat, dengan perempuan sebagai sasaran utama, agar perempuan bisa berpartisipasi secara aktif memperbaiki sumber pendapatan dan ekonomi keluarga melalui organisasi masyarakat.

Kunjungan studi pemerintah Indonesia ini difasilitasi oleh South South Exchange Facility dari Bank Dunia dan Canada’s Development Agency (CIDA). Dalam kunjungan ini, delegasi Indonesia melihat bagaimana program tersebut membantu keluarga termiskin untuk membentuk kelompok swadaya dan memperluas cakupan kegiatan mereka sehingga lebih banyak masyarakat terlibat.

“Sangat menarik untuk mempelajari bagaimana program ini berangkat dari penguatan lembaga masyarakat yang sangat mikro, yaitu kelompok perempuan yang disebut sebagai self-help group. Kemudian secara perlahan membentuk dan menguatkan lembaga-lembaga masyarakat yang dikembangkan secara organik ke jenjang yang lebih tinggi,” ucap Pamuji Lestari, Asisten Deputi Menko Kesra urusan Pemberdayaan Masyarakat.

Pemberdayaan Keuangan dan Sumber Pendapatan Masyarakat

Kesuksesan program sangat tergantung pada kemampuan dalam membidik masyarakat termiskin dan terpinggirkan yang juga merupakan target kegiatan pembangunan di Indonesia. Faktor penting lainnya adalah kemampuan mereka mengorganisir masyarakat untuk membentuk kelompok-kelompok secara organik dan kemudian membekali mereka dengan keterampilan dan sumberdaya. Program menyediakan pendamping untuk membantu penguatan kelompok tersebut. Program juga melatih kader desa untuk memfasilitasi dan mendorong para perempuan untuk menabung secara teratur dan melakukan kegiatan simpan-pinjam uang antar anggota kelompok mereka.

Ketika kelompok masyarakat ini telah tumbuh matang, mereka didorong untuk membentuk organisasi di tingkat desa.  Mereka juga menerima dana awal dari program untuk memulai kegiatan pinjaman kepada para anggota. Mereka kemudian dibantu untuk membentuk kemitraan formal dengan bank lokal di daerah sehingga mereka memiliki akses kredit dan dapat lebih berkembang.

Bank lokal tidak menuntut jaminan fisik maupun uang dari kelompok perempuan ini. Bank lebih mempertimbangkan laporan berkala yang menunjukkan perputaran dana, hasil rapat bulanan, dan kemajuan usaha anggota kelompok. Di sini, kekuatan laporan kelompok tersebut dianggap sebagai jaminan.

Terakhir, perwakilan komunitas membantu kelompok perempuan untuk mengidentifikasikan kegiatan apa saja yang menjadi prioritas mereka. Kegiatan tersebut bisa berupa usaha untuk meningkatkan sumber pendapatan keluarga atau inisiatif kelompok yang membuka lapangan kerja.

Pemberdayaan Sosial

Kelompok-kelompok perempuan ini juga membantu masyarakat mengatasi penyakit sosial seperti ketergantungan judi dan minuman keras di desa mereka. Tergabungnya mereka dalam kelompok juga membuka banyak peluang bagi mereka.

“Sejak mengikuti kelompok ini, kami dapat memperbaiki kehidupan keluarga kami.  Kami belajar membaca dan menulis sehingga bisa membantu anak-anak kami belajar. Sekarang kami memiliki suara dalam kegiatan pembangunan untuk menjadikan desa kami lebih baik,” ucap Sabrina Katun, ketua federasi desa di Desa Seema. 

Beberapa program pembangunan berbasis masyarakat mengikutsertakan para penyandang cacat. Di Tamil Nadu, delegasi Indonesia bertemu dengan seorang tuna netra bernama Jayanthi.  Sebelum mengikuti program, Jayanthi tidak berharap banyak untuk memperbaiki matapencahariannya. Setelah mengikuti pelatihan yang difasilitasi oleh program pembangunan tersebut, dan menyelesaikan gelar S2, Jayanthi kini adalah seorang pelatih profesional di tingkat kabupaten.

“Saya tidak dapat melihat sejak lahir dan hidup di desa terpencil.  Kini saya berdiri di sini, berbicara di hadapan anda semua.  Mimpi saya adalah untuk menemukan lebih banyak orang-orang seperti saya agar mereka dapat keluar dari kemiskinan dan agar mereka dapat memiliki harapan baru,” ujar Jayanthi.

Pembelajaran untuk Indonesia

Berbagai temuan dari kunjungan ini dapat dijadikan catatan penting bagi Pemerintah Indonesia dalam menyusun rancangan program penghidupan ekonomi berbasis masyarakat di Indonesia yang dikenal dengan sebutan PNPM Mandiri

Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Miskin, Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Bappenas, menyatakan bahwa pembangunan berbasis masyarakat akan menjadi salah satu landasan utama pemerintah Indonesia dalam menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan sumber pendapatan masyarakat Indonesia. Kegiatan kunjungan ke tempat-tempat seperti India ini juga memberikan masukan bermanfaat bagi penyusunan strategi pembangunan yang tepat.

Segala pembelajaran ini ,menjadikan lukisan ‘kolam’ sebagai bagian dari keseharian mereka ini memiliki segala alasan untuk terus terukir, seiring semangat untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.