Halaman ini dalam:

ARTIKEL

Laporan Triwulanan Ekonomi Indonesia: Menjaga Ketahanan

15 Oktober 2012

Di tengah ekonomi global yang melemah, pertumbuhan Indonesia tetap kokoh namun harus tetap menyiapkan diri dari kondisi ekonomi yang semakin memburuk.


  • Kinerja pertumbuhan Indonesia tetap kuat dalam menghadapi pelemahan ekonomi global tetapi, dengan risiko tetap tinggi, ketahanan ekonomi terhadap goncangan di masa depan dapat lebih diperkuat dengan terus fokus pada kesiagaan krisis, pada perbaikan iklim investasi, dan peningkatan kualitas belanja publik
  • Ekonomi global telah melemah dan outlook tetap tidak pasti
  • Namun, meskipun adanya tantangan kondisi eksternal, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejauh ini terbukti kuat. Pertumbuhan PDB pada kuartal kedua tahun 2012 adalah 6,4 persen tahun-ke-tahun, naik sedikit dari 6,3 persen pada kuartal pertama. Kuatnya permintaan konsumsi dan investasi memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan.
  • Namun, Indonesia mulai merasakan perlemahan lingkungan global. Ekspor netto merupakan hambatan utama terhadap laju pertumbuhan pada kuartal kedua dan defisit transaksi neraca berjalan melebar. Nilai ekspor bulanan juga terus melemah tetapi beberapa tekanan pada neraca perdagangan mungkin merupakan koreksi diri (self correction) karena permintaan untuk barang antara dan barang modal yang digunakan sebagai input untuk produksi ekspor juga turun.
  • Ekuitas domestik menguat pada kuartal ketiga dan Indonesia menarik investasi portofolio yang cukup besar, membantu Bank Indonesia untuk membangun kembali cadangan devisa. Rupiah sedikit melemah lebih lanjut terhadap dolar. Hal ini dapat memfasilitasi penyesuaian berkelanjutan neraca eksternal Indonesia
  • Beberapa indikator domestik terakhir memberikan gambaran beragam, dengan pertumbuhan kredit tetap kuat, tetapi beberapa data mengarah kepada perlambatan permintaan domestik
  • Proyeksi Bank Dunia untuk pertumbuhan PDB Indonesia pada tahun 2012 adalah 6,1 persen (naik 0,1 poin persentase dari proyeksi Triwulanan edisi Juli, karena pertumbuhan yang kuat terlihat pada paruh pertama tahun 2012) dan 6,3 persen pertumbuhan PDB pada 2013.
  • Risiko terhadap outlook tetap tinggi akibat ketidakpastian internasional yang sedang berlangsung, termasuk tingkat dan dampak dari perlambatan ekonomi China, resesi yang sedang berlangsung di Kawasan Eropa, dan tantangan fiskal Amerika Serikat. Jika resiko-resiko ini meningkat, tingkat pertumbuhan Indonesia bisa menjadi jauh lebih lambat
  • Mengingat risiko yang tetap ada dan peningkatan ketidakpastian global, Indonesia dan negara berkembang lainnya perlu mempersiapkan kemungkinan perlemahan ekonomi yang lebih lanjut dan kondisi pasar keuangan yang rapuh. Indonesia harus terus membangun kemajuan sudah dicapai dalam membuat ekonomi lebih tahan terhadap guncangan, dan mengangkat laju pertumbuhan berkelanjutan. Meningkatkan kualitas belanja menjadi sangat penting, dengan subsidi energi masih cukup besar terhadap pengeluaran pemerintah. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian global dan sentimen investor yang rapuh, mempertahankan kerangka kebijakan reformasi yang konsisten juga akan menjadi penting, terutama dalam menghadapi pemilu 2014 yang sudah mendekati.

Selain menampilkan pembaruan ekonomi dan outlook, Triwulanan Perekonomian Indonesia edisi ini meliputi analisa khusus dari tren ekspor manufaktur Indonesia, dan gambaran terhadap Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2013. Edisi ini juga mencakup analisis Undang-Undang Pendidikan Tinggi yang baru disetujui dan melihat tren terakhir terhadap belanja pegawai pemerintah